Dewi Kampus Vs CEO Muda

Dewi Kampus Vs CEO Muda
hubungan rumit.


__ADS_3

tiba saatnya dimana mereka mencari tempat magang sesuai jalur jurusan pendidikan yang mereka tempuh,


dewi dan teman-temannya sudah sampai di gedung perkantoran suaminya,


namun saat mereka masuk ke lobby utama, mereka tidak sengaja berpapasan dengan Kalis,


"bagus banget ya kalian,yakin bakalan di terima di perusahaan ini,,"hardik Kalis menyindir.


"hey, kita disini bukan buat cari keributan,Luh punya pendidikan tapi sikap dan perilaku kamu seperti seseorang yang tidak menempuh pendidikan sama sekali,jadi saya tegaskan untuk tidak membuat keributan di sini,"timpal tegas Dewi.


"kenapa Luh takut,ya jelaslah luh takut secara luh bukan siapa-siapa di sini,"Kalis tak mau kalah.


"terserah,,yuk Riz buang waktu saja,"Dewi meninggalkan Kalis.


"awas saja Dewi,disini gue yang akan membuat Luh malu,"Kalis tersenyum.


Dewi dan teman-temannya memang datang sedikit lebih pagi,


jadi ia belum melihat batang hidung suaminya sama sekali,


"sudahlah,,"keluhnya,ia menghadap ke HDR untuk mengurus segala sesuatunya.


bukan sesuatu yang sulit untuk Dewi mendapatkan persetujuan untuk magang disana meskipun tanpa bantuan suaminya, secara ia memiliki prestasi dan wajah yang sangat mumpuni untuk bekerja di sana.


saat ia keluar ia tak sengaja berpapasan dengan Herwan,


"ayah,,,"panggilan Dewi melihat sosok sang ayah yang rapi.


"Dewi,kamu ngapain datang ke sini,,?"tanya Herwan melihat Putri sematawayangnya.


"Dewi mau magang di Perusahaan ini yah,ayah bekerja,,? sejak kapan?,kok gak kasih tahu Dewi,?"tanya Dewi.


"nanyanya jangan di borong dong wik,ayah kan jadi bingung mau jawab yang mana dulu,,"keluh Herwan.


"hehe,,habis ayah bos ayah gak pernah cerita sama Dewi,,"kekeh Dewi.


geby dan Rizka dibuat bingung dengan ucapan sahabatnya ini,


"wik, emangnya segitu perlunya hingga bos om Herwan harus ngomong sama luh,,makin hari sikap Luh makin aneh deh,,!"celetuk Rizka.


"iya kesabet mungkin nih anak,,"nyinyir geby.

__ADS_1


"ya mungkin bos bokap gue kurang kerjaan,terus ngejar-ngejar gue buat ngomongin soal bokap gue,"celoteh Dewi,


"sitt,,gawur luh,,"Rizka memukul bahu sahabatnya yang mulai ngelantur menurutnya.


"Om Herwan hebat ya bisa bekerja di perusahaan ini,,"puji Rizka.


"semua hanya kebetulan Riz,on bukan hebat,hanya saja waktu itu keberuntungan berpihak pada Om,,"timpal Herwan.


"yang aku dengar perusahaan ini begitu ketat dalam penerimaan karyawan kerja om,harus memiliki kinerja yang baik dan memiliki skill yang mumpuni dalam berbagai bidang,aku yakin om memiliki salah satunya,sebab itu om bisa bekerja di sini,,"jelas Rizka.


"Uda yuk,, nanti bokap gue telat masuk,,"Dewi mengalihkan perhatian,ia takut akan keceplosan jika terusan bersama ayahnya.


"yah,Dewi ke lobby ya,, menunggu informasi selanjutnya,,"pamit Dewi.


"iya,kalian hati-hati,jangan bikin keributan di sini,,"nasehat sang ayah.


"iya yah,"Dewi mengangguk patuh.


"dah Om,,"Rizka dan Geby membuntuti Dewi yang sudah melangkah duluan.


ketika mereka sedang di ruang tunggu, mereka melihat semua karyawan menyambut seseorang yang baru saja datang,


berbaris rapi dengan pakaian yang rapi dan bersih, sungguh perusahaan yang membuat mereka terkagum-kagum.


karena penasaran, merekapun ikutan berbaris berbaur dengan karyawan lainnya.


terlihat Leon memasuki gedungnya dibuntuti dengan Arya yang selalu mengekor di belakangnya.


Dewi merasa kagum dengan sosok suaminya ketika berada di kantor, begitu gagah dan menawan,tapi Dewi melihat wajah Leon sangat datar dan lebih dingin,berbeda ketika bersamanya,Leon berubah menjadi kucing imut yang manis.


sedangkan mata Rizka terbelalak melihat Arya, padahal ia ingin menghindari pria dingin itu sejauh mungkin.


"pagi bos,,"ucap serentak semua karyawan dengan sedikit membungkuk.


Leon masih seperti kebiasaannya, berlalu begitu saja tanpa menjawab sapaan mereka.


"hanya ini,?,"celetuk geby.


"emangnya kenapa,?,"jawab Rizka bingung.


"untuk apa juga di sambut,kalau tidak ada tutur sapa yang terucap,,"omel geby.

__ADS_1


"namanya juga penguasa,harus sesuai peraturan yang telah ia buat,,"timpal Rizka.


"wik kok bengong,,?"tanya geby membuyarkan lamunan Dewi.


"eh iya,, kita duduk dulu lagi,,"Dewi kembali duduk ke tempat mereka semula.


beberapa saat mereka di panggil ke ruangan untuk menyelesaikan beberapa berkas lamaran sesuai dengan protokol.


"pagi Pak,"ucap geby, mereka menghadap Arya.


"duduklah,,"Arya memberikan beberapa berkas untuk mereka,


"isi dan lekas tanda tangan,, setelah itu kalian sudah bisa mulai bekerja besoknya,,"sambungnya.


mereka dengan telaten mengisi formulir yang di berikan Arya,tak butuh waktu lama merekapun selesai.


Rizka langsung beranjak dan keluar setelah selesai,tak ingin berlama-lama di dalam ruangan yang hanya ada perang dingin antara mereka.


geby segera menyusul Rizka,tak ingi sahabatnya itu berlarut dalam kesedihannya.


"kalian kenapa,,?"tanya Dewi sembari memberikan berkas-berkas yang telah mereka isi.


Arya terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari Dewi,


"aku hanya tak ingin perasaan terhadap ku lebih jauh lagi, yang akan membuat ia tersakiti,,"jawab Arya dengan wajah datar.


"apa ia salah memiliki perasaan itu,,"tanya Dewi kembali.


"aku hanya tak ingin ia tersakiti itu saja,,"timpal singkat Arya.


Dewi membuang nafasnya kasar,


"baiklah saya permisi,"Dewi menyusul kedua temannya.


tapi mereka sudah tidak terlihat lagi,


"mereka kemana,,?"gumam Dewi.


"mengapa mereka menempuh perjalanan yang lebih rumit dari ku,"cicit Dewi.


di ujung koridor ia melihat Kalis akan pergi ke suatu ruangan,

__ADS_1


dengan sebuah keberanian empat lima ia menyusulnya,tak ingin kembali terjadi sesuatu dengan suami mesumnya.


bersambung.


__ADS_2