
POV Jun
"Saya Evania yang di minta dokter untuk mengurus pasien di ruangan ini." Aku tersentak mendengar suaranya. Dia wanita yang kutemui di jalan tadi dan menunjukkan arah rumah sakit ini.
"Anda wanita yang menunjukkan arah rumah sakit ini 'kan?" tanyaku memastikan.
"Benar. Makanlah ini. Anda pasti belum makan sejak tadi," ucapnya sambil menyodorkan sepiring makanan.
"Maaf, saya tidak lapar."
"Anda harus makan. Anda butuh tenaga untuk menjaga adik anda."
"Maaf, tapi saya sedang tidak bernafsu makan saat ini." Wanita yang memperkenalkan dirinya dengan nama Evania itu tampak kecewa mendengar jawabanku. Dia menyuruh perawat satunya pergi dan membawa makanan itu kembali.
"Apakah adik saya baik-baik saja?"
"Dia akan baik-baik saja setelah meminum obatnya. Oh ya berapa usianya?"
"Sepuluh tahun. Emm, dimana saya harus mengurus biaya administrasinya?"
"Anda tidak perlu melakukan itu. Anda tidak perlu membayar untuk obat, makanan, dan semua perawatan yang kami berikan," ujar Evania
"Dokter Aslam adalah dokter terbaik di kota ini. Dia sering menolong penduduk kota ini, meski kebaikannya tak selalu dihargai. Meski begitu dia berhati malaikat. Dia tak pernah berhenti menolong orang yang kesusahan disekitarnya tanpa memungut biaya sepeserpun. Dia baik 'kan?" ujarnya berkisah. Aku mengiyakan. Terlihat Evania sangat mengagumi dokter itu.
"Karena itulah dia membangun rumah sakit ini. Saya dan alden juga pernah ditolong olehnya. Karena itu kami bekerja untuk dokter Aslam sekarang. Bagi kami yang tak punya tempat untuk pulang, rumah sakit ini adalah rumah bagi kami."
"Adik anda beruntung memiliki kakak seperti anda di sisinya."
"Terimakasih. Panggil saja saya Jun. Terima kasih sudah membantu saya dan adik saya."
Dia menggelengkan kepala dan tersenyum sedih. "Anda mengingatkan saya pada diri saya sendiri."
"Apa anda juga punya adik?" tanyaku. Dia mengangguk.
"Dimana dia sekarang?" tanyaku lagi. Evenia menggeleng lemah. Wajahnya yang cantik tampak sedih.
"Saya tidak tahu di mana dia sekarang. Kami tak lagi bisa bicara. Namun dimanapun dia, saya selalu berdoa agar dia selalu bahagia." Air mata menetes dari sudut matanya.
"Maafkan saya, sudah bertanya hal yang membuat anda sedih."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Saya senang berbicara dengan Anda seolah saya mendapatkan teman untuk berbagi kesedihan ini. Terkadang saya pergi keluar saat hati saya sedih dan gelisah untuk menenangkan diri saya."
Jadi karena itulah dia berada diluar malam-malam.
"Sebaiknya anda kurangi berpergian di malam hari. Tidak baik dan berbahaya. Apalagi banyak kejahatan yang terjadi di malam hari."
"Terima kasih sudah mengingatkan. Tapi anda tidak usah khawatir. Saya bisa menjaga diri saya sendiri dengan baik."
"Sebaiknya anda juga beristirahat meski sebentar," ucapnya lagi sambil menarik diriku ke sofa. Tiba-tiba aku jadi tidak bertenaga dan menurut begitu saja.
"Anda boleh menolak untuk tidak makan. Tapi anda harus beristirahat meski sejenak untuk memulihkan tenaga," ujarnya seraya memberikanku selimut.
"Anda bahkan tidak sadar bahwa hari sudah pagi. Dan anda terjaga semalaman." Evania membuka jendela kamar. Sinar matahari pagi masuk kedalam kamar memberikan kehangatan.
"Anda tenang saja. Selama anda istirahat saya yang akan menjaga adik anda." Evania melengkungkan senyum yang lembut.
Kupikir dia pemalu dan pendiam. Tenyata dia orang yang hangat dan juga ramah.
