Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Pencarian Riri


__ADS_3

"Melya!" panggil pak Arya yang saat itu melintas di depan rumah penjaga sekolah. Dia menatapku bingung. "Sedang apa malam-malam ke sini?"


Aku senang pak Arya melintas di waktu yang tepat. aku menjelaskan secara singkat kepada pak Arya apa yang terjadi pada Riri. Untungnya dia percaya dan berhasil membujuk penjaga sekolah. Kami bertiga pun pergi ke gedung sekolah itu.


Kami mulai menggeledah seluruh kelas di lantai pertama. Ada enam kelas setiap tingkatnya belum termasuk tiga ruang praktek dan satu perpustakaan juga ruang guru dan arsip. Kami memutuskan untuk berpencar. Pak Mong pergi sendiri. Aku pergi bersama pak Arya. Sudah empat kelas yang kami periksa, namun hasilnya nihil.


Aku mencoba menghubungi ponsel Riri lagi tapi dia tidak mengangkat. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya setelah aku menutup telpon. Apa dia berhalusinasi lagi? Atau hantu itu sudah membawanya pergi dari tempat ini? Aku semakin gelisah tidak tenang. Berulangkali aku berteriak memanggil namanya, dia tidak menyahut.


Aku coba merasakan aura jahat makhluk itu dari kekuatanku. Namun sia-sia. Yang ada aku malah kelelahan tanpa hasil. Entah karena gedung ini luas, atau aku yang tidak bisa konsentrasi karena panik.


Dari tengah lapangan, aku menatap lantai tiga. Aku tiba-tiba menyadari sesuatu. Aku berlari menaiki tangga menuju lantai tiga meninggalkan pak Arya dan pak Mong di lantai satu. Loker itu, kisah hantu itu, semua berasal dari kelas 3-3. Mungkin Riri ada di sana.


"Riri!" Aku terus menelusuri lorong sambil memanggil namanya. Pintu kelas 3-3 tertutup. Aku mendorong pintunya dan menyoroti seisi ruangan dengan senter.


Aku melangkah ke dalam dan memeriksa barisan meja dan kursi itu satu persatu. Dimana Riri? Aku memeriksa kedalam lemari yang biasa ada di depan kelas.


Riri tidak ada di kelas ini. Dimana dia? Ah sial! Harusnya aku tanya dulu dia ada di kelas mana? Aku harus tenang agar bisa menemukannya. Coba pikir baik-baik Mel! Kalau aku jadi hantu itu, aku akan membawa Riri ke mana?


Firasat buruk menghinggapiku, saat aku ingat kisah yang dituturkan pak Arya. Aku berlari menuju kelas lain. Kelas 3-5, pintunya terbuka seolah mempersilahkan aku untuk masuk.


Aku tertahan di depan pintu. Hawanya berbeda dengan kelas yang lainnya. Ada sesuatu yang jahat bersembunyi di dalamnya. Sekali lagi aku menghubungi ponsel Riri.

__ADS_1


Dari dalam kelas itu aku mendengar suara telpon Riri. kali ini tidak salah lagi Riri ada di dalam. Aku memberanikan diri melangkah masuk. Baru beberapa langkah dadaku terasa sesak. Udara di dalam terasa panas dan pengap.


Aku mengikuti suara dering ponsel Riri. Suaranya berasal dari dalam lemari. Pintunya terbuka sedikit. Lemari ini biasanya digunakan untuk menyimpan barang-barang keperluan kelas. Apa mungkin Riri bersembunyi di dalam?


"Riri..!" Aku memanggil lagi sambil membuka lemari itu.


"Bruk!" Pandanganku teralih ke arah pintu kelas yang tiba-tiba tertutup. Makhluk itu berniat mengurungku dan Riri di dalam sini?


Disaat bersamaan sosok yang bersembunyi di dalam lemari tadi menerjang ke arahku. Aku terjatuh ke lantai karena serangan yang tiba-tiba itu. Kedua tangannya mencekik leherku. Aku berusaha keras melepaskan kedua tangan yang mencengkram leherku dengan kuat. Apa ini tenaga manusia? Jelas-jelas tidak normal. Sakit dan sesak.


