Dewi Kampus Vs CEO Muda

Dewi Kampus Vs CEO Muda
olahraga pagi.


__ADS_3

matahari mulai keluar dari persembunyiannya, kicau burung mulai bernyanyi, embun pagi yang mulai menetes di ujung dedaunan sebab sinar matahari mulai menghangat,


tak ada pagi yang lebih bahagia di saat ia membuka matanya melihat malaikat tampan di depan matanya,


tangannya melingkar memeluk tubuhnya dengan keadaan mereka yang tidak mengenakkan sehelai benangpun,


Dewi terkekeh geli saat otaknya memutar kembali sebuah adegan yang membuatnya kalang kabut dan meremang ketika pria itu menyentuhnya.


"ada apa hah,apa kamu mulai terpesona pada suami tampan mu ini"ucap Leon dengan mata yang masih terpejam.


"aiss yang ada suami ke pedean,,"ucap Dewi sembari bergerak perlahan menjauhkan tubuhnya.


"sayang, jangan bergerak seperti itu,kamu membangunkannya,,"desah Leon,Dewi kembali menatap suaminya yang mulai berpikir tak waras.


"kamu apaan dy,bicara yang formal saja malu tau,,!"ucap Dewi ketus.


"kok malu,malu sama siapa,? Deddy gak malu kalau sama istri kan istri Deddy sudah melihatnya,bahkan sudah hapal ukurannya,"kekeh leon senang menggoda istrinya.


"tuh kan Deddy mulai lagi,,!gak asik ah bicara kayak gituan,,"timpal Dewi.


"terus,, maunya istri Deddy kayak gimana,,?"tanya Leon memastikan.


Dengan cekatan Dewi bangkit dari tempat tidurnya, sebelum suaminya melakukan aksi gilanya yang membuat di harus melakukan olahraga pagi di dalam kamar.


"saya kamu mau kemana,,"tanya Leon dengan suara manjanya.


"mandi,,"timpal Dewi singkat.


"Deddy mandi bareng boleh,,"ucap Leon dengan mengulum senyumnya, berharap istrinya memperbolehkan keinginannya.

__ADS_1


"gak ah,,aku tau Deddy mempunyai niat terselubung,,"ucap Dewi segera menutup pintu kamar mandinya.


setelah selesai melakukan ritual paginya,Dewi keluar dengan lilitan handuk kecil menutupi sebagian tubuhnya,


"kamu sengaja menggoda Deddy,,"ucap Leon dengan tatapan yang tidak terlepas dari tubuh istri seksinya saat ini.


"Deddy apaan,,,selalu berpikir mesum, udah sana buruan mandi bau tahu,,"ucap Dewi dengan memanyunkan bibirnya.


"iya deh,,"Leon mengacak rambutnya frustasi akibat rencananya gagal untuk mengajak sang istri olahraga pagi.


ketika Leon selesai ia melihat pakaiannya yang sudah di siapkan Dewi, setelah ia selesai memakainya Leon meminta Dewi memasangkan dasinya sebab saat itu adalah momen terindah bagi suami untuk memandang wajah cantik sang istri dengan jarak yang sangat dekat, tangan mungil itu dengan lincah dan cekatan memasang dasi di leher kemeja meskipun harus sedikit berjinjit karena tinggi mereka yang tidak sepadan,


tangan kekar Leon melingkar sempurna di pinggang ramping istrinya, memepetkan tubuh mereka hingga tidak ada jarak yang memisahkan, detak jantung berdetak seirama,hembusan nafasnya menyapu wajah seolah bertukar sapa.


"sayang,kamu kok belum siap untuk ke kampus,,?"tanya Leon yang melihat istrinya mengenakan pakaian biasa.


Dewi gugup harus menjawab apa,ia sebenarnya ingin menghindari dengan melakukan aktivitas lainnya,namu Leon tak pernah melepaskannya,


"sayang,,katakan sebenarnya ada apa,,,?tak pantas kalau kamu menutupi sesuatu dari suamimu sendiri,aku kecewa loh.."ucap Leon,ia sengaja mengatakan ia akan kecewa kalau Dewi tidak pernah ingin jujur terhadap dirinya.


"emm, kemarin aku di keluarkan,,,"ucap Dewi dengan deru nafas yang tidak biasanya.


"kok bisa,,?"


"kemarin aku tidak sengaja mendorong salah satu siswa hingga ia terbentur,jadi orang tuanya meminta pertanggung jawaban,ia yang meminta agar aku di keluarkan dari kampus, meskipun pak dekan berat namun tak ada cara lain agar nama baik unversitas tidak tercemar,,"jawab Dewi.


"jadi seperti itu,,"


marah,,? sebenarnya emosi Leon sudah tidak terbendung lagi, namun ia tak ingin Dewi mengkhawatirkan dirinya,saat ini ia harus bermain cantik demi istri kecilnya.

__ADS_1


saat mereka turun Leon tidak melihat defy sama sekali,


"bik,apa defy pulang,,"tanya Leon memastikan.


"saya tidak melihat nona defy dari sore kemarin tuan,,"timpal bik arsiy.


Leon mengangguk, mengabaikan defy untuk sementara.


"apa kamu akan berdiam di rumah untuk seharian Hem,,"tanya Leon dengan senyum menggoda.


"entah lah,,"keluh Dewi.


Leon memberikan sebuah Black Card, sebuah kartu kredit limited edition yang tanpa batas ,Dewi melotot melihatnya rasanya matanya ingin keluar dari tempatnya lantaran sehumur hidupnya baru pertamakali melihat kartu yang melegenda itu,ada rasa enggan untuk menerima mengingat sebenarnya ia belum melakukan apa-apa untuk suaminya hanya memenuhi kewajiban sebagai istri,


"belilah,,jika kamu membutuhkan sesuatu,,, sebenarnya aku sudah siapkan ini sejak lama namun aku takut kamu akan menolak jika aku memberikannya terburu-buru,"ucap Leon dengan wajah datarnya.


Leon menatap lekat mata istrinya karena Dewi tidak kunjung menerima pemberiannya,


"ada apa,,?kamu pantas menerimanya, sekarang kamu istriku kewajiban ku,apa yang menjadi milik ku juga milikmu,,"Leon memastikan bahwa Dewi pantas menerima pemberiannya.


dengan gemetar Dewi menerimanya, sebenarnya ia tidak terlalu membutuhkan itu, dengan uang yang Leon kasih selam ini itu sudah cukup untuknya.


"Oya,,kamu bisa kasih tahu ayah,jika membutuhkan pekerjaan ayah bisa langsung bekerja di perusahaan ku,, hanya itu yang bisa aku bantu untuk ayah,aku lihat ayah orang yang gigih,ia tidak akan menerima kalau aku memberi secara cuma-cuma,


untuk perusahaan keluarga kalian,aku harap ayah sedikit saja untuk bersabar,sebab kalau cuma perusahaan kalian hari ini pun aku bisa merampasnya,namu aku ingin laki-laki itu hancur Hinga dasarnya,aku ingin ia merasakan bagaimana sakit membangun perusahaan dari nol bukan dengan merampas milik orang lain,,"tutur Leon.


Dewi merasa heran,kok Leon bisa tau tentang keluarganya, padahal seingatnya ia tidak pernah bercerita sedikitpun dengan Leon tentang keluarganya,


ia tidak menyadari siap sebenarnya suaminya ini,

__ADS_1


ia tidak akan menyandang gelar nomor satu jika tidak memiliki kelicikan juga kecerdasan.


bersambung.....


__ADS_2