Dewi Kampus Vs CEO Muda

Dewi Kampus Vs CEO Muda
tinggal bersama


__ADS_3

setelah sesampainya di kediaman tuan suaminya itu,Dewi melenggang masuk di sambut puluhan pelayan di rumahnya Leon,


"selamat datang nyonya,,"ucap semua pelayan membungkuk,


Dewi bingung bagaimana,dan harus ngapain selanjutnya,ia hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi sambutan semua pelayan untuknya,


"bik, kamar Dewi dimana"tanyanya pada bik arsiy,


"nyonya, kamar tuan Leon ada di lantai atas,,sini biar bibi bawakan barangnya"bik arsiy membawa barang milik Dewi menuju kamar Leon,


Dewi membuntuti bik arsiy menuju kamar Leon,


meskipun bingung namun ia tak mungkin menunjukannya pada pembantu di rumah Leon,


"silahkan nya"arsiy membukakan pintunya,


"makasih ya bik"Dewi masuk dan segera menutup pintunya,


di sebuah kamar modern minimalis, kamar yang begitu luas dan rapi, dinding kaca raksasa yang menghadap ke kota menampakkan keindahan kota ketika gorden berwarna abu tua itu di buka lebar, by


sejenak Dewi terpukau namun ia kembali tersedar ketika tidak ada siapa-siapa di sana,


"apa dia belum pulang,,?"cicitnya,


Dewi melihat sebuah foto yang terletak di sisi tempat tidur Leon,


seorang pria tampan tersenyum dengan menawan,


sedangkan di sisi di sisi kamarnya Leon yang baru saja masuk,tersenyum melihat sang istri memandangi fotonya,


"tak usah lihat lihat,nanti jatuh cinta,,?"ucap Leon penuh dengan penekanan,


Dewi kaget, lantaran ia sendiri tak tau kapan Leon masuk ke kamar tersebut,


"gak sudih gue,jatuh cinta Sam playboy cap kakap kayak dia"elak Dewi,


"Oya, kamar gue dimana,,?"sambung Dewi bertanya,


Leon memicingkan matanya, seolah tak mengerti,


dengan pertanyaan Dewi barusan,


Dewi yang melihat itu tak sengaja menatap lekat lelaki yang berstatus suaminya itu,

__ADS_1


ia melihat pria tampan itu sedikit kurus dari sebelumnya, ia melihat sebuah kesedihan Masi terpendam di sana,


andaikan saat itu mereka menikah karena cinta, mungkin ia akan jadi sandaran hati tempat Leon berkeluh-kesah,


Leon menjentikkan jarinya, membuat Dewi terpaksa mengalihkan pandangannya,


"gue mau istirahat,kamar gue dimana,,,"ulangnya lagi,


"istirahatlah,apa kata pelayan nanti jika kita beda kamar,"Leon pergi meninggalkan Dewi dalam kebingungan,


"jadi gue harus satu kamar sama dia,,ahhh bunda Dewi mau pulang,,,"keluhnya


matahari mulai sembunyi, yang menyisakan cahaya remang dalam kegelapan,angin malam yang berhembus dingin menyusup di sela-sela kulit,


ucapan Aisyah, selalu menjadi beban pikirannya sendiri, bahwa ia jangan pernah meninggalkan Leon dalam keadaan apapun,


benaknya bertanya-tanya, seperti apa sebenarnya suaminya itu, saking lamanya ia berdiri diri di balkon jam sudah menunjukkan bahwa malam sudah semakin larut,


namun rasa kantuk tak kunjung menghampiri Dewi,


"Leon dimana, sudah selarut ini belum pulang juga"ucapnya seolah bertanya kepada angin malam yang berhembus dingin,


setelah merasa lelah,Dewi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur milik suaminya,


pagi harinya saat Dewi turun kebawah ingin sarapan,ia melihat Leon sudah duduk di sana, yang membuat Dewi berpikir kemana lelaki ini semalam,


"pagi nyonya"ucap para pelayan,


Dewi hanya mengangguk menangapi mereka,


"pagi tuan suamiku tersayang"ucap Dewi dengan senyum mengejek,


Leon hanya diam tanpa menghiraukan Dewi yang basa-basi dengannya,


tiba-tiba tanpa undangan,defy datang bertamu di pagi-pagi buta,


"pagi beb"ia tak segan segan mencium pipi Leon di depan semua orang yang ada,


"luh, kamu,,"defy tercengang setelah melihat Dewi sarapan satu meja dengan kekasihnya Leon,


"kenapa, heran,, dasar wanita tidak tau sopan santun, pagi-pagi buta bertamu membuat mood ku rusak"keluh Dewi meletakkan sendok makannya,


"jaga omongan kamu,luh yang ngapain di rumah Leon,pakai sarapan bersama lagi, Luh bayar pakai apa hah,,,?"ujar defy,

__ADS_1


"sudah hentikan,"Leon malas mendengar perdebatan mereka,


"beb, yuk kita berangkat,,"defy mengandeng tangan Leon,


Leon mengangguk pertanda setuju tawaran defy untuk jalan barengan, supaya tidak ada lagi pertengkaran antara mereka,


Dewi yang melihat itu semua, hatinya terasa tercabik-cabik luluh berantakan,rasa sakit dan perih sebisanya ia tahan dan pendam, percuma juga ia keluhkan dengan seseorang yang tidak ada rasa untuknya,


jadi mereka sudah berjanji, batinnya


"non,anda tidak apa-apa,,?"tanya arsiy pelayanannya,


Dewi menggeleng,dan mencoba tersenyum manis walau terlihat pilu,


"dari dulu,, nyonya Aisyah tidak pernah setuju hubungan mereka, karena defy hanya menganggap tuan Leon sebagai mesin ATM untuknya,"tutur bik arsiy,


"benarkah begitu bik,,,?"Dwi memastikan,


"iya nya,bibik harap nyonya bisa membawa tuan Leon dalam kesadaran,, nyonya sangat cantik, nyonya pasti bisa untuk membuat tuan Leon jatuh cinta pada nyonya,,"jelas bik arsiy,


"itu hal yang sangat mustahil bik,Dewi mungkin tak akan pernah menjadi pemilik hati suami Dewi sendiri,namu Dewi harus mencobanya dahulu, Dewi tidak ingin mengecewakan mendiang bibi Aisyah,"tutur Dewi pilu,


perlahan hati Dewi mulai terbuka,ukiran demi ukiran telah mulai tertulis di sana meski masih teramat pudar belum bisa di mengerti,


sebisa mungkin Dewi menepisnya dan mencoba menghapusnya di sana tapi semaki Dewi lupakan semakin ia mengingatnya,semakin ia hapus,semakin jelas gambar di sana,,,


ia hanya bisa merelakan hatinya telah berpindah tuan,


setelah luluh lantah berkeping,,,,


***bersambung,,


next yah,,


terimakasih yang sudah mampir di karya ku,,


mohon maaf kalau belum bisa memuaskan pembacaku, karena karya yang sedikit berantakan,,


tapi aku tetap akan berkarya dengan dukungan dan bimbingan kalian,,


dan terimakasih yang sudah meninggalkan komentar dan like di sini,


thank you so much,,,,☺️☺️☺️***

__ADS_1


__ADS_2