Aku kewalahan tidak bisa bernafas. Dalam gelap aku melihat wajah dari penyerang ku aku tak percaya saat mengenali sosok yang ada di atasku dan sedang menindihku.


"RI...RI...??" Dengan raut wajah yang marah dia mencekik ku. Makhluk halus itu sudah merasukinya dan menggunakannya untuk menyerangku.


Aku merogoh botol air yang kubawa disaku jaketku. Setengahnya airnya sudah mencair. Aku menyiramkan air itu ke wajahnya, berharap itu masih berguna. Dia memekik kesakitan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Begitu lepas, aku langsung melompat mundur menjauh darinya. Nafas dan detak jantungku berdetak cepat saling memburu satu sama lain. Sekujur tubuhku gemetar ketakutan. Tubuhnya memang milik Riri tapi tenaga yang digunakan untuk menyerangku bukan tenaga milik anak perempuan berusia 12 tahun.


Jika aku gagal melepaskan diri aku pasti sudah mati tercekik. Jadi seperti inikah wujud makhluk halus yang sudah merasuki manusia. Air mataku mataku meleleh melihat Riri meronta-ronta di lantai. Sementara aku gagal mengatasi rasa takutku.


Berbeda dengan makhluk halus yang biasa aku lihat selama ini, mereka tak mampu menyakitiku. Aku meraba leherku. Masih terasa sakit. Tapi hatiku lebih sakit.

__ADS_1


Ini salahku. Kalau saja mempercayai kata-katanya dan membantunya lebih awal maka semua ini tidak terjadi. Dia tidak akan terpuruk sampai seperti ini.


Aku diam memperhatikannya untuk beberapa saat. Dia meraung marah sambil menangis. Aku bingung harus melakukan apa lagi untuk membantunya. Apa airnya tidak mempan?


Riri terbatuk dan kesusahan bernafas. Dia mulai tenang. Aku memberanikan diri mendekatinya lagi. Saat aku yakin itu Riri aku langsung memeluknya.


"Riri!" Aku memanggilnya. Matanya masih terpejam. Tubuhnya terkulai lemas dan wajahnya sangat pucat. Aku mengusap wajahnya dengan lengan jaketku.


"Ku mohon, Riri! Buka matamu! Jangan buat aku takut!" ucapku lirih dengan suara bergetar menahan tangis. Mataku terasa panas oleh air mata yang terus saja menetes.


Aku menghubungi pak Arya dan memberikan lokasi kami.


"Pak Arya, saya sudah menemukan Riri. Kami ada di kelas 3-5. Kami tidak bisa keluar karena pintunya terkunci."


Tak lama berselang pak Arya sudah berada di depan kelas.


"Melya!" Suara pak Arya memanggil dari balik pintu. Dia dan pak mung berusaha mendobrak pintunya. Saat pintu itu terbuka aku merasa lega.


Pak Arya menggendong Riri yang masih tak sadarkan diri. Lalu membawanya keluar ruangan. Sebelum keluar aku mencari botol air yang tadi kugunakan. Setengah airnya sudah tumpah tapi separuhnya masih membeku. Aku membawanya kembali karena kupikir mungkin masih berguna nantinya.


Aku langsung berlari menyusul pak Arya dan pak Mong menuruni tangga. Namun begitu sampai di lantai satu terali yang berada di ujung tangga menggeser tiba-tiba sebelum aku sempat ke luar.

__ADS_1


"Melya!" seru pak Arya panik dan terkejut dengan kejadian tiba-tiba itu. "Pergi ke tangga satunya!" Pak Arya mengintruksikan untuk pergi ke tangga yang lain.


Aku segera berlari ke tangga yang lain, tapi belum juga sampai pagar besi mengurungku lagi, dan secara serentak tangga yang lain juga mengalami kejadian yang sama. Aku mengerti. Hantu itu ingin mengurungku di sekolah sendirian sebagai ganti dia melepaskan Riri.


__ADS_2