
setelah samai di rumah sakit, mereka bertiga menyusuri koridor rumah sakit,Leon merasa koridor rumah sakit ini tiba-tiba menjadi sangat panjang dan luas, entah hanya perasaannya saja atau memang benar-benar luas,
beberapa saat , mereka sudah sampai di depan pintu,Leon menoleh pada Sony dan Arya yang memegang sedari tadi mengekor di belakangnya,
Sony mengangguk, seolah mengisyaratkan masuklah,
Leon memegang kenop pintu dengan tangan gemetaran,
cekrik,,,
ruangan yang begitu bersih dan rapi, di sana duduk wanita cantik yang memang sudah menantinya dengan senyuman yang luas,
Leon membeku, dadanya sesak, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya,perasaan sedih, bersalah,kecewa, semuanya tercampur aduk menjadi satu,namun yang membuat ia semakin bersalah ketika melihat wanitanya berjuang sendiri beberapa bulan ini,ia tidak bisa membayangkan itu semua,
jika ia harus memaparkan tentang perasaannya saat ini,maka itu akan sulit untuk dimengerti,
Dewi memicingkan matanya seolah-olah menggoda suami tampannya itu,
dengan senyuman manis yang selalu setia menemani wajah cantiknya,
Leon mendekat,duduk bersimpuh di lantai mensejajarkan diri pada Dewi,di memegangi kedua tangan mungil sang istri yang beberapa bulan ini ia rindukan,ada rasa haru menggerogoti pikirannya mengingat bagaimana sang istri berjuang sendiri,
Leon menenggelamkan wajahnya pada pangkuan Dewi, tiba-tiba punggungnya bergetar hebat pertanda bahwa laki-laki itu sedang menangis,,
"hey,,,Arya apa dia memang benar-benar Leon ku,,?"Dewi seolah bertanya, dengan tangan yang setia mengelus puncak kepala suaminya.
"iya nyonya,,anda sangat benar,kami mana mungkin salah membawa orang,,!"timpal Arya.
__ADS_1
"oh gitu,,!sejak kapan Leon tangguh ku berubah menjadi cengeng,,hemm,,"sekarang entah pertanyaan itu untuk siapa suasana menjadi hening,
"nyonya jika air matanya permata maka nyonya harus bagi-bagi sama kita,gak boleh serakah,,"celetuk Sony,
Arya dan Sony tidak menyangka hari ini akan melihat bos besar mereka menangis terisak di depan wanita yang di kasihnya,jadi mereka sengaja membuat kekonyolan menjadikan itu sebuah candaan.
"Dy,,"sembuh panggilan yang lembut,
membuat Leon menatapnya dengan sisa air mata yang masih mengenang di pelupuk matanya,
"maafin Dewi,,maafin Dewi membuat Deddy kecewa dengan kebohongan Dewi selama ini,,"ucapnya dengan nada lembut.
Leon menghapus sisa air matanya dengan kasar,
dan secepat kilat menggeleng,
jawaban itu seolah menyegat Dewi, seandainya waktu itu dia jujur maka Leon pasti setia menemaninya,
sekarang Dewi mendengar jawaban itu membuatnya tersudut,semua itu adalah kesalahan, membuat Leon tidak ada arti di matanya,
"karena itu Dewi minta maaf,,aku tidak bermaksud membuat deddy tiada artinya untuk Dewi, justru itu,Dewi merasa Deddy adalah segalahnya untuk Dewi,dunia Dewi,matahari Dewi yang selalu bersinar terang bagi Dewi, penuntun jalan Dewi ketika Dewi tersesat arah, kebahagiaan Dewi,Dewi tidak ingin Deddy bersedih karena itu adalah penderita Dewi,
Dewi tidak bisa melihat wajah sedih Deddy saat terakhir Dewi menutup mata,
karena itu suatu hal yang akan menyiksa Dewi sampai Dewi tiada, membawanya entah ke dunia mana, Dewi tidak ingin itu dy,"cairan bening itu menerobos begitu saja dari pelupuk mata redup Dewi.
Leon menggeleng cepat,
__ADS_1
"sayang jangan berucap demi kian,Deddy minta maaf dan terimakasih sudah mencintai Deddy setulus itu,"Leon menghapus jejak air mata Dewi yang tersisa.
sedangkan Arya dan Sony yang menjadi penonton suasana haru tersebut, terlihat bahwa mata mereka sudah berkaca-kaca,
mereka salut dengan perjuangan cinta mereka, hingga menjadikan satu sama lainnya menjadi orang yang kuat,kuat untuk berjuang,kuat dalam menghadapi masalah,
Sony dan Arya keluar dari ruangan tersebut, memberikan waktu untuk pasangan tersebut melepas rindu,
"yak kok aku iri,ingin mendapatkan wanita seperti Dewi, apakah masih ada yang tersisa seperti dirinya,aku ingin memilikinya,"celetuk Sony,
Arya memukul punggung Sony yang tiba-tiba berucap demi kian,
"iri pala luh,,! Oya gak ada lagi yang seperti Dewi,yang tercipta seperti itu hanya satu,,
atau mungkin di rumah sakit ini ada bayi baru lahir yang akan menjadi seperti Dewi,luh tunggulah tuh anak sampai menjadi perjaka tua,"ejek Arya.
"siitt,emang apa bedanya luh sama gue,, jomblo akut yang sebentar lagi menjadi perjaka tua,"omel Sony.
"beda kali,malah beda pakai kebangetan,"celetuk Arya.
"sitt, iya beda,gue memang belum memikirkan itu sedari dulu, sedangkan luh laki-laki yang tidak biasa move on,"Sony mengunakan senjata pamungkasnya,
terlihat mimik wajah Arya berbeda setelah mendengar pernyataan dari Leon,
tak bisa ia pungkiri kalau itu memang benar adanya,
dirinya yang belum juga membuka hati setelah kepergian seseorang dalam hidupnya,,
__ADS_1
bersambung...