
di sebuah perusahaan mencakar langit tersebut,Leon melihat agendanya hari ini, cukup padat membuatnya harus bekerja ekstra,
"bos,pagi ini kita ada meeting bersama Angga, menyangkut kerjasama yang telah kita janjikan,,"jelas Arya.
"ehmm,,"timpal lon singkat.
"Oya,apa Vito akan ikut juga,,"tanyanya setelah melihat Arya akan keluar ruangannya.
"Iya,aku merasa kali ini mereka akan merencanakan sesuatu yang besar,,"timpal Arya.
"kau takut,,"tanya Leon sembari memicingkan matanya.
"sittt, takut tidak ada dalam kamus ku,,!"jawab Arya.
"sayang sekali,tidak ada dalam kamus,jika menyangkut pekerjaan,tapi tidak untuk memulai sesuatu yang baru,,"ejek Leon.
mata Arya memerah,andai saja orang didepannya ini bukan Leon,akan di pastikan orang tersebut babak-belur tak tersisa.
"aku masih belum memikirkan itu,,"jawaban dengan nada rendah.
Leon mengangguk mendengar penuturan Arya, sifat dingin antara bos dan sekertaris tersebut bukan tidak beralasan, mereka memiliki alasan sendiri-sendiri atas semua itu,
Angga dan Vito, sudah ada di depan gedung raksasa yang menjadi incaran mereka,menatap kagum dengan apa yang mereka lihat,
mereka masuk di lobby utama, pemandangan yang pertama mereka lihat adalah kebersihan dan kerapian di gedung yang sangat besar itu, seperti sangat terjaga,tidak ada satu debu pun yang menempel,
semua karyawan yang bekerja,tidak satupun yang memakai rok minim seperti yang mereka lihat di perusaan lain,
sungguh mereka memasuki kalangan yang elite yang tiada tandingannya,
"pagi tuan,,,tuan tuan silakan menuju lantai dua puluh, sekertaris Arya sudah menunggu,,"ucap salah satu karyawan yang melihat dua orang ini celingukan mencari sesuatu,
"O-ya terimakasih,,"Angga dan Vito menyusuri koridor perusahaan yang luas, setelah mendapati lift mereka masuk menekan lantai dua puluh.
__ADS_1
"mari ikut saya,,"ucap Arya yang menanti mereka di depan lift.
"yang benar saja,"gumam Angga,ia merasa seperti sedang di awasi.
"silakan duduk,!,selamat datang di perusaan kami,,"ucap Arya.
Disan sudah ada beberapa orang penting yang akan menghadiri meeting, hanya saja CEO perusahaan belum menampakkan batang hidungnya,
setelah beberapa saat, dari dalam ruangan mereka yang transparan jelas melihat Leon melangkah gagah menuju ruangan dengan beberapa yang mengekor di belakangnya,
semua yang ada di sana berdiri untuk menyambut bos mereka,
Angga dan Vito yang melihat itu mau tidak mau harus mengikuti mereka,
"selamat datang bos,,"sapa mereka serentak,
hening...
Leon menatap dingin Vito dan Angga,ia menginat semua hinaannya Vito ketika tak sengaja bertemu di Singapore,
aku akan tunjukkan siap diriku dan dirimu di sini Vito,permainan kalian sedikit akan aku ladeni,,
batinnya,
Arya membuka meeting yang akan mereka jalankan segera,
menjelaskan secara detail tentang kerjasama yang akan mereka jalankan,
"sesuai dengan perjanjian,perusaan ini akan menanamkan saham di perusaan pak Angga juga beberapa perusahaan yang bersangkutan,"ucap Arya.
Angga yang mendengar hal tersebut tersenyum menang,ia sudah tidak sabar menjadi orang sukses,
"pak Angga,apa ada yang ingin anda rekomendasikan,ide-ide kedepannya menyangkut hal kerjasama kita,,?"tanya Arya, sementara Leon hanya mendengar dan menyimak hal-hal yang disampaikan Arya,
__ADS_1
Angga menyampaikan semua unek- unek yang ada di dalam pikirannya,akan bersikap adil dalam membagi keuntungan kerjasama mereka.
"bagaimana bos,,ada yang ingin anda sampaikan,,?"tanya Arya.
Leon yang diberikan kesempatan langsung buka suara,
"pak Angga betul, menurut persdur yang berlaku di perusaan saya,memang membutuhkan keadilan, apalagi masalah pembagian keuntungan atas kesuksesan kerjasama, siapa yang memiliki saham terbesar maka dia yang akan menerima keuntungan yang paling besar, bukankah begitu pak Angga,,?"tanya Leon.
sitt, perhitungan sekali,
batin Angga.
"i-iya pak Leon,,"jawab Angga terbata.
"pak Angga silakan membaca surat perjanjian kerjasama dengan seksama, semuanya sudah tertera jelas di sana,jika ada yang memberatkan hati, kalian boleh protes,"Arya memberikan surat kontrak kerjasama mereka,
Angga dan Vito mulai membolak-balik surat perjanjiannya,Vito yang sedari tadi hanya diam memperhatikan sekarang ia ikut menyaksikan perjanjian-perjanjian yang tertera,
Angga menatap curiga dengan denda yang tertera di kertas putih tersebut, mengapa bisa denda yang di sangsihkan nominalnya begitu kecil,ia merasa perusahaan besar ini mempermainkan kerjasama mereka, dengan denda yang kecil,bisa saja ia membatalkan kerjasama mereka,
"maaf pak Arya,apa denda pembatalan kerjasama ini nominalnya tidak terlalu kecil,jadi kemungkinan siapa saja bisa keluar jika denda yang dicantumkan hanya seperti ini,,"protes Angga.
mendengar itu Leon hanya tersenyum simpul,
lalu Arya mengeluarkan kembali surat yang sama persis hanya saja nominal denda di sana belum tertera,
"sesuai keinginan pak Angga,silakan pak Angga dan rekan pak Angga bernegosiasi langsung untuk dendanya,kami akan menyetujuinya,"Arya menyerahkan surat tersebut.
kalian kira aku bodoh,dengan denda yang tidak seberapa bagi perusaan kalian,tentu mempermudah kalian untuk membatalkan kontrak kerjasama ini,,
Angga membatin sembari mengisi nominal denda yang fantastis .
bersambung....
__ADS_1