
kepalanya terasa berat,bergerak pun terasa letih seakan tak ada tenaga sama sekali,
membuka kelopak mata pun terasa sulit,
ia perlahan membuka matanya dengan sekuat tenaga samar-samar yang pertama Dewi lihat ialah wajah suaminya yang tengah tersenyum,
"Dy,Dewi dimana,,?"tanyanya pelan.
"kamu di kamar,tadi kamu pingsan,,kenapa bisa begitu Hem,,?"Leon mengecup kening sang istri, tanpa memikirkan mereka yang di sekitar,
Sony dan Arya hanya menggeleng tak percaya, jiwa jomblo mereka seakan meronta-ronta,
"gak tau juga,, akhir-akhir ini Dewi muda sekali merasa capek,,?"keluhnya.
"nyonya, sepertinya tembakan ku benar,,kapan terakhir nyonya datang bulan,,?"tanya Sony tiba-tiba,
Arya kembali menggeleng, mereka berdua memang sama-sama cocok berteman,
tidak berpikir terlebih dahulu sebelum berucap,
Dewi yang mendapatkan pertanyaan demi kian merasa malu, wajahnya terlihat seperti kepiting rebus,
bisa-bisanya temanya Leon bertanya masalah perempuan dengan begitu santainya,ia lupa kalau Sony memang berprofesi sebagai dokter,
ada harapan di wajah Leon, bagaimanapun ia sangat mengimpikan menjadi seorang ayah, mempunyai keluarga kecil yang utuh dengan kehadiran bua cinta mereka berdua,
"sayang kok bengong,,?"tanya Leon, melihat Dewi tidak menjawab pertanyaan Sony.
__ADS_1
"eh iya Dok,aku juga sudah lupa,kapan terakhir aku datang bulan,,"timpal Dewi gelagapan.
"untuk memastikan nyonya Dewi bisa tes urine biar lebih jelas lagi,"Sony memberikan satu benda yang masih rapi dengan kotaknya.
"apa harus sekarang Dok,,?"tanya Dewi sembari membolak-balik benda yang baru saja Sony berikan,
"untuk hasil yang lebih maksimal,bisa nyonya lakukan di pagi hari,ketikan nyonya buang air kecil pertama kali setelah bangun tidur,,"timpal Sony,
"oh terimakasih ya Dok,,"ucap Dewi.
Sony mengangguk,
"Yon aku permisi dulu,jika hasilnya positif maka Luh bawa Dewi ke dokter spesialis kandungan, semoga kehamilan nyonya Dewi tidak merepotkan mu sebagai calon ayah,,?"tutur Sony sembari nyengir kuda menatap Leon.
"maksud Luh apa hah..?"omel Leon.
"gue pamit dulu,,!"Leon memukul pelan bahu Leon yang sedang bingung.
Leon mengangguk,ia mengantar Sony dan Arya kedepan, terlihat tiga pria tampan itu berbincang-bincang hangat layaknya orang biasa, melupakan kedudukannya untuk sesaat,
saat duduk di sekolah menengah atas, mereka menjadi idola para setiap wanita, pesona mereka bertiga menjadi topik utama sebelum mereka meninggalkan tanah kelahiran untuk melanjutkan jenjang pendidikannya.
"yak,Luh kapan nyusul tuh Leon,muka Luh terlalu tebal sepertinya,sampai sekarang masih jomblo akut,,?"tanya Sony.
Arya mengerutkan keningnya, bisa-bisa Sony berucap demi kian,lupa akan setatus dirinya yang masih melajang sampai saat ini.
"Luh buat pertanyaan kayak gitu buat gue atau buat diri Luh sendiri,,?"Arya membalikkan pertanyaan Sony untuknya.
__ADS_1
"gue tuh bedah yak,,gue masih mencari yang cocok untuk pasangan gue nanti,,"timpal Sony santai.
"itu sama saja tahu,, lagipula apa susahnya cari pasangan cocok buat luh,tinggal cari orang gila,kan cocok sama-sama gila,,,!"celetuk Leon yang sedari tadi mendengar perang sengit antara dua sahabatnya.
"luh gak asyik yon, mentang mentang sudah punya bidadari hasil perjodohan,bukan hasil jerih payah sendiri,,"timpal Sony menyudutkan Leon.
"terserah,itu mah jalan jodoh gue sama Dewi, ayolah dong kalian kapan nikahnya,nanti gue kasih hadiah spesial siapa yang pertama menikah diantara kalian berdua,,"seru Leon.
"bos,Luh ngomong gitu sebab Luh tau kita sampai sekarang masih menjomblo kan, memenangkan hati para wanita itu susah bos,rumit pula, lebih mudah memenangkan tender proyek yang besar di berbagai perusahaan,,"timpal Arya.
"iya,,lebih mudah melakukan operasi orang yang sudah sekarat,,"balas Sony.
"terus kalian mau sampai kapan melajang, bisa-bisa Luh berdua pada jadi bujang lapuk,,"celetuk Leon.
"nantilah bos,kita belum kepikiran ke arah sana,, saya mau merintis karir saya yang masih mengambang,"ucap Arya.
Sony dan Leon bingung, dengan ucapan Arya mengambang,
"Yon emang karirnya masih mengambang,"tanya Sony bingung.
Leon menaik turunkan sebelah alisnya, iapun merasa bingung dengan ucapan Arya.
"maksud gue gue harus punya usah sendiri,,gak mungkin juga gue bawa anak bini gue numpang hidup sama Leon,"jawab Arya.
"luh apaan yak,,perusaan itu kita bangun bersama,kita kembangkan bersama,bahkan untuk bisa sebesar sekarang itu jerih payah kita berdua, susah senang kita rasakan bersama,gue gak mungkin susahnya saja sama luh,Luh juga berhak atas perusahaan itu,,"timpal Leon dengan raut sedih,
"tapikan gue kerja sama luh,gue dapat upah dari semua yang gue lakukan untuk perusaan itu,, yang berjuang itu luh Yon,luh mati-matian untuk mengangkat nama Luh menjadi nomor satu untuk sekarang, menurut gue Luh memang pantas mendapatkan gelar itu, dimana gue lihat kegigihan luh,kerja keras luh, saat perusaan terpuruk luh masih memikirkan gaji buat gue dan karyawan lainnya,gue bangga banget bisa mendampingi luh,gue bangga mempunyai teman segigih luh,,"tutur Arya dengan perasaan haru.
__ADS_1
bersambung..