
Dewi yang baru membuka matanya,ia kaget mendengar begitu banyak warga yang berkumpul di depan rumahnya,
"Dewi,Dewi keluar kamu,,,"ucap Herlin
"keluar kamu"terik warga.
Dewi yang baru bangun langsung membuka pintunya dan mengucek matanya yang belum bisa melihat jelas keren memang ia belum sepenuhnya sadar.
"ada apa,,?"tanyanya heran.
"dasar wanita ******, sekarang kamu pergi dari desa ini,kami gak mau desa ini jadi tercemar oleh wanita kotor seperti mu,,,"ucap warga.
"maksudnya apa,,,"tanya Dewi meminta penjelasan.
"Dewi kami lihat sendiri, laki-laki pemilik pabrik di desa kita ini keluar dari rumah kamu semalam,kalau bukan berbuat zinah apa lagi,,, kalian pasti lakukan hal yang tak senonoh,,,"terik Herlin, yang membuat warga melempari Dewi,
"pak lurah,pak lurah percaya kan sama Dewi,Dewi gak mungkin melakukan seperti yang mereka tuduhkan pada Dewi,,"tuturnya sembari dengan deraiyan air mata.
"maafin bapak wik,bapak tak bisa berbuat apa-apa jika menang mereka sudah melihat kebenarannya sendiri"tutur lurah.
"Uda seret saja dia,ayo"ucap Herlin.
para warga menyeret Dewi, beberapa orang tega memukul dan menjambak rambutnya,
Dewi tak bisa lagi melawan, karena jumlah mereka yang terbilang banyak,
"hentikan,,"suara bariton Leon menghentikan perbuatan warga.
warga langsung menoleh ke asal suara, dimana Leon tengah berdiri gagahnya dengan beberapa bodyguard di belakangnya,
mereka menelan ludah melihat siapa yang datang,
__ADS_1
Leon menghampiri Dewi, membuat Dewi bersandar di dada bidangnya dengan tangisan yang sangat pilu,
"atas dasar apa kalian menyakitinya hah,,atas dasar apa kalian mencaci makinya,,"ucapnya dengan keras karena sudah tersorot emosi, yang kian memuncak,membuat para warganya pada diam dan tegang,
"maaf pak Leon,kami hanya menjalankan protokol dan peraturan yang berlaku di desa ini,kami tak akan segan-segan mengusir dan menyiksa siapa saja yang melakukan pelanggar perturan seperti berzina,"ucap lurah.
"siapa yang kalian maksud berzina,,,"teriaknya lagi menyisakan tanda tanya.
"saya melihat sendiri,bapak keluar dari rumah Dewi malam-malam,itu apa namanya kalau bukan kalian melakukan zinah,,,!"ucap Herlin
"iya betul,betul,"timpal para warga.
Leon melemparkan tatapan tajam ke semua warga, karena menuduh melakukan hal serupa,
"dia istriku,,, apakah yang kami lakukan adalah perzinahan,dasar bodoh, kalian sadar dengan apa yang telah kalian lakukan,,, saya biasa saja meratakan desa ini dengan tanah dalam sekejap, kalian harus membayar apa yang telah kalian perbuat"Leon sudah tak bisa membendung emosinya menghadapi semua warga yang menurutnya bodoh.
para warga tercengang, mendengar penuturan Leon barusan yang mengatakan Dewi adalah istrinya,rasa kuatir di dalam diri mereka beserta rasa takut yang teramat besar,
"Arya, urus mereka,, saya tidak ingin tahu,bawah padaku yang sudah berani menyentuh istriku,"Leon membawa Dewi ke mobil sport miliknya menuju villa.
"maaf pak,soal itu saya tidak bisa memutuskan, saya juga tidak bisa menjamin bahwa desa ini akan baik-baik saja, karena kalian telah menyinggungnya, kalian tahu,,,? jangankan orang desa seperti kalian,bahkan pengusaha besar meringkuk bersujud meminta maaf jika sudah menyinggungnya orang besar seperti pak Leon"tutur Leon mendominasi warga.
"ini semua gara-gara kamu Herlin,kami tidak mau tahu kamu harus bertanggung jawab atas semuanya"ucap ibu-ibu lainnya.
"iya betul,kamu sih sudah bawa berita bohong ke warga, sekarang kesejahteraan kita terancam,itu gara-gara kamu"para warga menyalahkan Herlin.
Herlin pergi begitu saja tanpa memperdulikan Omelan para warga,
tiba-tiba ponsel milik Arya berdering,
melihat sebuah email masuk,
__ADS_1
ia meminta Arya segera kembali ke villa,
di villa Leon marah-marah namun Dewi sebisa mungkin memadamkan api emosi Leon yang masih menyala,
"baiklah aku tidak akan menuntut mereka namu aku ingin kamu hari ini kamu berkemas, nanti sore kita kembali"ucapnya to the point',tak ingin di bantah
mau tak mau Dewi menuruti keinginan Leon supaya laki-laki ini tidak memperbes masalahnya pada warga,
hanya karena kesalahpahaman,
Dewi pergi ke rumah yang ia tempati beberapa bulan ini,ia melihat beberapa ibu-ibu yang menunggunya di sana,
"wik,kami minta maaf ya,,Uda salah paham sama kamu"ucap mereka dengan waja sendu
"gak apa-apa bu,Dewi juga minta maaf kalau sudah menganggu ketentraman warga di sini,nanti sore aku akan kembali"tuturnya seramah mungkin.
"Oya wik, emangnya kenapa kamu pergi meninggalkan Sumi kamu,,,?"tanya warga kepoh.
"bukan apa-apa, hanya saja Dewi menolak keinginan suami Dewi untuk membeli sebuah pulau untuk hadiah pernikahan kami"ucap Dewi yang sedikit di buat-buat,
ibu-ibu rumpi itu pada tercengang mendengar penuturan Dewi,
hehe rasain nih pada ibu-ibu yang kepoh,gue panas-panasin aja biar tambah tau rasa,batin Dewi.
***bersambung,,,
maaf ya.. para pembaca ku ,,
di tempat author terjadi pemadaman listrik beberapa hari,
jadi up-nya kadang-kadang gak nentu,tapi author akan berusaha sekeras mungkin untuk up,
__ADS_1
mohon do'anya semoga di beri kelancaran untuk perbaikan listriknya di daerah author,,
terimakasih ☺️***....