Jeny, adikku, dia mulai rewel lagi begitu aku jauh darinya. Evania menepuk-nepuk nya lembut. Dia memegang tangan adikku sambil bernyanyi.
" Anda tidak keberatan jika saya bernyanyi disini 'kan?" tanyanya padaku.
"Terimakasih. Saya biasa bernyanyi untuk adik saya saat dia gelisah."
Evania lanjut bernyanyi. Nyanyian indah namun terdengar sendu. Tanpa sadar aku jadi ikut mengantuk mendengarnya dan tenggelam dalam mimpi.
"Hei nak! Bangun!" Seseorang menggoyangkan tubuhku dan memanggil ku. Aku terbangun dan melihat wajah seorang pria tua di dekatku. Sinar matahari membuat mataku silau.
"Apa yang kau lakukan disini?" ucap pak tua itu lagi padaku. Kesadaranku belum pulih sepenuhnya. Aku merasa sedikit pusing dan berat.
Ternyata aku tertidur di atas tanah berumput di sebuah are lapang. Mataku mengedar ke sekitar.
Apa yang terjadi padaku? Seingatku aku berada di rumah sakit. Tapi di mana rumah sakitnya? Di mana ... Adikku?
POV Melya
Hari ini aku mengantar Eli ke rumah sakit untuk checkup. Eli bilang keadaannya sudah lebih baik sekarang. Kami hanya pergi berdua karena yang lain tidak bisa pergi.
"Tolong periksa sekali lagi!" seorang pemuda sedang berdebat dengan resepsionis di rumah sakit.
__ADS_1
"Kami sudah mengecek berulangkali tidak ada nama itu."
Pemuda itu jadi pusat perhatian orang-orang di rumah sakit.
"Ada apa itu, pak?" tanya Eli pada orang-orang di sekitar.
"Itu, dek! Katanya dia membawa adiknya ke rumah sakit ini tapi ada nama adiknya tidaj ada di daftar."
"Mungkin dia lupa rumah sakit mana tempat adiknya di rawat."
"Masa dia lupa. Kan tidak banyak rumah sakit di kota ini."
"Atau jangan-jangan rumah sakit yang dia datangi rumah sakit hantu."
"Rumah sakit hantu?"
"Itu, bangunan yang seperti rumah sakit kalau malam, tapi siang nya berubah jadi bangunan tua atau lahan kosong. Sekarang kan banyak kejadian kayak gitu."
"Wah benar juga. Kalau gitu kita harus hati-hati kalau mendatangi rumah sakit di malam hari. Bisa-bisa rumah sakit hantu yang kita datangi."
Bapak-bapak itu malah tertawa dengan obrolan mereka sendiri. Entah percaya atau tidak mereka malah jadikan bahan candaan.
"Kak!"
Duh Eli malah mendekati kakak itu. Kalau benar ini berkaitan dengan rumah sakit hantu aku tak mau terlibat. Kak Angga sudah memperingatkanku agar tidak terlibat masalah lagi. Bagaimana ini?
"Kak, saya punya daftar rumah sakit dan rutenya. Jika kakak mau saya bisa berikan. Mungkin bisa membantu."
"Tidak, terima kasih. Saya juga sudah berkeliling kota dan mengecek satu persatu, tapi tidak ada nama adiknya saya. Ini rumah sakit terakhir yang saya kunjungi." Setelah berbicara seperti itu dia pergi dengan lesu.
"Eli!" panggilku.
"Mel, apa kau tidak bisa membantunya. Aku merasa kasihan."
"Bagaimana caraku membantunya? Lagipula kita sudah janji untuk langsung pulang ke rumah kalau sudah selesai. Ayo!" ajakku.
Namun, diperjalanan pulang kami bertemu lagi dengan pemuda itu. Dia berdiri di depan sebuah bangunan tua terbengkalai. Dia mematung dan pandangan kosong. Aura orang itu diselubungi kegelapan. Suram. Makhluk-makhluk halus mulai bermunculan disekitarnya. Jika dibiarkan dia akan dipengaruhi.
Eli berlari lagi menghampirinya, kali ini aku mengikuti.
__ADS_1
"Kak, kakak sedang apa di sini?" tegur Eli sambil menarik tangan pemuda itu. Dia tersadar dan memperhatikan kami. Ekspresi terlihat sangat muram.