
sebelum pergi ke kampus,Dewi dan Leon menyempatkan diri pulang kerumahnya,sebab untuk berganti pakaian ataupun mengambil keperluannya untuk ke kampus.
"tuan tadi malam nona defy datang,ia menitipkan ini untuk ini tuan Leon"bi arsiy memberikan amplop coklat kepada Leon.
Leon segera membukanya karena penasaran,Dewi yang berada di sampingnya hanya memperhatikannya dengan seksama,
selembar kertas yang seperti hasil USG,Leon kembali mengambil yang tersisa di dalam amplopnya,
sebuah surat keterangan dari rumah saki yang menyatakan defy posesif hamil,Dewi bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti arti dari kertas yang ia lihat,
"maksudnya ini semua apa,"cicit Leon penasaran.
tiba-tiba ponselnya berdering,
📱.hallo beb, bagaimana..!apa kamu sudah menerima suratnya,apa kamu senang,,,aku hamil anak mu,hasil buah cinta kita berdua,,"ucap defy di telpon, dengan suara sebisa mungkin di buat manja.
hal tersebut membuat Dewi mematung, matanya yang inda kini menjadi menggembun dalam sekejap menjadi lautan air mata yang tak terbendung,
rasa kecewa dan benci menjadi satu menggerogoti benaknya saat ini,ingin tak percaya namun semuanya terdengar begitu nyata.
lain halnya dengan Leon, laki-laki itu begitu tenang tidak sedikitpun ada rasa goyah ataupun bimbang, wajahnya masih tetap dingin seperti biasanya tanpa rasa cemas sedikit pun.
sebuah senyuman yang membentuk cengir kuda pun terbit,
"defy,defy, saya ingin lihat,sejauh apa kau akan memimpin permainan ini hem,,"ucap Leon dengan mengangkat sudut bibirnya, tanpa ia sadari wanita di sampingnya sudah mematung dengan apa yang ia dengar barusan.
"say,,,"kalimatnya terhenti ketika melihat Dewi yang sudah membeku di depannya dengan air mata yang sudah menerobos keluar begitu saja.
Leon menatapnya lekat,
"apa kau percaya begitu saja,,,"tanya Leon dengan wajah dinginnya,
__ADS_1
Dewi pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dari Leon menghindar mungkin itu cara terbaik untuk saat ini,
"selamat datang di kediaman keluarga fexers mbak defy,"upss salah, nyonya defy"ucap Dewi yang menyambut kedatangan defy dan Leon.
defy merasa ada yang berbeda dari Dewi,baik itu penampilannya, baik pun sikap dan perilakunya,
namun ia tidak memperdulikan itu karena bukanlah itu tujuannya untuk sekarang,
"sayang,, bisakah kau tunjukkan kamar kita dimana,,?"tanya defy manja ke Leon.
"bik,bawa barang-barang nyonya defy ke kamarnya ya,,"perintah Dewi.
"Oya sayang,, kamarnya besar dan bersih kan,,!aku gak ingin loh anak kita jadi gak nyaman,,"tanya defy yang sengaja melirik kearah Dewi dengan mengelus bagian perutnya yang masih rata.
"tentu saja,,aku siapkan tempat yang istimewa untuk kamu,juga calon anak kita,,"timpal Leon dengan sebuah senyum yang menyaringan.
"terimakasih sayang,,,"ucap defy bergelayut manja di lengan Leon.
arsiy yang melihat Dewi yang di abaikan oleh Leon merasa hibah, bagaimanapun majikanya itu pasti sangat sedih dengan ini semua,
namu di sisi lain arsiy melihat wajahnya tidak memperlihatkan beban apapun yang tengah ia pikul, wajah cantiknya begitu polos sebuah senyuman selalu terukir ketika bertutur sapa dengan siapapun.
"apa nyonya baik-baik saja,,?"tanya arsiy khawatir.
"bibi ngomong apa,,bibi bisa lihat sendiri Dewi baik-baik saja,,"timpal Dewi.
"tapi nya,,"
"apa bi,, sudah kalian siapkan makan malam yang istimewa untuk kita oke,,,"ucap Dewi sembari meningkatkan dapur.
saat Dewi membuka pintu kamarnya,ia sudah melihat suami tampannya sudah sangat segar,
__ADS_1
"sayang kamu darimana,,,"tanya Leon dengan melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri.
"dari dapur,,! untuk mempersiapkan makan malam kita,,"timpal Dewi dengan melingkarkan tangannya ke leher Leon.
Leon mengecup singkat bibir mungil istrinya,
menuntut untuk menjadi sebuah *******,
"sayang bisakah kita melakukan aktivitas yang belum tuntas kemarin,apa kamu tidak lupa,,?"tanya Leon memastikan permainan panas mereka yang belum tertuntaskan.
Dewi tersenyum menanggapi Leon yang begitu agresif ketika bersamanya, laki-laki ini begitu pandai membuat kaum hawa terhanyut dalam keindahan duniawi,
"Hem,aku rasa aku tidak mengingatnya,,,"oceh Dewi.
"baiklah,,aku bantu untuk mengingatnya,,"senyum jahil Leon.
jika dikamar ini penuh dengan aktivitas panas,namun lain halnya di kamar satunya lagi,defy gelisah menunggu Leon untuk datang ke kamarnya,ia mondar-mandir tak jelas,
bisa dilihat jika wajahnya begitu mengharapkan Leon datang menemaninya.
namun laki-laki itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya, lenyap menghilang bak di telan bumi,
kesal tak usah ditanya lagi,defy mengumpat-ngupat tak jelas dibuatnya,
bagaimana tidak rencana yang ia buat di jauh hari seperti tidak berjalan begitu mulus, seperti yang ada di bayangan defy, laki-laki itu akan selalu menempel padanya ketika ia tahu ia mengandung buah hatinya...
***bersambung....
terimakasih yang sudah setia mampir di karya author,,
terus dukung author dengan tinggalkan like, vote,dan komentar kalian di sini***,,
__ADS_1