
Paginya, tim pencari menemukan ayahku yang terdampar di pantai dalam keadaan masih bernafas. Seperti yang dikatakan Rabbit, ayahku masih hidup. Tapi kondisinya mengkhawatirkan. Dia jatuh tak sadarkan diri berhari-hari, bahkan sampai hampir tiga dua bulan.
Setiap hari aku melihat wajah letih ibuku, yang setiap hari harus menjenguk ayah di waktu yang bersamaan, ibu juga harus mengurus kami. Untuk meringankan beban ibu, aku belajar mengurus diriku sendiri tanpa merepotkan ibu. Aku juga membantu mengurus rumah sedikit-sedikit.
Tapi sayangnya itu tidak membuat keadaan lebih baik. Kondisi keuangan keluarga kami memburuk, tunjangan dari perusahaan ayah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari meski sudah berhemat. Bahkan ibu sampai harus menanggung hutang yang besar karena pihak perusahaan tidak lagi membiayai perawatan ayah.
Barang-barang dirumah terus berkurang setiap harinya. Kalau terus seperti ini, hanya tinggal menunggu waktu sampai kami kehilangan tempat tinggal.
Aku tidak punya pilihan selain minta tolong pada rabbit, meski aku tahu ini tidak benar. Aku berharap ayahku segera sadar dengan begitu ibu tidak akan bersedih lagi dan kondisi keuangan kami akan membaik.
Tak lama berselang, ayah mulai siuman dan kondisinya berangsur membaik. Kulkas yang biasanya kosong kini selalu terisi penuh makanan. Aku tidak tahu dari mana makanan itu datang, dan anehnya ibu tidak terkejut dengan hal itu seolah tidak menyadarinya.
Lebih anehnya lagi, barang-barang yang sudah di ambil dari kami untuk membayar hutang, satu demi satu dipulangkan lagi ke rumah kami.
Apa semua ini rabbit yang melakukannya? Ya, karena hanya dia yang bisa melakukan itu.
__ADS_1
Setelah beristirahat sekitar dua Minggu, ayah mulai kerja kembali. Kondisi keluarga kami kembali membaik seperti sebelum terjadinya musibah itu. Aku sangat bersyukur di satu sisi, dan cemas disisi lain, seperti seorang yang berhutang yang sedang gelisah. Apa lagi yang akan diambil dariku, sebagai bayaran untuk semua ini? Apakah itu hidupku sendiri?
Selama itu bukan ayah atau ibuku, aku tidak masalah. Tapi bukan berarti aku tidak takut mati. Aku terus gelisah setiap malam, tapi hari-hari berlalu dengan tenang, sampai-sampai aku lupa.
Rabbit juga tidak berkata apa-apa, meski dia masih bersamaku.
Lalu suatu ketika, saat aku pulang sekolah Rabbit hilang. Aku tidak berpikir dia akan pergi sebelum menagih hutangku padanya. Jadi, satu-satunya yang terpikirkan olehku adalah...
"Celena!" seruku sambil bergegas kamarnya. Saat aku mendatangi kamarnya dia sedang memegang Rabbit.
"Berikan itu padaku!" Aku menghampirinya dan mencoba mengambil rabbit darinya. Kakakku yang bodoh ini sepertinya tidak tahu seberapa menakutkannya boneka itu. Dia cuma tahu bermain-main. Meski aku ceritakan semuanya pun dia tidak akan paham.
Saat aku ingin mengambil boneka itu Celena mempertahankannya.
"Berikan padaku!"
__ADS_1
"Tidak!"
"Itu milikku!"
"Kau janji akan meminjamkannya padaku!"
"Aku akan meminjamkanmu boneka yang lain tapi jangan yang ini."
"Aku tidak mau yang lain! Aku mau yang ini! Aku mau yang bisa bicara!"
"Tidak bisa! Aku tidak akan memberikannya padamu!"
Si idiot ini sayangnya sangat kuat. Aku sudah pasti kalah jika adu kekuatan dengannya, dan benar saja, aku terpelanting jatuh ke lantai. Celena yang berhasil mendapatkan boneka itu langsung kabur.
Aku segera bangun dan berusaha untuk mengejarnya, tapi Celena segera menutup pintu kamar lalu mengunciku dari luar.
__ADS_1
"Celena! Kenapa kau mengurungku? Cepat buka pintunya!"