
"jadi sedari tadi Leon melihat dirinya, perasaan Leon tidak sedikitpun menoleh ke arah dimana dirinya berada,"gumam Herwan.
setelah sampai di depan pintu,
Arya mengetuk ruang yang bertuliskan CEO tersebut,dengan Herwan yang berada di belakangnya,
setelah pintunya terbuka Arya mempersilahkan Herwan masuk menemui Leon,
"selamat datang di perusahaan ku ayah,, maaf tadi Leon tidak bisa menyambut ayah dengan baik,,"ucap Leon yang tengah duduk di kursinya kebesarannya,
"tak apa pak Leon, Oya ayah datang untuk meminta pekerjaan di perusaan pak Leon maaf sekali lagi merepotkan nak Leon,,"ucapan Herwan bingung sendiri atas panggilan yang ia buat,
"tidak sama sekali,,Oya ayah bisa memangil apapun yang membuat ayah nyaman ketika tak ada siapa-siapa di sini,"ujar Leon yang merasa gelagat ayah mertuanya tak nyaman ketika berhadapan dengannya.
"eh iya,,"jawab Herwan patuh,
Leon menghubungi Arya untuk ke ruangannya segera,,
setelah Arya sampai ia menjelaskan untuk menempatkan ayahnya menurut pengalaman bekerjanya,
"yak tempatkan pak Herwan di bagian divisi pemasaran,,dia mempunyai skill yang mumpuni untuk itu,,"perintah Leon,
"baik bos,,"timpal Arya.
"Oya pak Herwan, selamat bergabung di perusahaan Alazca fexers group,,"ucap Leon.
"terimakasih pak Leon,,"
Arya membawa pak Herwan ke ruangannya,
ia memperkenalkan pak Herwan dengan rekan-rekan kerjanya,
"selamat bergabung,,"ucap rekan-rekannya satu persatu,
siang harinya Leon,Arya dan juga Sony berjanji untuk makan siang bersama di sebuah restoran yang menyajikan berbagai makanan Jepang,
tiga sekawan itu tetap menyempatkan waktu untuk mereka bertemu.
"sitt,, kenapa kamu suka sekali tebar pesona didepan para wanita,,"keluh Sony melihat semua anak mata tertuju pada Leon.
Sony yang memang sudah duluan datang, tiba-tiba merasa aneh dengan sekitarnya yang riuh melihat kedatangan malaikat tampan,
"hey son,, sudah lama ya,,?"tanya Arya yang langsung menghempaskan bokongnya,
__ADS_1
"belum juga,, Oya Yon,,bisa gak sih luh kalau datangnya biasa saja,,gak usah pakai tebar pesona segala,,"protes Sony.
Leon menautkan kedua alisnya bingung dengan penuturan Sony barusan,
"siapa juga yang tebar pesona,,gue datang biasa aja' salahin muka gue yang tampan tiada tandingannya,,"oceh Leon.
"siitt,ini anak tingkat kepedean makin tinggi ya,,"ejek Sony.
"lah kan memang benar kenyataannya,,"timpal Leon.
"hey, kita kesini mau makan atau mau perang cekcok,gue lapar,,"keluh Arya yang merasa bosan mendengar kedua temannya yang tak kalah sengitnya,
tiba-tiba keadaan kembali riuhnya,
"Lah mak ini mah bidadari,,"Sony melotot melihat tiga wanita yang baru saja datang,
Leon yang membelakanginya,tidak peduli, menurutnya tiada yang lebih cantik dari Dewi di rumah,,
"Yon,kok nyonya Dewi tidak pernah ngomong mempunyai teman yang tak kalah cantiknya,,"protes Sony,
mendengar nama istrinya di sebut Leon yakin kalau yang baru saja datang adalah istrinya.
sedangkan Arya menatap tak percaya ketika melihat temannya Dewi yang tengah tertawa renyah,sontak saja ia mengingatkan semua kenangannya bersama Franziska,
mereka bertiga melangkah dengan anggun tanpa memperhatikan keadaan sekitar,
mereka bertiga duduk di meja yang tidak jauh dengan Leon dan teman-temannya,
ketika Dewi melihat Arya matanya melotot tak percaya,
malah iya kini sangat yakin bahwa laki-laki yang tengah memunggunginya itu adalah Leon suaminya,
"hehe, kenapa bisa begitu kebetulan begini,,"gumam Dewi.
"Yon hampiri nyonya yuk,,"tawar Sony,
"kamu diam di tempat,, makanlah,,"cegah Leon.
Arya hanya tersenyum kecut,
sedangkan Rizka melihat Dewi gelisah,
"kamu kenapa wik,,"tanya Rizka,
__ADS_1
Rizka mengikuti arah pandang Dewi,
"geb,,tu cowok ganteng amat ya,,"ucap Rizka.
sontak geby melihat orang yang dimaksud Rizka,
"Masya Allah,ini mah calon imam ku,,"celetuk geby tak tahu malunya.
Dewi memukul pelan punggung geby,
"hey mata tuh di jaga,,nanti jatuh,,"Dewi mengingatkan mereka,
"tapi wik ini kesepakatan untuk melihat malaikat berkumpul,,"celetuk Rizka.
"gue yakin yang sedang memunggungi kita juga gak kalah tampan,,"timpal geby.
"hey sudah,,kan kita kesini buat makan,,"protes Dewi.
"kan sekalian wik,jangan menyia-nyiakan kesempatan langka,sayang dong,entar mubasir luh,"timpal Rizka kembali.
Leon yang dapat mendengar jelas ocehan istrinya dan teman-teman hanya menampakkan wajah datar, seperti tidak mengenal satu sama lain,
bersenang-senanglah baby,,aku tidak akan menganggu kesenanganmu,
batin Leon.
Leon bukanlah tipe laki-laki yang mudah untuk cemburu,
ia memberikan Dewi kebebasan layaknya remaja lainnya selagi Dewi masih tahu batasannya,
masih menjaga harga diri dan martabat suaminya,
ia tidak ingin Dewi merasa terkekang dengan semua peraturannya, karena ia istrinya bukan tawanannya yang harus memenuhi semua keinginannya,
***bersambung,,,
dukungannya author tunggu ya,,,
terimakasih sudah mampir di karya author, 🙏terimakasih yang selalu setia sama karya author,🙏
kasih semangat author dengan meninggalkan like,vote,dan komentar kalian,,
lanjut ya,,,!☺️☺️***
__ADS_1