Dewi Kampus Vs CEO Muda

Dewi Kampus Vs CEO Muda
kenangan


__ADS_3

hari sudah menjelang sore Langi biru yang mulai berangsur menjadi jingga,Dewi pulang ke rumahnya setelah memastikan bahwa Vito sudah benar-benar check out dari hotel terbesar yang ada di kotanya,


setelah sampai di rumah dengan langkah gontai ia menuju kamarnya,ia masih membawa kecewa dengan rasa penasaran pulang ke rumah bersamanya,


"wik,kamu dari mana?kok mukanya di tekuk begitu sayang! kamu kenapa?,"tanya Desi ibundanya


"tak apa-apa bunda,Dewi hanya kecapekan aja!,"tutur Dewi sedikit berbohong,tidak mau bundanya khawatir,dengan masala pribadinya,


"oh,ya udah kamu mandi dulu sana, bunda tunggu di bawa, hari ini bunda masak kesukaan kamu loh"seru Dewi.


"benar bunda,"Dewi memastikan,


Desi mengangguk,


"ya uda aku mandi dulu ya bunda,Dewi juga sedikit lapar hehehe"Dewi tertawa menampakkan deretan gigi putihnya.


Dewi melanjutkan langkahnya,


berlari kecil menuju kamarnya,ia tak sabar ingin menyantap makanan kesukaannya,


setidaknya dengan makan makan ia bisa melupakan masalahnya walaupun hanya bersifat sementara,


ia adalah gadis yang cerdas, yang bisa mengatasi suasana hatinya ketika bersama keluarganya,


***


sedangkan di sisi lain, Leon masih sibuk berkutat dengan dunia kerjanya, karena ia hanya datang sesekali di hotel cabang miliknya itu, sebab itulah ia sampai-sampai ia tak menyadari hari sudah menunjukan pukul 16:23


sore, laki-laki tampan itu bernapas sejenak,ia menyingkirkan beberapa dokumen dan menutup laptopnya,

__ADS_1


Leon menyandarkan dirinya di kursi kebesarannya, meregangkan otot-ototnya yang kaku,ia mengingat kembali saat Dewi mengatainya pria beristri,yang membuat ia mengerutkan keningnya,


penasaran atas dasar apa gadis itu mengatainya sedemikian,


"apa aku sudah cukup tua,aiss gadis yang aneh, " batinnya.


jika selama ini semua gadis berharap ia belum mempunyai pasangan lain halnya dengan Dewi mengatainya pria beristri,


Leon beranjak dari kursinya, melangkah ke luar ingin pulang karena hari yang memang sudah begitu sore,


namun saat itupun Arya membuka pintu ruangan Leon,


"sorry boss, saya menemukan sebuah handphone,kemungkinan milik gadis yang tadi siang menabrak kamu di lobby, mungkin ia tak sengaja menjatuhkan handphonenya,"ucap Arya sembari memberikan handphone yang ia temukan sebelumnya,


Leon meraihnya,memblok balikan handphone itu,melihatnya secara jelas, saat ia menekan tombol on off,benar saja,itu memang benar handphone milik Dewi secara foto profilnya, adalah foto ia sedang tersenyum renyah,Leon menyunggingkan bibirnya membentuk sebuah senyuman yang teramat tipis,


tak terlihat sama sekali,


Leon langsung meletakkannya ke dalam tas kerjanya,


seperti kata pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba,


ia bisa mengetahui sepenuhnya,siapa orang yang sudah berani mengatainya pria beristri,


dengan langka jenjangnya Leon ke luar hotel cabangnya,


"yak,aku akan pulang ke rumah,besok mungkin aku akan sedikit terlambat ke kantor jangan menunggu ku"ucapnya tanpa ekspresi sama sekali,


Arya tertegun sejenak, apa telinganya yang sedang bermasalah, sehingga salah dengar, mendengar penuturan bos besarnya ini,

__ADS_1


atau mungkin ia sedang berhalusinasi, biasanya ia mengeluarkan segala jurus untuk merayu sang bos untuk pulang kerumahnya,


berharap melupakan semua masa lalu yang masih abadi bersemayam di dalam diri Leon,


"ada apa??"tanya Leon melihat Arya menatapnya dengan bingung,


"oh,tidak aku hanya merasa ada sesuatu yang tertinggal"elaknya tak ingin mencari masalah dengan


Leon, pria tampan itu jarang sekali pulang ke rumahnya,


karena beberapa kenangan yang tak mungkin ia lupakan sampai saat ini,


di mobilnya Leon fokus pada jalanan,


jalanan yang sedikit senggang membuat pria tampan itu leluasa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi,di sebuah rumah berpagarkan dinding yang menjulang tinggi, gerbang terbuka secara otomatis, seperti mengenali sang empu rumah,


tak bisa di pungkiri, Leon sedikit merindukan rumah istananya, merindukan suasana nyaman dan hangat ketika ia kecil, sebelum ada badai mengikis habis semua kehangatan menjadi dingin mencekam bak istana salju,


saat kecil ia di suguhkan begitu banyak kebahagiaan,


tapi di hempasan dengan satu kehancuran yang teramat besar,


orang tuanya memilih meninggalkannya sendirian di dunia yang kejam ini,


mereka rela mengorbankan nyawanya sendiri demi putra tercintanya,,,


***bersambung,,,


next ya, terimakasih yang sudah mampir,,,☺️☺️☺️🙏***

__ADS_1


__ADS_2