Dewi Kampus Vs CEO Muda

Dewi Kampus Vs CEO Muda
ungkapan hati yang pilu.


__ADS_3

tak terasa sudah beberapa bulan berlalu,semakin hari semakin Leon menunjukkan sikap tak suka padanya,


ia seringkali memperlihatkan kemesraannya dengan defy di depan Dewi,


"bik,,"Dewi memangil arsiy lantaran rumah yang terasa sepi,


"iya nya,,,"arsiy yang terburu-buru berlari kecil dari dapur,


"apa tuan sudah pulang,,?"tanyanya


"belum nya,,"balas arsiy,


"oh, baiklah bibi kembali saja ke dapur,"Dewi duduk lesu mendengar penuturan baik arsiy,


ia memijat pangkal hidungnya,rasa lelah dan kecewa selalu datang bersamaan tanpa henti padanya,


Dewi beranjak pergi ke kamarnya dan turun sudah berpakaian mahal dan seksi,


ia sangat cantik dan anggun, rambutnya yang ia biarkan tergerai panjang,


Dewi pergi meninggalkan kediamannya menuju kantor raksasa milik suaminya,


setelah sampai ia pergi ke ruangan Leon tanpa bertanya dahulu dengan resepsionis,


ia mengatur nafasnya yang memburu degup jantungnya yang berdetak kencang, ketika tepat di depan ruangan CEO,


ting,,,,


pintunya terbuka, namun pemandangannya yang Dewi lihat tak pernah terlintas ataupun ada di bayangannya,


dua sejoli yang sedang bercumbu dengan nafsu,


defy yang terlihat agresif memimpin permainan mereka, ciuman yang penuh hasrat dan nafsu,


kota makan yang ia beli saat di jalan jatuh berantakan di lantai,tentu saja menimbulkan suara yang membuat mereka sadar akan kedatangan seseorang,


Leon melotot tak percaya kedatangan Dewi di kantornya,


cairan bening itu jatuh dengan sendirinya tanpa seizin pemiliknya,


hatinya yang mulai tersusun rapi kini hancur berantakan kembali,


ia mengira meskipun Leon menghindarinya ia tak akan menodai janji pernikahannya,

__ADS_1


namun ia salah ia merasa sudah gagal,


dan ini saatnya ia menyerah saat kegagalan itu sudah nyata,


Leon aneh dengan sikap Dewi, bukannya ia tidak peduli sama sekali dengan apa yang ia lakukan,memang mereka bukan menikah dengan rasa cinta,


Dewi menghapus jejak air matanya, mencoba berdamai pada hatinya yang terluka,


"maaf aku tak sengaja menganggu kalian"Dewi pergi begitu saja,


bukan pernyataan itu yang Leon harapkan,


ia berharap Dewi marah karena hubungan mereka,tapi kini Leon makin yakin bahwa Dewi memang tidak pernah ada rasa untuknya,


"apa begitu sulit dia membuka hatinya"cicit Leon


malam hari yang sudah larut Leon yang baru pulang melihat kediamannya yang sunyi,


"bik,,apa nyonya ada,,"tanya Leon


"ada tuan,,tapi sepertinya mood nyonya kurang baik hari ini"jawab bik arsiy,


"emangnya kenapa,,"tanya Leon lagi dengan mengendorkan dasi di lehernya,


"apa tuan mau makan,,"tanya bik arsiy,


"tidak bik,,Leon sudah makan di luar Leon mau istirahat,,"keluh Leon


setelah berada di kamarnya Leon melihat lampu kamar sudah padam hanya meninggalkan cahaya remang menandakan bahwa Dewi sudah tidur,


Leon masuk dengan pelan takut menganggu Dewi yang tengah terlelap,setelah sekian lama baru sekarang ia bersama dengan Dewi satu kamar,


karena selam ini ia selalu menghindar, lebih memilih tidur di apartemennya,


Leon menyalahkan Lampunya,ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dahulu,


setelah selesai dengan aktivitasnya Leon sudah fresh dan segera mengunakan baju santainya,


lelaki ini bingung harus bagaimana,


ia meraih mesin pintarnya melanjutkan pekerjaan yang ia bawa dari kantor,


Dewi yang sedari tadi hanya pura-pura tidur melihat semua gerak gerik Leon,

__ADS_1


tak bisa ia pungkiri bahwa ia mengharapkan kata maaf dari mulut suaminya itu,


di sisi lainnya,Dewi juga menyadari bahwa ia bukan siapa-siapa di hati Leon,semakin ia bertahan itu semua membuat hatinya semakin sakit,


matahari mulai menampakan sinarnya menerobos masuk dari selah selah jendela,Dewi yang baru menyadarinya mulai membuka kelopak mata indahnya,


mencoba meraih alam sadarnya meninggalkan alam mimpinya,


wanita cantik itu bangkit namun matanya menemukan pria yang berstatus suaminya itu tidur tak nyaman di sebuah sofa,


ini baru pertamakali ia melihat suaminya tidur satu kamar dengannya walaupun tidak dengan satu ranjang,


ia tatap lekat pria tampan itu dari kejauhan,


"kamu itu ibarat bulan untuk ku, begitu tinggi untuk ku raih, begitu jauh untuk ku gapai,menemani ku dikegelapa, mencampakkan ku di sebuah kenyataan,


ingin rasanya aku lari darimu namun apa daya kaki ini tak mampu melangkah,


andai aku bisa memilih,aku tak ingin berada di antara kalian,"ungkapan hatinya yang pilu


Dewi beranjak langsung menuju kamar mandi,


setelah ia masuk,Leon membuka matanya,ia menyadari sedari tadi wanita itu menatapnya dari kejauhan,namun begitu enggan untuk mendekatinya,


karena hari libur Leon melanjutkan pura-pura tidurnya,


tiba-tiba ia melihat Dewi mengendap-endap seperti pencuri,


saat menepati Leon masih tertidur pulas ia baru membuang nafasnya lega karena ia lupa membawa baju ganti,


Dewi yang hanya mengunakan handuk kecil yang menutupi area pentingnya, melenggang melewati Leon santai tanpa ia sadari sedari tadi kedua mata itu memperhatikannya,


tentunya sebagai seorang pria sejati ada jiwa meronta di sana, melihat pemandangan indah barusan,


"aiss, ngapain Luh bangun tanpa gue suruh,dasar bandel"keluhnya menahan hasrat.


Leon kembali memejamkan matanya bukan untuk tidur kembali melainkan untuk meredamkan hasratnya yang sudah menjalar kemana-mana,


setelah selesai Dewi duduk di meja riasnya menyisir rambut panjang miliknya, mengoleskan sedikit makeup di wajah mulusnya,


ia menatap Leon dari dalam cermin,ada perasaan bahagia saat ia melihat lelaki itu dalam keadaan masih terlelap satu kamar dengannya....


bersambung,,,,

__ADS_1


__ADS_2