
jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Leon baru saja menginjakan kakinya pulang ke kediamannya untuk istirahat menemui peraduannya.
keadaan rumah yang sudah sedikit sunyi, dimana para pelayan sudah beristirahat tersisa hanya beberapa saja untuk menyiapkan makanan untuk Leon.
"bik apa Dewi sudah tidur,,?"tanya Leon.
"iya tuan,,, nyonya sedari tadi sudah di kamarnya,"timpal arsiy.
"oh baiklah,, bereskan makanannya aku sudah makan di kantor,,"ucap Leon lagi.
"baik tuan,, Oya nyonya Dewi lupa meminum susunya,,"arsiy memberikan segelas susu untuk kebutuhan ibu hamil.
Leon mengerutkan keningnya bingung, kenapa istrinya ini menjadi ceroboh mengabaikan kesehatannya.
Leon meraih susunya dan segera membawa ke kamar mereka.
"sayang,,kamu sudah tidur,,,?"tanya Leon yang melihat lampu kamar yang sudah redup.
hening,,!tak ada jawaban, saat ia menghidupkan lampu kamarnya,ia melihat istrinya sudah meringkuk di bawa selimut tebalnya,
wajahnya yang polos, sangat sedap di pandang ketika mata itu terpejam,Leon hanya tersenyum menatap.
"apa anak istri Deddy baik-baik saja hari ini,,"celoteh Leon,ia menghujani Dewi dengan sebuah kecupan yang hangat,
akan tetapi mata Leon tertuju pada bibir mungil yang sedikit terbuka,ia tidak melewatkan kesempatan langsung mengecup singkat bibir ranum itu, hingga sang empunya merasa terganggu, perlahan membuka matanya.
"sayang,,kamu sudah pulang,,"ucap Dewi dengan suara lembut sebab ia masih terlalu mengantuk.
Leon tersenyum bahagia mendengar Dewi memangilnya dengan sebutan saya, perubahan istrinya semakin hari semakin meningkat.
"baru saja,,kamu masih ngantuk,maaf Deddy menganggu mu,,"Leon mengelus puncak kepala Dewi.
"tapi mengapa kamu lupa minum susunya,,kamu harus ingat kesehatan bayi kecil kita di sana,,"sambung Leon.
__ADS_1
mata Dewi tertuju pada segelas susu di atas meja yang baru Leon bawa.
"aku gak suka susu,aku mual saat mencium baunya,,"elak Dewi.
"kok bisa seperti itu,biar aku telpon Sony,,"Leon segera mengeluarkan ponselnya.
"hey,, ini sudah larut sayang,besok saja sekalian Dewi mau periksa ke dokter,,"Dewi melarang Leon yang masih dengan maunya sendiri.
"Oh,okeh,,!"Leon bergegas ke kamar mandi.
keesokan harinya,Dewi sudah berdandan dengan cantik mengantar suaminya ke depan.
"benar gak ingin di temani,,!"Leon merasa khawatir dengan istrinya.
"Dewi pergi dengan bik arsiy,,di antara sama supir,kamu jangan khawatir,,"timpalnya.
"okeh baiklah,kamu hati-hati, jaga selalu buah cinta kita,,"Leon mengelus perut istrinya yang masih rata.
"kami akan baik-baik saja Daddy,,"Dewi meniru suara anak kecil seolah mewakili bayi mereka.
Dewi hanya mengangguk menangapi Leon,
sepeninggalan Leon Dewi bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit memeriksa kandungannya.
"bik,bibi sudah siap,?"tanyanya.
"iya Nya,,"arsiy mengikuti Dewi.
mereka berangkat di antara sopir, terlihat wajah Dewi berseri-seri karena bahagia.
"nyonya bahagia,,?"tanya arsiy.
"bibi ngomong apa,sebagai seorang istri pasti Dewi bahagia,,siap yang tidak bahagia ketika dirinya akan menjadi seorang ibu,"jawab Dewi.
__ADS_1
"syukurlah,bibi juga turut bahagia, akhirnya kalian di berikan kepercayaan untuk menjaga titipannya,,"timpal arsiy.
"emm,, terimakasih ya bik, tapi,,!"dewi menghentikan ucapannya dengan raut wajah sedihnya.
"ada apa Nya,,"arsiy penasaran.
"kebanyakan orang hamil akan gendut bik, bagaimana kalau Leon berpaling karena istrinya yang sudah tidak menarik lagi,pipi tembem,ahaahhh,,"Dewi menggeleng.
"nyonya ada-ada saja, bagaimana mungkin,,! kalaupun ada seorang suami yang seperti itu saat istrinya mengandung dara dagingnya, namanya itu laki-laki gila nyonya,,"ujar arsiy.
"dari dulu suami Dewi kan memang sudah gila bik,,Persia tampan yang memiliki beberapa wanita untuk memuaskannya,,kalau bukan gila itu namanya apa coba,,,!"seru Dewi.
"hehehe, nyonya ada benarnya juga, tapikan saat ia sudah menikah ia tidak mengulangi kegilaannya lagi,itu berarti tuan Leon memang mencintai nyonya dengan sungguh,,"tutur arsiy.
"Dewi merasa paling beruntung memilikinya bik,, untuk saat ini ia adalah segalanya buat Dewi, laki-laki sempurna yang mau menerima Dewi dan keluarga Dewi apa adanya,,"ucap Dewi dengan bola mata yang sudah berkaca.
Dewi mengungkapkan semua perasaannya pada arsiy, terkadang ia tersenyum ketir ketika mengingat masa-masa ia berjuang melawan penyakitnya demi Leon.
setibanya di rumah sakit Dewi dan bik arsiy menuju ruangan yang di janjikan,
"pagi dok,,,"sapa Dewi.
"pagi nyonya, silakan duduk, bagaimana kabar nyonya Dewi,,"tanya dokter cantik yang menangani Dewi.
"baik dok,, cuma saya mual ketika menghirup aroma yang tidak saya sukai,,"keluh Dewi.
"oh,itu hal biasa nyonya, nyonya ikut saya kita melihat perkembangan benih dari seorang Leon,apa ia akan cerdas seperti ayahnya,atau cantik seperti ibunya nanti,,"dokter Zea menerawang bagaimana saat anak dari Leon lahir menggemparkan kalangan pebisnis.
"dokter bisa aja,, dokter juga sangat cantik,,"balas Dewi dengan tubuh sudah berbaring.
dokter Zea tersenyum manis saat layar monitor menampilkan gambar janin yang baru sebesar biji kacang tersebut,
sedangkan Dewi bisa melihat tapi belum sepenuhnya mengerti,ia hanya menunggu dokter Zea menjelaskannya.
__ADS_1
bersambung.