
Riri adalah masalah yang tersisa.Riri adalah satu-satunya korban disini. Meski arwah Maiya sudah tenang dan tidak akan merasukinya lagi, bukan berarti dia aman.Orang yang pernah dirasuki arwah biasanya jadi lebih peka terhadap sekelilingnya.
Ibarat rumah yang ditinggali hantu, meski kita bisa mengusir satu, hantu yang lain akan muncul. Begitu juga dengan tubuh Riri yang tanpa pertahanan sama sekali. Dia jadi lebih mudah didekati makhluk halus.
Angga sudah membantu membersihkan tubuh Riri dan membentenginya sementara. Angga memperingatkan kami bahwa Riri mungkin akan mengatakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang ganjil yang dia lihat atau dengar.
Ini hal yang wajar karena panca inderanya menjadi lebih sensitif terhadap sesuatu yang bersifat 'halus'. Ini bisa jadi hanya sementara sebagai efek samping.
"Jangan mendebatkan apapun yang dia katakan. Menyangkalnya hanya akan membuat dia menjauh dari kita. Jika dia menjauh apalagi sampai menolak kita maka akan sulit untuk mengobatinya."
"Jadi terima saja apa yang dikatakannya. Kita bisa bantu mengalihkan pikirannya dengan membicarakan hal-hal yang menyenangkan atau melakukan hal-hal yang dia sukai. Hindari pembicaraan yang berhubungan dengan hal-hal ghaib atau mistis."
"Jadi intinya kita harus membuat perasaannya senang dan bahagia?" ujarku menyimpulkan.
Saat ini Angga sedang memberi wejangan sebelum aku dan Eli menjenguk Riri di rumah sakit.
"Lawan rasa takut adalah rasa senang. Kebahagiaan bisa membangun rasa percaya diri dan rasa aman. Keberadaan keluaga dan orang-orang yang dikasihi, akan membuat dia merasa dilindungi."
"Apa kau juga membicarakan hal ini kepada keluarganya?" tanyaku.
"Ya, aku sudah bertemu keluarganya tempo hari saat aku menjenguknya di rumah sakit bersama pak Arya. Dengan di dampingi pak Arya aku membicarakan hal ini dengan keluarganya," jawab Angga.
"Apa mereka percaya dengan yang kakak katakan?" tanya Eli.
__ADS_1
"Yang ku sampaikan bukan hal yang tabu. Aku tidak meminta mereka memanggil para normal hebat, melakukan ritual ghaib atau memasang benda-benda pusaka. Aku hanya meminta mereka lebih memperhatikan dan lebih peduli pada putri mereka. Dukungan moril dari keluarganya lebih diperlukan untuk Riri saat ini. Jika mereka sebagai Keluarganya saja menutup mata dari kondisi Riri, maka tidak ada kesempatan untuknya sembuh."
"Apa itu saja cukup?" tanyaku.
"Tentu saja aku akan membantunya secara spiritual. Aku akan membantu membentengi dirinya, tapi benteng yang terbaik adalah yang datang dari dirinya sendiri. Karena itu penting untuk kita membangun kepercayaan dirinya lagi," jawab Angga.
"Selain itu kegiatan keagamaan akan membuatnya dekat dengan Tuhan. Dengan begitu dia bisa merasa aman meskipun sedang sendiri. Teorinya memang mudah, namun prakteknya akan sulit. Butuh waktu dan kesabaran."
Aku memahami apa yang dikatakan Angga dan berusaha menerapkannya. Melakukan apa yang bisa kami lakukan sebagai teman.
Kami juga mengajak kak Reina mengunjungi Riri. Aku yakin Riri sudah mendengar cerita tentang Reina. Kehadiran kak Reina akan mematahkan cerita hantu itu karena kenyataannya kak Reina masih hidup.
Riri sempat terkejut dengan kehadiran kak Reina. Kami juga tidak menceritakan keberadaan arwah Maiya. Jadi Riri bisa sedikit lega. Aku harap kedatangan kak Reina akan membawa pengaruh positif untuk kesembuhan Riri.
Lalu, mengenai isi loker itu? Tidak ada yang istimewa. Semua barang-barang pribadi milik kak Reina. Kami sudah menyerahkan padanya termasuk beberapa lembar foto dirinya dan juga Maiya. Itu akan menjadi kenangan terakhir bagi kak Reina.
Angga juga mengoleskan obat di leherku yang baunya minta ampun. Ini benar-benar bisa membuatku jera berurusan dengan makhluk halus. Bukan karena takut dengan mereka tapi karena aku tak mau merasakan kedua obat ini lagi.
Setelah sembuh Angga bilang akan mengajari aku cara melakukan perlawanan saat ada serangan makhluk ghaib tiba-tiba. Jadi aku bisa melindungi diriku saat dia tidak ada. Kuharap dia menepati janjinya kali ini.
Aku bercerita tentang hantu anak laki-laki di gedung olahraga lama. Kukira dia mengetahuinya. Angga bilang meskipun dia kelihatan baik dan sudah membantuku, lebih baik jika aku menjaga jarak dengannya. Aku juga tidak tahu alasan dia membantuku. Apakah memang dia berbuat baik atau buruk.
Semuanya sudah selesai. Namun masih ada satu yang membuat penasaran. Saat ruh Maiya menghilang, ada benda kecil yang berkelip jatuh ke lantai. Aku memeriksanya kembali begitu semua pergi. Tapi tak ada apapun yang ku temukan. Padahal aku yakin melihatnya. Kenapa bisa menghilang? Benda apa itu?
__ADS_1
Aku belum menceritakannya pada Angga. Mungkin nanti saat aku tahu benda apa itu.
\* \* \*
POV Author
Seorang anak laki-laki duduk di atap gedung sekolah. Dibawah langit berwarna biru gelap.
Seorang anak perempuan memanjat ke atas menyusulnya.
"Aku tidak mengerti, kenapa kau membantunya? Kupikir kau tidak menyukai manusia," tanya anak perempuan itu sambil duduk di samping anak laki-laki itu.
"Aku tidak boleh membiarkannya mati sekarang," jawab anak laki-laki itu serius.
"Dia tidak akan mati meski kau tidak membantu."
"Aku ingin dia berhutang padaku. Suatu saat nanti akan kutagih hutang itu."
"Uh, kupikir kau sudah berubah jadi baik. Ternyata masih sama jahatnya. Dasar iblis!" Gadis kecil itu melompat turun meninggalkan anak laki-laki itu, yang diam-diam melengkungkan senyumnya.
Dia berdiri seolah sedang menghitung bintang.
"Sebentar lagi, waktunya akan tiba, mereka akan bertemu. Aku tidak sabar melihat reaksimu nanti! Ini pasti menyenangkan!"
__ADS_1
Bocah itu tertawa puas dengan rencana dikepalanya. Dia tidak sadar dari jauh dua orang sedang memperhatikannya di tempat yang terpisah. Seorang remaja laki-laki dengan tatapan berhati-hati, dan seorang gadis dengan tatapan mengawasi.
Malam semakin tenggelam dalam kegelapan menyimpan sejuta rahasia para penghuninya.