Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 86


__ADS_3

" Kau sedang bercanda kan Arfi, atau Hana yang anak tirinya ya." ucap mahasiswa itu.


" Yang anak tirinya itu Gina, Hana la anak kandungnya begitu juga dengan presiden mahasiswa kita." jelas Arfi dan mengagetkan seisi kelas.


Ini sulit di percaya, seorang Hana yang selalu berpenampilan sederhana ternyata adalah anak dari pengusaha besar." ucapnya yang tidak percaya.


" Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa tanya langsung ke Hana." ucap Arfi.


" Hana, yang dikatakan oleh Arfi itu benar?" tanya mahasiswa itu yang penasaran.


" Yang dikatakan oleh Arfi memang benar." jelasnya dengan tersenyum.


" Lalu, kenapa kau nggak pernah cerita?" tanya mahasiswa itu penasaran.


" Ya karena bagiku, itu semua adalah hal pribadi. Dan menurutku juga, nggak ada gunanya juga kalian mengetahui siapa sebenarnya aku." jawabnya.


" Hana, hal itu sangat penting. Karena pastinya kami akan menghormati mu, bukan seperti saat ini, banyak dari kami yang bahkan tidak perduli dengan keberadaan mu." jelas mahasiswi itu.


" Jujur kami merasa di tipu." ucap yang lainnya.


" Jangan bilang selama ini kalian sangat perduli dengannya karena status ayahku." tebaknya dan semuanya pun mengangguk.


Sontak saja Hana menjadi kaget, dan ia pun menjadi penasaran dengan status ayahnya. Akhirnya ia pun mengetik nama ayahnya di handphonenya, alangkah kagetnya ia ketika melihat artikel yang tertulis. Kini semuanya pun memperhatikan wajah kaget Hana, dan mereka pun mencurigai kalau Hana tidak mengetahui status sosial ayahnya.


" Jangan bilang kau nggak tau status sosial ayahmu." tebak salah seorang mahasiswi, dan Hana tidak menjawab. Ia hanya tertawa saja, kini semuanya menjadi sangat kaget.


" Memang aku nggak tau." jawabnya dengan menggelengkan kepalanya.


" Astaghfirullah, masih ada orang yang nggak perduli dengan status sosial rupanya." ucap seorang mahasiswa dengan menepuk jidatnya.


 Memangnya status sosial itu penting ya, menurutku semuanya sama saja." jelasnya dengan tersenyum.


" Astaghfirullah, masih ada orang kayak gini rupanya." ucap mahasiswa itu.


" Ya begitulah dia." ucap Arfi.

__ADS_1


" Kalau uda begini, kita semua yang salah. Karena kita mengakui orang yang salah, sebab orang yang asli ada di sini." jelas mahasiswa itu dan seisi kelas pun mengangguk.


" Kami minta maaf ya." ucap semuanya serentak.


" Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu." ucap Hana dengan tersenyum.


" Terimakasih Hana." teriak semuanya serentak.


Tiba-tiba kini ada yang datang, dosen itu menatap tajam ke arah mahasiswa dan mahasiswinya yang berkumpul di dekat meja Hana.


" Apa yang kalian lakukan." bentak dosen itu, dan mereka semua pun langsung bubar.


" Bagaimana dengan tugas yang saya berikan?" tanya lagi.


Tidak ada satupun yang menjawab, mereka semua hanya menunduk saja. Kini dosen itu diselimuti amarah karena tidak ada satu pun mahasiswanya yang sudah menyelesaikan tugas yang ia berikan.


" Kalian semua keterlaluan." bentaknya dan semuanya pun menunduk.


Kini Hana langsung maju ke depan untuk memberikan tugas yang sudah ia selesaikan, dosen itu kini tersenyum. Karena masih ada mahasiswanya yang mau mengerjakan tugas, bukan hanya banyak omong. Dosen itu pun segera memeriksa tugas Hana, kini ia menjadi bahagia karena semua jawaban benar.


" Sebel banget sama dosen itu, kerjasamanya ngasih tugas. Tapi nggak pernah di jelaskan." ucap salah seorang mahasiswa yang kesal.


" Sudahlah, untungnya ada Hana yang selalu bisa membantu kita. Hehehe, ya kan Hana?" ucapnya dengan tertawa.


