Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Boneka penukar keberuntungan 6


__ADS_3

POV Dina


Apa yang akan kalian lakukan saat kalian melihat hantu atau seseorang yang kalian pikir sudah mati?


Lari!


Tentu saja itu yang pertama kali terpikirkan olehku. Tapi bagaimana jika semua anggota tubuhmu kaku dan tak bisa digerakkan. Kakimu terasa berat dan menempel di tanah. Apa yang akan kau lakukan jika itu yang terjadi?


Berteriak!


Aku mencobanya. Tapi anehnya untuk hal yang semudah ini pun tak bisa kulakukan. Bukannya suara teriakan yang keluar, malah isakan keputusasaan. Seperti seekor anak kucing yang tercekik.


Meski telah berusaha untuk lari langkah ku goyah dan akhirnya terjatuh dari tangga. Kaki semakin sakit saat digerakkan. Sementara Selena melangkah turun mendekatiku.


Aku takut! Aku hanya bisa menutup mataku, menutup mukaku. Berharap ini semua mimpi di siang hari seperti biasa yang kualami. Tapi jika yang di depanku ini nyata apa aku akan terbunuh?


"Dina!" Aku mendengar suara Lisa memanggilku. Aku memberanikan diri itu melihat. Dari kejauhan Lisa, Riri, dan Eli berlari ke arahku. Rasanya sedikit lega karena aku tak sendiri.

__ADS_1


Saat aku melihat ke arah tangga, Selena sudah menghilang. Aku jatuh tak sadarkan diri karena sakit dan lelah. Saat sadar, aku sudah berada di kamarku dengan kaki berbalut perban. Rasa sakitnya sudah banyak berkurang. Mungkin besok aku tetap ke sekolah.


Kulihat jam kecil di meja belajarku sudah jam 7 malam. Lisa dan yang lainnya pasti sudah pulang. Aku melihat keluar jendela semua tampak gelap.


Rasa haus membakar tenggorokanku. Pelan-pelan aku melangkah keluar kamar. Sepanjang kulihat hanya kegelapan.


"Kenapa sepi sekali?" gumamku.


"Ibu! Ayah!" seruku. Tidak ada sahutan. "Apa mereka semua sudah tidur?" Pelan-pelan aku menuruni tangga menuju dapur. Saat aku sedang mengambil air minum, lampu di seluruh rumah tiba-tiba padam.


"Bu?" seruku menduga.


"Ayah?" Aku mencoba lagi.


Aku mulai gusar karena keheningan ini. Di tambah lagi ada seseorang yang tiba-tiba muncul di depanku.


Samar-samar aku bisa melihat setelan piyama putih dengan pola garis tebal yang dikenakannya. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya atau lebih tepatnya .. kepalanya.

__ADS_1


Apa karena terlalu gelap atau memang dia tak punya kepala? Aku mundur menjauh, pelan-pelan meletakkan gelas di meja sambil tetap melihat ke depan. Berusaha untuk tetap tenang meski detak jantungku tidak bisa berbohong.


Dalam kepanikan yang mencekik ku, Aku menarik nafas dalam-dalam, sambil meraba mencari sesuatu yang bisa ku gunakan sebagai senjata.


Aku tidak tahu apakah sudah terbangun atau masih bermimpi, apakah yang kulihat di depanku nyata atau ilusi, siapapun itu entah orang atau hantu, dia jelas bukan orangtuaku.


"Siapa?" Seruku bertanya sambil mengacungkan sebilah garpu ke depan.


"Dina! Ayo main!" Suara yang terdengar dari dalam kegelapan itu justru membuatku hingga garpu yang kupegang terlepas.


Suara yang akrab terdengar, kata-kata yang tak asing lagi terus berulang-ulang.


Sebuah tangan menjulur ke arahku dan menangkap tanganku. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat sampai terasa sakit.


"Lepaskan aku!" Aku memberontak berusaha melepaskan diri tapi tangan itu menarik tubuhku. Aku terseret mengikutinya.


"Dina?" Saat celin memanggilku, saat itulah lampunya menyala terang. Aku bisa melihat wajah celin yang bingung. Dan wajahku yang ketakutan seolah terpantul di matanya.

__ADS_1


__ADS_2