
Kalis dengan beraninya masuk ke ruangan CEO.
"pagi Pak,,"ucap Kalis setelah masuk tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
Leon yang tadinya tengah sibuk memeriksa beberapa berkas, sekilas mengalihkan pandangannya.
"ada kepentingan apa kamu keruangan saya,,?"tanya Leon dengan wajah datarnya.
"saya datang ingin memberitahukan kalau saya magang di Perusahaan ini,,"Kalis mencoba mendekati Leon, dengan berani ia menyentuh pundak Leon yang tengah bersandar di kursi kebesarannya.
"kalau bapak menginginkan sesuatu saya bisa bantu,,"sambungan Kalis dengan nada yang di buat-buat.
tangan Kalis mulai meraba-raba tubuh Leon,
"hentikan Kalis, sebelum saya benar-benar marah,,"ucap lantang Leon.
bukannya berhenti Kalis malah dengan berani menghadap Leon dengan rok mini yang sebagian sudah ia tarik keatas,Kalis duduk di pangkuan Leon, dengan ******* yang keluar dari setiap hembusan nafasnya.
tiba-tiba Dewi masuk, menyaksikan kedekatan intim antara suaminya dan Kalis.
ia tak ingin gegabah mengambil tindakan, karena Dewi tahu akan sikap tidak senonoh Kalis.
"pagi Pak,,"ucap Dewi sembari mengedipkan matanya.
Leon hanya diam tanpa mengeluarkan suara,ia ingin tahu langkah Dewi untuk menghentikan Kalis.
"luh gapai ke sini,,?kamu tahu tidak kamu itu menganggu aktivitas kami,"hardik Kalis.
"aktivitas apanya,, jelas-jelas saya melihat hanya kamu yang melakukan aktivitas, bukankah sudah ku peringatkan untuk memperbaiki cara merayu mu, cara murahan seperti itu mana berlaku untuk seorang CEO,,"timpal santai Dewi.
"kamu mengejekku,,?"tanya Kalis marah.
"aku tidak merasa mengejek,jika kamu mau akan ku ajarkan bagaimana caranya merayu laki-laki,,"sindir dewi.
Kalis berdiri,
"coba saja kalau bisa,aku yakin,kamu bukanlah selera untuk seorang CEO, perempuan dekil kayak kamu yang ada bikin jijik."hina Kalis.
Dewi dengan santai meletakkan tasnya di atas meja Leon.
"morning honey,,"dengan langkah anggun ia menuju Leon duduk di atas paha suaminya,tangan mungilnya bergerak santai melingkar di leher Leon,
"kamu tahu aku sangat merindukanmu,,"nafas Dewi berhembus menerpa di wajah Leon, yang membuat Leon merasakan sensasi yang berbeda,
__ADS_1
tangan Leon bergerak menyentuh pipi mulus istrinya,
yang membuat Dewi tersenyum manis dan berucap,
"jaga baik-baik dia untuk ku,,"
Leon tersadar dengan ucapan istrinya,ia menelan Silvanya,
"kamu mengerti kan maksud ku,,"sambungan Dewi, yang membuat Leon mengangguk patuh,
"good baby,,"Dewi mencium singkat bibir Leon,dan beranjak.
Kalis yang menyaksikan adegan tersebut membuatnya panas dingin,
ia merasa terhina dan tak terima,
bagaimana mungkin Leon begitu patuhnya pada setiap ucapan Dewi,
ia pergi meninggalkan mereka sebelum Dewi mengejek dirinya.
"haha, dasar wanita murahan,,"gumam Dewi yang menyaksikan punggung Kalis yang terlihat menjauh.
"Deddy juga,, mau-maunya saja di gituin sama wanita,"ucap Dewi sembari menatap tajam suaminya.
"dianya saja yang terlalu agresif, Oya sayang apa semuanya sudah selesai,,"tanya Leon.
"Deddy lupa,,Kapa kamu mulai kerjanya,, ingat gak bole capek-capek,harus selalu jaga kesehatan,,"ujar Leon.
Dewi mengangguk,
"Ya udah Dewi pulang dulu Dy,"pamit Dewi.
"tunggulah sebentar,temani Deddy bekerja biar semangatnya pol di temani bidadari Deddy,,"goda Leon.
"sitt,,Deddy apaan ini kantor bukan rumah,"Dewi menghempaskan bokong ke sofa yang ada di ruangan suaminya,
dalam diam ia melihat ruangan suaminya yang besar dan rapi, karena penasaran ia menuju gorden mewah dan membukanya,
dinding kaca yang transparan memperlihatkan pandangan kota yang indah,
Dewi terperangah melihatnya, lantaran kenapa suaminya tidak pernah membukanya ketika bekerja.
Dewi dengan kagum memandang jauh ke depan, merasa beruntung memiliki suami seperti Leon,
__ADS_1
ia menatap Leon yang sedang sibuk bekerja, terlihat laki-laki itu begitu fokus pada setiap dokumen di tangannya.
karena merasa ngantuk ia tanpa sadar tertidur di atas sofa,
Leon yang melihat itu menggeleng sambil tersenyum, bisa-bisa istrinya tertidur pulas pada pagi hari menjelang siang seperti ini,
Leon mengangkat tubuh Dewi kedalam kamar pribadinya yang terletak di ruangannya,
menyingkirkan setiap anak rambut yang menghalanginya wajahnya,
"terimakasih sudah hadir di kehidupan ku, berjanjilah jangan pernah tinggalkan aku,"celoteh Leon sembari mengecup kening istrinya yang tertidur pulas,
Leon meninggal Dewi kembali pada pekerjaannya.
setelah beberapa saat Dewi membuka pelan matanya,ia bingung melihat di setiap sudut ruangan yang begitu asing di matanya,
"ini di mana,,"lirihnya.
tiba-tiba pintunya terbuka,nampak Leon sedang membawa sesuatu di tangannya.
"sayang sudah bangun,,tadi aku beli makanan sebentar, kita makan siang yuk,,"ajak Leon.
"apa,, siang,,,"hardik Dewi dengan suara cemprengnya.
Leon mengangguk,
"kok gak bangunin Dewi sih Dy,, akhir-akhir ini Dewi sering banget ngantuk pagi-pagi sekali,,"keluhnya.
"nanti pulangnya kamu mampir dulu ke dokter, mungkin kamu gak enak badan,,"timpal Leon, mengelus rambut Dewi.
"Deddy bawa apa,,?"tanya Dewi dengan mata sedikit berbinar.
"bawa makan siang untuk kita,,"Leon mulai membuka dan menyajikan makanannya.
"Dy apa Kalis sudah pulang,,"tanya Dewi.
"mantan Deddy tau,, sudah jangan berpikir macam-macam, segera habiskan makanannya,,"timpal Leon.
"sitt, memangnya gorila makan segini banyaknya,,"kekeh Dewi.
Dewi melahap semua makanan, tanpa ia sadari sudah sebagai yang habis olehnya,
Leon menatap heran pada istrinya,makan kok seperti kerasukan,
__ADS_1
tadinya bilang bukan gorila,tapi makanan hampir ludes semuanya,
bersambung....