
rasa lelah, letih dan penat yang tengah di alami pria yang baru saja melangkah masuk ke rumahnya itu, sehabis menghabiskan waktunya dengan bekerja,
Leon buru-buru pulang hanya karena ucapan Dewi selalu terngiang di telinganya,
aku menantimu pulang,
entah mengapa ucapan Dewi menjadi stamina seharian Leon bekerja, terlihat sesekali pria tampan ini tersenyum sendiri seperti sedang kesurupan setan halu, karena kelakuannya yang tak seperti biasanya,
"tuan baru pulang"arsiy melihat Leon bersandar di sofa ruang tamu,
"Leon mengangguk"sesungguhnya ia teramat susah melangkah masuk kerumahnya sendiri,
kakinya seakan gemetar tak kuasa, kadang langkahnya tertatih-tatih seakan begitu berat untuk melakukan hal yang seharusnya tidak ia takuti,
"bik, tolong buatkan teh panas ya"pintanya dengan bibir gemetar,
"baik tuan,tuan tak apa-apa,,?,apa perlu saya panggilkan nyonya,,!"tutur Arsiy
"tak usah bik,"ucapnya berat,Leon memegangi tengkuknya yang terasa sakit karena menahan gejolak yang mulai menggerayangi pikirannya,
Dewi yang baru saja turun karena ingin mengambil sesuatu, langkahnya terhenti karena melihat suaminya yang baru pulang dan ada hal aneh menurutnya,
"kamu tak apa-apa,,"Dewi memegangi pundak Leon dari belakang karena terhalang sofa antara mereka berdua,
Leon menggeleng,namun Dewi melihat cucuran keringat dingin mulai membasahi kening suaminya,
Dewi melangkah mendekati Leon yang sedang tertunduk,ia duduk di sampingnya seolah ingin memberi kekuatan untuk orang yang telah mengisi lerung hatinya saat ini,
"jika kamu memerlukan sandaran maka aku bersedia menjadi sandaran itu, meskipun aku sendiri juga tak begitu yakin bahwa sandaran itu lebih kuat dari yang bersandar itu sendiri"ucap dewi tulus,
Leon menoleh dan menatap dalam mata Dwi mencoba mencari kebohongan di sana namun ia tak kunjung menemukanya,
"sebelum memutuskan untuk menjadi sandaran seseorang, yakinkan dulu bahwa dirimu lebih kuat darinya,,"remeh leon
__ADS_1
"namun itu tidak untukku,menjadi sandaran bukan karena kita lebih kuat darinya,namun meyakini bahwa kita bisa menjadi tempatnya berbagi, tempatnya berkeluh-kesah,tidak untuk yang berdiri dan kokoh, siapapun itu bisa asalkan kita sudah memastikan kita sudah mempercayainya atau belum,"tutur Dewi bijak
"apa kau percaya padaku, padahal yang kulakukan semuanya adalah sebuah kebohongan"kekeh Leon sinis
"aku mencobanya, urusan yang lain itu terserah padamu,"balas Dewi talak
Dewi melangkah pergi menuju kamarnya,ia berbalik ke arah Leon yang masih menatapnya,
"aku sudah siapkan air hangat untuk mu, berendam lah agar lebih fresh,"Dewi melanjutkan langkahnya yang tertunda
setelah menyeruput habis secangkir teh panas yang baru di buatkan bik arsiy, Leon pergi ke kamarnya,
setelah membukakan pintunya pemandangan pertama kali yang ia lihat adalah sang istri yang duduk di meja riasnya,
Leon melangkah dengan sedikit mengendorkan dasi di lehernya, setelah beberapa saat memperhatikan istrinya ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, merasa sudah puas beraktivitas di kamar mandi, Leon melenggang melewati Dewi hanya dengan mengunakan handuk kecil yang menutupi sebagian tubuhnya yang penting, tentu hal tersebut tak luput dari perhatian Dewi ia merasa salah tingkah akibat ulah konyol sang suami,
"mengapa melihatnya seperti itu"ucap Leon yang menghentikan langkahnya untuk pergi ke kamar gantinya,
"aku melihatnya Dewi,,,!jangan mengelak"Leon sengaja menggoda istrinya
"siap yang mengelak hah,,"Dewi berdiri karena tak terima di tuduh Leon
"itu tadi apa barusan"Leon membusungkan dada seolah menantang sang istri
"apa,,,! maksud kamu apa hah, menuduhku melihatnya ,gak sudih aku melihat barang milikmu"ucap Dewi yang mendekati Leon dan menunjuk-nunjuk beberapa bagian tubuh Leon,,
"siapa juga yang menuduhmu melihat barangku,kamu saja yang terlalu nigatif"Leon menjitak kepala Dewi,
pipi Dewi merah padam karena malu, bisa-bisa ia salah paham seperti itu, bukankah itu sama saja dengan ia menunjukkan jalan pikirannya sendiri,
Dewi pergi begitu saja setelah tak bisa apa-apa lagi,
"mau kemana,,?"kekeh Leon yang melihat tingkah sang istri,
__ADS_1
"pergi,,"balas Dewi Dengan terus menjauh,
"hey,aku belum selesai,,!"
"terserah"ucap Dewi sayup-sayup yang masih terdengar oleh Leon lantaran ia yang terus menjauh,
Dewi mengutuk dirinya sendiri,
"hah, bisa-bisa saya sebodoh ini, goblok goblok,"cicitnya dengan memukul-mukul kepalanya sendiri,
"nyonya kenapa,,"tanya bik arsiy heran
"eh bibik,tidak apa-apa bik,,,"Dewi malu yang kedua kalinya karena sikapnya,
setelah mengambil segelas susu Dewi pergi ke balkon menikmati pemandangan malam yang indah,
anak rambutnya tersibak angin yang berhembus,
membentuk sebuah lambaian yang lembut, memperlihatkan leher jenjangnya
menyisakan sebuah pemandangan yang indah,
jari jemarinya mulai melakukan kegiatan iya itu memeluk tubuhnya yang dalam kedinginan,
wanita itu memeluk tubuhnya sendiri dengan damai,
ketik ia melihat adanya sebuah bintang yang jatuh, membuat wanita itu memejamkan matanya mengucapkan sebuah keinginan di sana,
saat ia membuka matanya, pemandangan pertama yang ia lihat iya itu, laki-laki tampan yang gagah,
pahatan yang luar biasa yang tidak memiliki cacat dan celah, sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna,
bersambung,,,,
__ADS_1