
di sebuah rumah sakit, Herwan yang sudah mendapatkan perawatan, beberapa peralatan medis sudah menempel di beberapa bagian tubuhnya,
Dewi dan Desi hanya bisa melihat dari luar ruangan, dengan wajah yang senduh,
"ayah, maafkan Dewi, semua ini karena Dewi sudah terlalu mempercayai Vito, Dewi tak tau kalau akhirnya akan seperti ini"cicitnya dengan cairan bening mengalir deras di pipinya,
Desi yang mendengar keluhan sang putri, menghampiri dan merangkulnya dengan lembut,
"sayang kamu tidak boleh seperti itu,yang terjadi biarlah terjadi,kita hanya perlu memikirkan langkah kedepannya, bagaimana cara kita bisa keluar dari masalah ini, bunda yakin Vito hanya menguasai perusahaan ayah,tapi ayah masih punya saham di beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan ayah"tutur Desi,
Dewi mulai memahami arah pembicaraan bundanya,
"bun,Dewi ingin keluar sebentar, bunda jaga ayah di sini"dengan tangan mungil menghapus jejak air mata yang tersisa di pipinya,
"kamu mau kemana sayang"tanya Desi kuatir,
"Dewi mau cari makan buat bunda"timpalnya
"ya, udah kamu hati-hati sayang"balas Desi dengan senyum yang seolah kuat dengan keadaan,
Dewi melangkah keluar rumah sakit, tujuannya sekarang untuk menemani laki-laki yang pernah mengisi hatinya dengan kepercayaan yang penuh,
di sebuah rumah yang cukup luas,
Dewi memarkirkan mobilnya di pinggir jalan ia mulai bercakap dengan satpam yang menjaga gerbang rumah Vito,
"pak apa Vito ada"tanyanya
"maaf non,pak Vito tidak pulang dari kemaren"balas satpam tersebut,
"emm,biasa kalau Vito tidak pulang beliau nginap atau gimana pak"tanyanya lagi,
"biasanya pak Vito menginap di hotel ternama di kota ini"balas satpam itu lagi,
__ADS_1
"oh, terimakasih ya pak"sebuah senyuman terbit di wajah cantik Dewi karena menghargai orang yang lebih tua darinya,
"ya non"balas pak satpam yang mengagumi sosok gadis cantik dan manis itu,
Dewi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, mobil itu melaju kencang dari beberapa kendaraan lainnya, ia menuju perhotelan yang terkenal dan ramai pengunjung itu,
setelah sampai di sana Dewi masuk terburu-buru,namun siapa sangka matanya sudah menangkap sosok yang ia cari-cari,
Vito dengan santai makan berdua dengan seorang wanita, dengan canda tawa yang teramat bahagia,
dengan jari tangan yang saling menggenggam,
"jadi ini Waja asli si rubah di balik topeng yang baik dan polos itu"ucap Dewi tanpa basa-basi setelah menghampiri vito,
"siapa yang kamu maksud"balas Vito dengan senyum mengejek,
"tak usah berpura-pura baik lagi di depanku brengsek, sekarang capat kembalikan semua yang bukan hak mu"Dewi mulai tersorot emosi,
"Dewi, Dewi, kalian itu memang bodoh,ambil sendiri jika kamu mampu,ini belum seberapa Dewi,baru permulaan,aku akan membuat keluarga mu lebih hancur dari ini"ucap Vito lantang,
laki-laki itu mengepalkan tangannya,
ia memegang tangan Dewi dengan erat, melemparnya dengan kuat, membuat wanita cantik itu terpental ke lantai,rasa sakit bercampur menjadi satu dengan hatinya yang terluka,Dewi terisak-isak dengan tangisnya,
tentunya kegaduhan yang terjadi, menjadi pusat perhatian parah pengunjung lainnya,
sang manajer datang dengan beberapa satpam yang mengikutinya,
"siapa yang berani membuat keributan di sini"tanya manajer yang baru datang,
"dia pak, wanita yang datang membuat keributan di sini"ucap vito,
"nona, mohon untuk tidak"namun sangat manajer menghentikan kalimatnya setelah melihat wajah Dewi,
__ADS_1
"nona,apa anda tidak apa-apa"sambung sang manajer sembari membangkitkan Dewi yang meringkuk di lantai,
"tidak pak, terimakasih"ucap Dewi
"hey satpam cepat usir perempuan yang membuat kegaduhan itu dari sini,,!"Vito heran karena sang manajer malahan membantu Dewi,
perkataan Vito barusan, bak belati yang tajam mengiris hati Dewi hingga berkeping keping, lelaki yang ia kenal dengan kelembutannya sekarang menampakan dirinya setelah sekian lama bersembunyi,
rasanya sakit dan pedih, dadanya sesak seakan sulit untuk bernafas, mengingat semua kenangan manis yang berakhir bak empedu,
namun apa daya,semuanya sudah ia telan meskipun ia paksa untuk keluar semuanya sudah ia rasakan dan akan menjadi sia-sia,
manajer menghampiri Vito,
"kamu tau,,! berurusan dengan siapa sudah berani menyakitinya,,!"tanya manajer mengintimidasi Vito,
"hahaha,saya tidak pernah takut dengan siapapun yang bersangkutan dengannya,apa lagi sekarang ia bukan siapa-siapa, hanya butiran debu yang memimpikan Kilauan berlian"ejek Vito,
"cukup,,,"emosi Dewi kembali memuncak mendengar hinaan Vito untuknya,
"aku cukup lebih baik dari mu, apa anda cukup baik setelah merampas hak orang lain dengan cara yang keji dan licik, bukankah dengan itu anda lebih kotor dari butiran debu itu"ucapnya lantang,
Vito yang merasa di hina dan di permalukan menampar Dewi, sebagai laki-laki tamparan itu cukup keras untuk Dewi hingga meninggalkan gambaran tangan yang jelas di pipinya, sudut bibirnya mengeluarkan darah,
perempuan yang cantik itu sudah terlihat acak-acakan dan tak berdaya,,
seketika suara riuh semua karyawan terdengar,
ada seseorang yang baru saja datang,
pak manajer sudah mengigil ketakutan yang amat besar,
memikirkan nasibnya yang akan datang,,,,,
__ADS_1
"ada apa ini,,,,?"ucap pria itu.
bersambung,,,,