
mata redup Dewi menatap lekat laki-laki yang kini tengah memperhatikan wajahnya,rasa kecewanya masih tergambar jelas di garis wajah Leon,namun dengan rapi ia tutupi dengan rasa khawatir di dalam hatinya,
Dewi tidak begitu bodoh, tidak mengetahui itu,ia mengerti akan perasaan pria tampan yang sejak lama telah berstatus menjadi suaminya,
tangan mungil itu terangkat, memegang pipi mulus Leon yang tidak pernah mengalihkan pandangannya pada wajah cantik sang istri,
Leon menyambar tangan mungil sang istri mendekapnya dengan erat sarana menciuminya dengan ciuman yang hangat penuh kasih,
Dewi membenamkan wajahnya di dada bidang Leon dengan mata yang sudah berkaca-kaca,rasa rindu yang selam ini mengalir menumpuk di dalam hati, yang ia sendiripun tidak tahu sudah sebesar apa rindu itu,jika ia harus memaparkan perasaannya maka akan sulit, karena rasa rindu itu sudah mengebu-gebu,
keduanya saling melepas rindu dengan sebuah dekapan yang saling menghangatkan dan mencairkan rindu yang sudah lama mengumpul,
"aku sangat merindukanmu,,"ucapnya lirih.
"bahkan rasa rinduku lebih besar dari itu,kamu tahu,,! duniaku serasa berhenti berputar tanpa mu,asal kamu tahu serasa nyawa ini terlepas dari tubuh,aku tetap bernapas namun seolah tidak bisa merasakan apa-apa lagi,,"Leon menghujani puncak kepala Dewi sarana memaparkan perasaannya saat itu,
"maafkan aku,"selanya.
Leon mengangguk kecil dan tersenyum,
"berjuanglah,aku akan selalu ada untukmu,jangan pernah mengeluh apapun yang terjadi,,
apa Sony menjagamu dengan baik,,?"tanyanya mengalihkan pembicaraan mencairkan suasana.
"Emm,dia menjagaku dengan baik,,"ucap Dewi disertai dengan anggukan pelan.
"aku akan membalasnya,"timpal Leon.
jika di sebuah kamar rumah sakit ada pasangan suami istri yang sedang melepas rindu, berbeda dengan laki-laki yang tengah ada di balkon kamar perhotelan berbintang tersebut,
Arya terlihat menerawang jauh ke depan dengan tatapan kosong,
ia teringat akan semua ucapan Sony padanya, mengatakan bahwa ia belum bisa melepaskan masa lalunya yang menorehkan luka yang mendalam di lerung hatinya,
Arya menarik nafas dalam-dalam membuangnya berharap masa lalunya pun ikut terbuang bersamaan deruan nafas kasar yang ia hembuskan,
"aku bisa melepaskan,tapi mengapa teramat sulit melupakan,,sampai kapankah semua ini,,"keluhnya semua kenangan itu masi bernaung sempurna di dalam hati dan pikirannya,bahkan datang begitu saja dalam mimpinya tanpa di undang,
Arya mengusap wajahnya dengan kasar,di balik sikapnya yang pendiam tersemat luka yang begitu menyayat kalbu,mampu memporak-porandakan dunianya seketika, hingga sampai saat ini hatinya masih terkunci rapat ragu untuk memulai kembali sesuatu.
__ADS_1
tiba-tiba Sony membuyar lamunan pria tampan itu,
"luh lagi ngapain,,?"tanya Sony yang melihat mimik wajah Arya untuk menebak perasannya.
"sejak kapan kamu bekerja ngurusin urusan orang lain,,"timpal dingin Arya.
"sitt,,ya,,!sejak tidak ada kerjaan,,"Sony menghempaskan bokongnya di kursi yang menghadap ke kota,
"Oya,,,!apa Leon sudah menghubungi mu,,?"tanya Sony lagi, tiba-tiba ponsel Arya berdering,yang benar saja orang yang baru mereka bicarakan yang menghubungi Arya.
📱,hallo bos,,
📱,aku mungkin menetap di sini sementara waktu, kembalilah besok bersama Sony jangan sampai perusahaan terbengkalai,namun sebelum itu datanglah dulu ke rumah sakit,ada yang ingin aku bicarakan pada Sony,,
Tut Tut,,,,
sambungan telpon itu terputus..
"sitt,sesuka hatinya saja,,"caci Arya pada ponsel canggih miliknya.
sudut bibir Sony terangkat,
"aku sudah menduga itu,, bergegaslah kita ke rumah sakit segera,"Sony melangkah ke luar duluan,
rupanya laki-laki itu membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ke rumah sakit,
"kita berangkat,,"ucap Arya sembari berlalu melewati Sony,
"okeh,,,"Sony langsung membuntuti Arya,
dari tiga sekawan tersebut, Sony lah yang tidak begitu irit bicara, laki-laki itu sedikit konyol baik dengan tingkah ataupun ucapan,namun tidak sedikitpun mengurangi ketampanan pria tersebut.
di sebuah rumah sakit Sony dan Arya sudah sampai, menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah yang lebar,
setibanya di depan pintu mereka mengetuk dulu sebelum masuk, karena tidak ingin menodai kesucian mata melihat bos gila mereka jika sedang bermesraan di dalam,
setelah mendapatkan izin dari dalam barulah mereka masuk,
"duduklah,,"ucap Leon.
__ADS_1
rupanya Leon tengah berkutat dengan sebuah laptop miliknya, memantau beberapa pekerjaan.
Sony dan Arya duduk dengan wajah datar yang dimiliki mereka,
"son, terimakasih untuk semuanya,,"ucapnya dengan tatapan serius,
"hanya itu,,?"tanya Sony,Leon mengerutkan keningnya bingung dengan jawaban Sony.
"apa kau tidak akan memberikan aku sesuatu misalnya,,"sambung Sony.
"apapun yang kau pinta,,?"timpal Leon.
"bagaimana dengan rumah sakit,,"timpal Sony lagi..
"Arya akan mengurusnya,,"jawab Leon,masih dengan muka seriusnya.
tiba-tiba gelak tawa Sony terdengar begitu menggema ,
"hahaha luh kira gue melakukan ini menginginkan imbalan,,"jawab lucu Sony.
"jika memang kau menginginkannya,"jawab Leon.
"tidak broo,,itu belum sebanding dengan apa yang kau lakukan untuk gue,,"timpal Sony kembali dengan wajah datarnya.
"gue akan kembali besok bersama Arya, karena kerjaan gue sudah lama terbengkalai begitu saja di sana,jaga Dewi baik-baik,aku akan menghubungi dokter yang menangani Dewi,,"sambungnya.
setelah itu terlihat mereka bertiga ngobrol dengan formula layaknya sahabat,
sesekali terdengar gelak tawa karena ada salah satu yang menjadi bahan candaan mereka,
persahabatan yang sejati,tidak memandang itu siapa dan bagaimana,
membantu dengan ikhlas dan tulus,
ada di saat susah dan senang,tidak untuk menjatuhkan satu sam lain untuk kepentingan pribadi,
bersyukurlah kalian yang memiliki itu, karena hubungan tanpa ikatan dara tersebut bahkan bisa melebihi keluarga sendiri,
dia akan berdiri di depan ketika kita ada yang merendahkan,
__ADS_1
akan tersenyum di belakang, ketika kita bahagia,
bersambung...