
di sambut dengan langit berwarna biru, dimana matahari mulai berwarna jingga menuju senja,
Leon dan Dewi melangkah gagah dan anggun,
dengan di sambut sejumlah rekan, kerabat dan beberapa orang lainnya termasuk Sony dan Arya,
setelah tiga bulan berlalu,Dewi dinyatakan sembuh total, sekarang mereka sudah menginjakkan kaki di tanah kelahirannya,ucap puji syukur tak hentinya berlagu di hati Dewi, sudah di beri kesempatan untuk menikmati alam ciptaan Tuhan ini,memperbaiki diri di kehidupan kedepannya,
"selamat datang tuan,,"sapa mereka yang datang menyambut di bandara, namun tak sekali-kali mereka bertanya di dalam hati, siapakah gerangan yang berhasil mengandeng tangan tuan mereka yang super duper dingin tersebut, sayang sekali mereka tidak bisa melihat wajah itu karena terhalang masker dan kacamata hitam yang menutupi wajah perempuan tersebut.
hanya terlihat anggukan kecil sembari terus melangkah ringan karena sedang mengandeng istri cantiknya.
"selamat datang bos, selama untuk nyonya sudah sembuh,"ucap Arya ketika mereka sudah sedikit menjauh dari kerabat atau rekan Leon yang datang menyambut mereka,
"terimakasih Arya semuanya berkat kalian,,"timpal dewi lembut,
mereka menuju mobil mewah yang sudah di persiapkan, banyak wartawan dan beberapa orang bilang saja fans berat dari seorang Leon,tidak melepaskan kesempatan langkah tersebut mengambil beberapa foto untuk topik berita terbaru mereka.
setelah memasuki mobil mewah,Dewi menatap binar kota kelahirannya dari dalam mobil,ia tidak menyangka bisa kembali melihat keindahan kota tercintanya,
"sayang ada apa hem,,?"tanya Leon yang melihat bola mata istrinya sudah berkaca-kaca.
secepat kilat Dewi menggeleng,
"ingat,jangan membebani diri dengan berpikir yang macam-macam,"Leon memberikan nasehat.
"iya Dy,,"Dewi menyandarkan diri pada pundak kekar sang suami,
"aku.sangat ingin segera sampai,,"gumam Leon dengan sebuah senyum yang aneh.
"i-iya,Dewi juga capek ingin segera istirahat,,"timpal Dewi mendengar ocehan Leon.
mendengar istrinya kecapekan wajah Leon berubah menjadi masam,
bagaimana mungkin setelah sekian lama menahannya,namun kembali ia harus menahan gejolak gairah yang sudah meronta di sana setiap kali melihat tubuh istrinya.
"Dy kok diam,,"tanya Dewi karena tidak mendengar lagi celotehan suaminya.
hening....
__ADS_1
seketika Dewi memahami isi pikiran mesum suaminya,
"Dy,Dewi rindu Deddy,rindu kamar kita,,"pancing Dewi.
tiba-tiba Leon langsung buka suara,
"benarkah..!"Leon menundukkan wajahnya menatap sang istri.
"emm,,"Dewi mengangguk.
ada binar semangat di mata tajam Leon,Dewi mengetahui itu,wajar saja jika Leon merindukan dirinya sebab hampir satu tahun mereka tidak menunaikan kewajiban sepasang suami istri yang lainnya.
setelah sampai sudah beberapa pelayan yang menyambut mereka,
Leon dengan gagah mengandeng wanitanya,
melewati beberapa pelayan yang berbaris rapi menyambut mereka,
"Arya, sampaikan tugas tambahan mereka,aku tidak ingin mereka lalai dalam menjaga Dewi,,"tita Leon pada Arya.
"siap bos,,"timpal Arya. Arya menjelaskan dan memberi arahan pada beberapa pelayan agar tidak ada kesalahan sedikitpun,
"Dy aku mau mandi dulu,,"selah Dewi, karena Leon sudah menciumnya dengan agresif.
"a-iya baiklah,, Deddy boleh ikut,,"tanyanya sembari memasang wajah memohon dan berbinar agar Dewi memenuhi keinginannya.
"Dewi hanya ingin mandi sebentar agar suguhan untuk Deddy malam ini bisa segar dan wangi,"bisik Dewi menggoda suaminya agar tidak ikut ke kamar mandi, karena akan membutuhkan waktu lama jika Leon ikut bersamanya,Dewi sudah mengetahui tabiat suaminya yang hanya beralasan hemat air tersebut.
"iya baiklah,,"timpalnya dengan suara parau menahan gejolak di sana.
Dewi tersenyum menang dan segera menghilang di balik pintu kamar mandi.
"sitt, sungguh menyiksa,,"gemamnya.
jika hal ini ia rasakan dulu, sudah di pastikan ia akan mencari wanita yang bisa melayaninya untuk melampiaskan semua nafsu birahinya,
setelah Dewi selesai berganti Leon yang masuk ke kamar mandi dengan sebuah senyum yang menghiasi wajah tampannya,
Dewi menghembuskan nafas kasar setelah Leon menghilang di balik pintu,
__ADS_1
ia merasakan ia harus mempersiapkan mental untuk melayani suami kuatnya di atas ranjang.
Dewi turun ke lantai bawah untuk meminta sesuatu pada bi arsiy,
"bik, boleh Dewi minta buatkan sesuatu,,"tanyanya setelah menghampiri arsiy.
"dengan senang hati nyonya,apa itu,,?"tanya arsiy.
"ah-anu,istt,,"Dewi ragu mengatakannya.
arsiy setia menunggu permintaan Dewi dengan binar wajah bahagia bisa melihat kembali nyonya mereka.
"Dewi minta ramuan,emm a-anu,ramuan untuk begadang,,"celetuk Dewi.
bi arsiy tersenyum mendengar permintaan dari nyonya mereka,
"ramuan begadang,,!oh baiklah, nyonya tunggu sebentar bibi buatkan sepesial untuk nyonya,,"bi arsiy bergegas membuatkan permintaan Dewi,
Dewi kembali ke kamar setelah selesai meminum ramuan yang di buatkan arsiy untuknya,
"kamu dari mana,,?"tanya Leon yang bersandar pada dinding tempat tidur mereka.
"dari bawah Dy,,"Dewi duduk menghadap meja rias,melepas handuk yang masih menempel di atas kepala,
Leon yang melihat gerak-gerik Dewi merasa risih,ia merasa gerakan Dewi terlalu menggoda hingga sempurna membangkitkan gairah dalam dirinya.
Leon melempar asal ponsel yang tadinya ia pegang,
bangkit dan menghampiri Dewi,Dewi yang menatap wajah tampan suaminya dari pantulan cermin tersenyum manis,
ia tahu suaminya menginginkannya,Dewi menahannya sebentar menunggu ramuan yang di beri arsiy beraksi,
tiba-tiba Dewi merasa hawa panas menjalar di seluruh tubuhnya, gerak-geriknya tak biasa seperti orang yang sedang gelisah,
"kok panas,,"keluh Dewi sembari mengibaskan tangannya, padahal mereka menggunakan pendingin ruangan,
Dewi menatap suaminya berbinar,ia seakan menginginkan sentuhan suaminya,namun ragu untuk memulainya sebab ia sendirilah yang menunda aktivitas malam mereka,,,
bersambung....
__ADS_1