
POV Celin
"Kau sudah pulang nak?" Sapa ibuku begitu melihatku masuk. Langkahku yang hendak menaiki tangga menuju kamar terhenti. Aku berbalik dan melihatnya bangkit dari sofa.
"Ya, bu!" Sahutku sambil tersenyum. Lalu berbalik lagi hendak pergi.
"Tunggu sebentar nak!" tahan ibuku. Aku berbalik dan melihat dia berjalan ke dapur. Beberapa saat kemudian dia kembali, berjalan menghampiriku sambil membawa segelas jus dingin.
"Ibu buatkan jus jeruk kesukaanmu. Minumlah!"
Mulutku terbuka hendak mengatakan sesuatu, tetapi ku telan kembali. Melihat ekspresi ibuku membuatku tidak bisa berkata. Aku mengambil gelas itu lalu naik ke atas. Minuman itu ku letakkan di meja dan tak ku sentuh.
__ADS_1
Aku tidak suka jeruk karena asam. Sebaliknya, kakak kembarku, Celena suka jeruk terutama permen lemon. Sudah jelas untuk siapa ibu membuatkan jus itu.
Hah! Aku menghela nafas frustasi. Kapan terakhir ibu memanggil namaku? Sudah lama sekali. Yang ibu ingat hanya Celena, Celena dan Celena. Makanan kesukaan Celena, barang-barang kesukaan Celena, sampai baju favoritnya pun ibu tahu. Sementara hal lainnya dia lupakan. Bahkan aku tidak bisa menolal saat dia memperlakukanku sebagai Celena.
Aku tidak bisa... Membuat ibu sedih lagi. Ibu sangat sedih sampai tidak bisa mengurus rumah dan dirinya sendiri. Terpaksa aku menyewa asisten rumah tangga untuk mengurus rumah dan ibu. Aku harus menahan ini semua sampai Celena kembali.
Aku menarik laci dan mengeluarkan sebuah bingkai foto, di mana ada foto aku dan celena di dalamnya, bersama ibu.
Lalu, hujan tiba-tiba turun. Orang-orang berduyun-duyun membubarkan diri, bergegas mencari tempat berteduh. Ibu setengah berlari meninggalkan tempat itu sambil menarik tanganku dan Celena.
"Ah, aduh!" Celena tersandung jatuh dan menangis. Ibu menggendongnya sambil menenangkannya. Lalu lanjut berlari tanpa memegang tanganku lagi. Dengan kaki kecilku, aku berusaha mengejar ibuku, namun akhirnya kehilangan jejak ibuku dan Celena diantara orang-orang yang hilir mudik.
__ADS_1
Aku bingung, terjebak diantara wajah-wajah yang tidak ku kenali sementara aku tidak tahu harus kemana untuk pulang. Aku takut, marah, dan terluka, ditinggalkan oleh ibuku begitu saja, meski aku tahu dia tidak sadar melakukannya. Aku tetap kecewa dan sedih.
Bulir-bulir air mataku jatuh bersama hujan yang turun dari langit. Yang bisa aku lakukan hanya menangis. Orang-orang mulai mengerumuniku, bertanya-tanya menatap dengan kasihan.
Untungnya salah seorang tetanggaku, mengenaliku. Dia menenangkanku dan mengantarkan aku sampai ke rumah. Ibu langsung memelukku sambil menangis. Dia meminta maaf karena tidak sadar meninggalkanku.
Meski aku bisa memaafkan ibuku, tapi aku tidak bisa memaafkan Celena. Kejadian hari itu membuatku sadar bahwa ibu lebih peduli pada Celena ketimbang aku. Dan itu bukan hanya sekedar perasaanku atau kecemburuanku saja.
Celena selalu di bela, senakal apapun dia, atau apapun yang dilakukannya ibu tidak pernah memarahinya seakan menutup mata dari semua kesalahannya.
Bahkan saat dia mencelakai teman sekelasnya sampai masuk rumah sakit, ibu masih saja membelanya. Di mata Celena selalu menjadi anak baik, kesayangan ayah dan ibu. Membuatku semakin jengkel pada Celena. Mungkin karena itulah aku tidak bisa memaafkannya. Dia terlalu manja dan egois.
__ADS_1
Luka yang tertinggal hari itu terus melebar dan menjadi lubang di hatiku, tempat dimana aku meletakkan semua kebencian ku pada Celena.