Dewi Kampus Vs CEO Muda

Dewi Kampus Vs CEO Muda
merasa bersalah.


__ADS_3

dua hari Dewi di rawat di rumah sakit,ia sudah berpindah di kamar VIP,


menurut dokter, kandungan Dewi masih sangat renta, selama ini beraktivitas yang cukup menguras tenaga,jadi mau tidak mau Dewi harus menginap di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.


selama ia di rawat,Dewi tidak melihat batang hidung kedua sahabatnya,


namun ia tidak terlalu memikirkan itu mengingat akan dirinya yang tengah berbadan dua,ada benih yang harus ia jaga,jadi ia tidak begitu menjadikan beban pikirannya untuk setiap masalahnya.


Dewi sudah merasa bosan di ruangan itu,ia uring-uringan tak karuan sembari menunggu suaminya,


sesaat kemudian, Leon membuka pintu ruangannya membawa sebuket bunga indah untuk istri dan calon anaknya.


"pagi sayang,,maaf Deddy terlambat,,ini untuk kamu,juga calon anak kita,,"ucap Leon dengan senyum yang selalu mengembang di wajah tampannya.


"makasih Dy,tapi Dewi gak suka bunga,,"ucapnya sembari memalingkan muka dari suami tampannya.


Leon melongo, padahal wanita mungil itu sangat menyukai bunga, dirumahnya sendiri ia membuat taman mini yang dipenuhi oleh beberapa jenis bunga.


"ya udah Deddy buang saja,,"timpal Leon yang langsung membuang bunganya ke tuang sampah.


saat Leon mendekat, tiba-tiba Dewi menampakkan wajah yang merah dan air matanya sudah mengenang,


"sayang ada apa,,?"tanya Leon penasaran.


"uuaahh,, Deddy jangan dekat-dekat,Dewi mau muntah mencium aroma parfum Deddy,,"Isak Dewi.


Leon kembali tercengang dibuatnya, bisa-bisa ada seseorang yang tidak menyukai aroma parfum mahalnya.


"please pergi,,"rengek Dewi.

__ADS_1


"okeh okeh,tapi Deddy mohon berhenti menangis okeh,!"Leon segera keluar dari ruangan itu.


Leon memegang tengkuknya serasa pusing menghadapi Dewi yang berubah drastis,ia pergi dimana ruangan Sony berada, untuk meminta pendapat mengenai perubahan seseorang yang tengah hamil.


ia melabrak pintu ruangan Sony secara kasar, tentu hal itu membuat sang empunya tergelonjak kaget mendengar suara tersebut,


ia melongo melihat sahabatnya itu memasang wajah masam.


"kamu kenapa,,?"tanya Sony yang tengah duduk di mejanya.


"gue heran deh,,kok istri gue banyak perubahannya,,!"keluh Leon.


"sitt, namanya juga ibu hamil,gue berharap calon anak luh lebih menyiksa Daddy-nya yang brengsek ini,"celoteh Sony.


"maksud Luh apa,,"Leon menatap tajam Sony.


"terus apa yang bisa saya lakukan,apa kamu mempunyai obat untuk hal tersebut,,saya akan membelinya berapapun itu,"ujar Leon.


"obatnya cuma satu,Luh penuhi semua keinginan istri luh, karena menurut yang aku dengar,jika istri Luh sedih mulu anak yang ada di dalam kandungannya juga akan merasakan kesedihan ibunya,"Sony kembali menjelaskan.


"kok ingin menjadi orang tua harus sesulit ini,lebih sulit dari masalah perusahaan,,"keluh Leon.


"luh cuma merasakan kesulitannya saja,tidak merasakan apa yang istri Luh rasakan,ia harus merasakan perubahan hormon,mual muntah di pagi hari, sering waktu perutnya akan membesar, bebannya memang tidak seberapa berat,akan tetapi,beban itu tak bisa ia lepaskan walau sejenak, kemanapun ia harus membawanya,tak bisa ia pindahkan dalam ketidak nyamanan dirinya,


apalagi jika sudah memasuki trimester akhir kehamilan,harus bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil, semua aktivitas menjadi lambat tak seperti ia biasanya,jadi gue harap luh sabar menghadapi setiap perubahan istri luh,,"jelas Sony panjang lebar.


Leon merasa menyakiti istrinya untuk keinginannya mempunyai seorang anak,ia menggeleng tak jelas mendengar semua penjelasan dari Sony,


tiba-tiba ia beranjak dan pergi dengan segal perasaan yang tak menentu di benaknya.

__ADS_1


saat ia kembali keruang Dewi,ia melihat istrinya yang sedang terlelap.


"sayang maafin Deddy, gara-gara keegoisan Deddy ingin mempunyai seorang anak jadi kamu harus merasakan ini semua,,"cicit Leon.


"Dy, maksud Deddy apa,,"Dewi mendengar semua celoteh suaminya yang tidak jelas.


"Sony bilang ibu hamil sangat menderita, harus membawa kemanapun perut buncitnya,,"Leon tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya.


"Sony bohong,, justru itu seorang wanita sangat menikmati semua hal dimasa kehamilannya, rasanya tidak sabar menunggu bayi kita lahir,,"senyum sumringah Dewi.


"benarkah,,"tanya Leon memastikan, dengan kening yang berkerut.


Dewi mengangguk,


"semua rasa sakit dan tidak nyaman, akan terbayar lunas ketika kita mendengarkan tangisan bayi kita yang baru lahir, melihat wajah mungilnya adalah sebuah kebahagiaan yang tak mampu untuk di utarakan,"ujar Dewi,


nampak Leon berpikir keras mencerna semua ucapan istrinya.


"sayang makasih ya, sudah bersedia menjadi ibu untuk anak-anak ku,,"Leon mengecup tangan mungil sang istri.


"Dy,Dewi mau pulang,"rengek nya.


"Deddy akan mengurusnya,,"


Dewi tersenyum bahagia mendengar,ia sudah tidak betah berlama-lama di rumah sakit,bau obat yang menyengat membuatnya ingin muntah setiap saat,


setelah mengurus segala sesuatunya, mereka beranjak pulang meninggalkan rumah sakit yang sudah beberapa hari Dewi tinggali.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2