" Kalian ini, selalu saja Hana yang kalian andalkan. Tapi kenapa kalau si Gina menghujat Hana, kalian juga ikutan menghujat." ucap Arfi dengan menggelengkan kepalanya.


Semuanya terdiam mendengar ucapan Arfi, tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab. Mereka tau kalau mereka sudah sangat bersalah kepada Hana, tetapi mereka sangat takut dengan Gina waktu itu. Kini mereka sudah mengetahui semuanya, dan mereka sudah tidak ingin berpihak kepada Gina. Karena bagi mereka, Gina saat ini sudah tidak berguna lagi.


" Sudahlah Arfi, sekarang kita lanjut belajar aja. Kita bahas hal itu di kemudian hari." ucap Hana dengan tersenyum.


" Oke." jawabnya kemudian langsung kembali ke tempat duduknya.


Mereka semua mengerjakan tugas dengan semaksimal mungkin, ketika mereka tidak tau. Mereka akan pergi ke tempat Hana untuk bertanya, begitu seterusnya hingga jam pembelajaran pun selesai. Kini semaunya segera berhambur keluar dari ruangan kelas.


Hari ini Arfi hanya berdua saja dengan Hana, karena hari ini Dafa tidak hadir. Ia saat ini sedang ada urusan keluarga, lebih tepatnya sedang berada di rumah sang nenek. Tadi pagi nenek Dafa tiba-tiba saja menelpon, dan meminta mereka sekeluarga untuk datang ke Sukabumi.

__ADS_1


Arfi terus saja memperhatikan Hana, ia sudah diberi tanggungjawab untuk menjaga Hana. Baik dari mamanya ataupun dari sahabatnya, baginya Hana adalah gadis yang baik dan kuat. Kecantikannya di wajahnya membuat ia selalu dikagumi oleh banyak kau adam, tetapi ia tidak pernah berpaling karena ia sudah memiliki Dafa di dalam hidupnya.


Semua karakter Hana, Arfi sangat suka. Jika bukan karena Hana adalah pacar dari sahabatnya, mungkin saja Arfi juga sudah menjadi pengagum Hana. Gadis yang tidak hanya baik dari fisiknya ini, selalu saja membuat Arfi berdebar.


Kini keduanya sedang duduk di kantin, mereka sedang menunggu makanan pesanan mereka. Semua sorot mata tertuju kepada Hana, hal itu di sebabkan oleh berita jatidiri Hana yang tersebar. Kini semangkin banyak kaum adam yang takjub kepadanya, karena selama ini ia tidak pernah memberi tau siapa jatidirinya. Dan bahkan ia tetap dia saja ketika ada orang yang berpura-pura menjadi dirinya, ia tetap dalam kepribadian yang sederhana miliknya.


" Hai Hana." ucap seseorang yang baru saja datang.


" Hai juga, tapi siapa ya?" tanyanya dengan selembut mungkin.


" Aku Kalisa, sahabatnya Intan." ucapnya.


" Oh, ternyata sahabatnya Intan. Aku jadi penasaran deh dengan Intan." ucapnya yang membuat Arfi bingung.


" Siapa itu Intan?" tanyanya yang memang tidak mengenalnya.


" Intan itu pacarnya kak Wildan, tetapi aku belum pernah bertemu langsung dengannya." jelas Hana.


" Kalau begitu, Intan ini calon kakak ipar mu ya?" tanyanya yang spontan.


" Ya begitulah, hehehe." jawabnya dengan tertawa.


" Terus ada apa kau mencari Hana?" tanya Arfi yang penasaran.


" Aku hanya ingin menyampaikan ini." ucapnya dengan dengan memberikan sesuatu, kemudian langsung pergi.


" Eh tunggu, ini apa?" teriak Hana.


" Sudahlah, lebih baik kita lihat bersama-sama." ucap Arfi dan di angguki oleh Hana.


Mereka pun segera membuka barang tersebut, dan ternyata di dalamnya ada sebuah boneka dan juga sepucuk surat.


" Ada boneka dan surat." ucapnya dengan memandang Arfi.


" Kalau begitu, baca saja suratnya. Siapa tau kita bisa dapat petunjuk tentang tentang ini." ucapnya dan Hana pun mengangguk.

__ADS_1


# ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.


__ADS_2