
senja hari yang cerah, matahari mulai menampakkan sinar berwarna jingga,
Dewi turun dari mobil suaminya ingin berpamitan dengan pak lurah dan warga lainnya,
para warga menatap Dewi heran, karena yang mereka lihat bukanlah Dewi yang tinggal dengan mereka beberapa bulan ini,
Dewi yang mengunakan barang mahal,tentu menambah nilai yang lebih di mata para warga,
ia yang mengunakan dress selutut berwarna pink, dengan sepatu high heels yang tidak pernah mereka lihat di kampung mereka,
wanita ini begitu cantik dan anggun,
mereka baru tahu seperti ini penampilan istri dari Leon fexers itu sesungguhnya.
"pak Dewi pamit ya,,!Dewi minta maaf kepada bapak dan para warga di sini, karena mungkin selama Dewi tinggal di sini, begitu banyak merepotkan dan meresahkan warga,,"tuturnya lembut.
"tidak nak, justru bapak dan para warga yang merasa bersalah pada mu, karena selama kamu tinggal di sini, begitu banyak tuduhan dan gunjingan warga yang tak pantas kamu terima,,"ucap pak lurah yang merasa bersalah.
"Dewi mengerti itu, jauh sebelum kalian minta maaf Dewi sudah memaafkan kalian, do'akan Dewi semoga sampai di tempat Dewi dengan selamat,"
"Oya sampaikan maaf kami pada suami nak Dewi"pak lurah yang melihat Leon begitu enggan untuk turun di mobilnya,
Leon memang tidak ingin menemui para warga yang membuatnya muak karena kebodohan yang mereka pelihara,
__ADS_1
sebuah keberuntungan Dewi, ia di izinkan untuk berpamitan dengan warga karena mungkin ini yang terakhir kalinya mereka bertemu,
"iya pak, sebetulnya suami Dewi orangnya baik namun ia begitu keras sulit untuk memaafkan kesalahan orang lain,"Dewi tak ingin para warga di hantui dengan rasa bersalah mereka.
"siapa yang tidak marah melihat istrinya di perlakukan secara tidak adil Dewi,wajar saja jika pak Leon belum bisa memaafkan kesalahan yang kami perbuat"tuturnya dengan rasa penyesalan yang teramat sangat besar,
"tidak pak,Dewi yakin Leon sudah memaafkan kalian,,kali begitu Dewi pamit ya pak buk,,"Dewi menyalami warga satu persatu,yang membuat Leon turun dengan emosi,
"sayang,tak usah aku takut tangan mu tertular kuman bodoh yang mereka pelihara"ucapnya dengan meraih tangan Dewi dan menyemprotkan cairan antiseptik,
Dewi merasa tak enak dengan warga, bisa-bisa suaminya bertutur demikian yang membuat warga merasa tak enak,
Dewi melambaikan tangan,
"da,,, sampai jumpa lagi,,"ucapnya sembari masuk di mobil sport milik suaminya,
dalam perjalanan Leon menatap Dewi dari ekor matanya,ia melihat raut wajah sedih sang istri,
bagaimanapun ia sudah lama tinggal di sana banyak sekali kenangan yang tak mungkin ia lupakan,
Leon menggenggam tangannya, seolah memberi kekuatan pada Dewi untuk tegar dalam menghadapi apapun,
Dewi menatap lekat wajah Leon yang sedang fokus menyetir,ia memutuskan menyetir sendiri karena tidak ingin ada orang ke tiga di antara mereka seperti setan jomblo,
__ADS_1
"aku bisa memaafkan mereka karena aku menemukan mu di sana,,kalau dulu aku menolak pembangunan pabrik di sana mungkin sampai saat ini aku belum bisa menemukan mu,"ucap Leon dengan pandangan fokus pada jalanan.
"aku minta maaf, karena sudah mempercayai orang yang sudah pernah menghancurkan hatiku hingga luluh lantah,aku memang bodoh,,, apa foto itu,,?"
"iya,itu dulu jauh sebelum aku mengenal mu,,"ucap Leon yang memotong ucapan Dewi,
ada rasa sakit di hatinya Dewi, mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Leon,
namun ia gak bisa egois, karena sebelum ia mengenal Leon laki-laki itu memang mempunyai beberapa wanita,
"kamu kenapa,,?,"tanya Leon yang melihat Dewi sedikit terdiam dengan wajah yang berbeda,
tak ada sahutan dari Dewi,ia hanya diam menerawang jauh ke depan,
tak bisa ia hindari kalau sekarang rasa cemburunya sudah mulai tumbuh, namun Dewi mencoba menepis semua yang menjadi pikirannya, seburuk apapun masa lalu Leon ia akan menerimanya dengan tulus karena tidak ada manusia yang memiliki kesempurnaan,
"maaf,,,"ucap Leon yang seolah-olah mengerti apa yang tengah menjadi pikiran Dewi.
Dewi tersenyum membalas kata maaf dari Leon,
mobil sport itu melaju kencang di jalanan yang senggang, pepohonan yang rimbun di setiap sisi jalan menjadi saksi cerita mereka,
jika ditanya apakah dirinya bahagia maka tiada yang bisa menjadi ibarat sebagai sebuah perumpamaan,
__ADS_1
hatinya bersyair merdu merangkai sebuah puisi indah sebagai ungkapan,
bersambung...