
pagi harinya Leon pulang dengan pakaian sedikit lusuh dan acak-acakan, matanya yang sedikit merah menambah kesan bahwa sekarang laki-laki itu kurang dalam keadaan baik-baik saja,
matanya mencari sosok Dewi di sana namun tak kunjung ia temukan,
Leon naik ke lantai atas dimana tempat kamar mereka berada,
ia melihat sosok istrinya yang tengah melamun di atas ranjang, dengan mata panda yang melingkar hitam di matanya sebab dari semalam ia tidak tidur sama sekali,
Leon menatapnya datar, tidak memperdulikan Dewi yang sedari ia datang menatapnya seperti sedang mengintai mangsanya,
"Dy,kamu darimana,,?aku khawatir,,?"ucapnya dengan nada pelan.
Leon hanya diam dengan wajah yang sedikit di tekuk,
tiba-tiba Dewi beranjak,ia meraih koper besar untuk mengemasi barang-barangnya,
"oke,,gue akan pergi,, pergi jika memang kamu menginginkannya,,"ucap Dewi kasar,
Leon mengerutkan keningnya, heran dengan sikap Dewi yang tiba-tiba marah,
"siapa yang menyuruhmu pergi,,"celetuk Leon.
"aku hanya gak suka kamu pergi saat keadaan seperti ini,itu artinya kamu memberikan kesempatan untuk defy bersama ku,,"jelas Leon.
Dewi terus-terusan mengambil semua barangnya meletakkannya dengan kasar dan acak-acakan,
Leon yang melihat itu,ia langsung memegang tangan Dewi agar menghentikan semuanya.
"maaf,,"ucap Leon memeluk istrinya yang acak-acakan itu.
"gue hanya khawatir sama elu,,jika menang kamu kamu tidak setuju,,maka jelaskan dengan baik-baik bukan malah minggat entah kemana,,"caci Dewi yang sudah tersorot emosi,
__ADS_1
Leon makin aneh,ia bisa melihat kalau sekarang Dewi benar-benar marah karena ulahnya yang seperti Sri minggat,bisa ia lihat dari ucapan Dewi yang memanggilnya dengan luh Luh gue gue.
Leon memeluknya, menenggelamkan Dewi di dada bidangnya,Leon mengelus lembut puncak kepala istrinya yang akhir-akhir ini sering ngomel tak jelas,
terlihat punggung istrinya bergetar, menangis sesenggukan di dalam pelukan Leon,
"maaf,,"hanya itu yang mampu terucap.
Dewi menghapus sisa air matanya dengan kasar,
"jangan ulangi lagi,,jangan tinggalkan aku pergi walaupun dengan keadaan marah,,apa kamu tau aku gak bisa tidur dari semalam, takut kamu kenapa-napa di luar sana,aku takut kamu bersama wanita lain,aku marah,aku cemburu,aku egois ingin memiliki kamu seutuhnya tak ingin berbagi,"keluh dewi.
Leon terkekeh mendengar penjelasan istrinya panjang kali lebar,kalau sekarang ia sedang di Landa rasa cemas dan takut untuk kehilangan.
"ia maaf,,jadi sekarang istri Deddy sedang cemburu"ejek Leon
pipi Dewi merah merona menahan malu sebab godaan suaminya, walaupun tak bisa di pungkiri bahwa sekarang ia benar-benar merasa cemburu yang berlebihan.
Deddy semalam nginap di apartemen Arya, takut Deddy tak bisa mengontrol emosi Deddy kalau dekat dengan mu,,Deddy gak mau menyakiti kamu,,"ucap Leon.
Dewi mengangguk,ia percaya dengan Leon sekarang, bagaimanpun ia suaminya, membangun rumah tangga harus dengan saling percaya satu sama lain, walaupun sesekali kepercayaan itu melayang hilang berganti dengan rasa curiga dan cemburu,
pandangan memandang kembali terjadi antara Leon dan mesin pintarnya,
jari jarinya menari begitu lihai menari di atas laptop miliknya, wajah tampannya makin terlihat ketika ia sedang fokus bekerja dalam diam,
jika Arya bukan peri normal maka ia akan langsung jatuh cinta pada bos gilanya yang super duper tampan itu,tapi untungnya Arya adalah pria normal bukannya ia jatuh cinta malah terlihat seperti kucing dan anjing saat mereka bertemu.
"bos,aku sudah mendapatkan informasi tentang orang tua Kalis, mahasiswa yang membuat nyonya Dewi harus di keluarkan dari universitas,,"ucap Arya yang baru saja masuk ke ruangan Leon.
terlihat Leon menghentikan aktivitasnya, mendengar penuturan Arya barusan,ia ingin tahu berapa berkuasanya keluarga yang berani menyombongkan diri menyalagunakan kekuasaannya.
__ADS_1
"siapa dia,,"jawabnya singkat.
"mereka dari keluarga Mahendra,, Kalis adalah putri ke due dari Angga Mahendra,,"timpal Arya.
Leon menaik turunkan alisnya, berpikir kalau ia serasa pernah mendengar tentang keluarga Mahendra.
"apa kita pernah berurusan dengan mereka, sepertinya aku pernah mendengar nama itu,,"tanya Leon yang mengerutkan keningnya.
"tepat sekali,apa kamu ingat dia yang berencana menggagalkan proyek pembangunan resort hotel pertama kita,,"Arya mengingatkan.
"hem sekarang aku mengerti,, lumayan bagus,, istriku memang genius,,selalu memilihkan lawan yang tepat untuk ku,,"jelas Leon dengan mengetukkan jarinya secara bergantian di atas meja kerjanya.
lain halnya dengan Arya,ia melotot tak percaya dengan Leon secara tidak sadar memuji istrinya itu,
"aiss,, sudaha terlihat bucinya,,"celetuk Arya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Leon.
"apa kamu bilang,,bucin,,itu bukan bucin Arya,tapi fakta dari kenyatannya,,"timpal Leon.
"Oya,, untuk acara pernikahan nanti apa semuanya sudah siap,, seperti yang kita rencanakan Arya"tanya Leon dengan waja mengintimidasinya.
"tentu bos,, semuanya sudah beres, seperti yang bos inginkan,aku sangat menantikan acara itu bos,, sepasang pengantin yang bahagia,, hahaha,,"Arya dan Leon terbahak-bahak membayangkan acaranya nanti..
sebagai sepasang pengantin pastinya mereka menginginkan acara yang mewah meriah,,
sebuah pernikahan dua orang besar dan terkenal tentu akan menjadi pusat perhatian dan incaran semua orang, baik itu dari wartawan dan media manapun,,
pesta yang di gelar di sebuah hotel ternama, pesta yang meriah bak di negeri dongeng yang akan menjadi pesta termewah di beberapa negara,
begitulah embel-embel yang ada di benak mereka,,
bersambung..
__ADS_1