
Bruk!
Aku langsung berpaling dan melihat ibuku pingsan. Kondisi ibu sudah lemah sejak kemarin karena menolak makan, dan kurang istirahat karena terus mencari Celena, ditambah lagi, kata-kata dari detektif yang tentu saja mengejutkannya.
Ayah segera membawa ibuku ke dalam, sementara itu ketiga tamu kami pamit karena tidak ada lagi yang bisa mereka sampaikan.
Aku pergi ke rumah kami seorang diri setelah minta izin pada ayah. Besok mereka akan mulai renovasi. Aku ingin memeriksa sekali lagi, barangkali masih tersisa satu petunjuk tentang Celena.
Di dalam bupet yang bagian luarnya rusak karena terbakar, aku menemukan barang-barang Celena masih dalam keadaan baik. Beberapa buku, alat tulis, dan mainan.
__ADS_1
Aku coba memeriksa satu persatu. Rata-rata hanya buku pelajaran dan buku gambar. Celena memang suka menggambar. Dia menggambar apa saja yang dia lakukan setiap hari atau apapun yang dia ingin lakukan. Seperti saat ibu membuatkan kami puding, atau saat kami pergi ke kebun binatang. Kami begitu gembira.
Melihat gambar-gambar itu seakan mengingatkanku pada kenangan masa kecil kami dulu bahwa kami pernah menghabiskan waktu bersama, bermain bersama, dan tertawa bersama. Kami pergi ke sekolah bersama-sama. Hanya dengan melihat warna yang dituangkan dalam gambar itu, aku tahu bahwa itu menjadi kenangan yang indah untuk Celena.
Sayangnya setelah kami memulai sekolah, kami mulai sibuk belajar dan memiliki teman baru, sehingga aku jarang bermain dengannya lagi. Ku rasa sekitar waktu itulah kenakalan Celena semakin menjadi. Dia sering merusak barang-barangku, buku-bukuku, dan mainanku. Terkadang dia juga bertengkar dengan teman-temanku. Apa dia melakukannya karena marah? Karena aku tidak lagi bermain dengannya?
Pernah ada satu kejadian dia bertengkar dengan salah satu temanku. Semua anak di sekolah tahu bahwa Celena sangat dimanja oleh ibu, karena itu Celena di olok-olok sebagai anak mami, bayi besar yang masih disuapi ibunya. Harusnya Celena abaikan saja semua itu. Cukup tutup telinga dan semua akan berlalu juga nantinya.
Tapi Celena tidak mengabaikan mereka. Dia justru membalas anak itu dengan mendorongnya jatuh hingga anak itu menangis dan terluka. Ibu si anak tak terima dan mendatangi kami. Seperti biasa ibu membela Celena dan tak ada orangtua yang mau anaknya disalahkan.
__ADS_1
"Kalau kau tidak percaya bahwa anakmu sudah mendorong anakku, tanyakan saja pada putrimu yang lain. Dia juga ada disana pasti menyaksikannya juga." Kata orangtua temanku. Seketika tatapan mereka semua jadi beralih ke arahku.
Saat itu, aku juga bingung harus berkata apa, tapi melihat ibu yang membela Celena sampai seperti, aku jadi tidak ada niatan untuk membela Celena. Aku mengatakan kejadian sebenarnya dengan bilang, "benar, Celena memang sudah mendorong anak itu." Tanpa embel-embel apapun. Atau pun menjelaskan alasan Celena melakukannya.
Ibu langsung menatapku kecewa, sementara Celena aku tidak tahu, apakah itu ekspresi marah, kesal, atau kecewa. Karena setelah aku menjawab begitu, dia membenamkan wajahnya dalam pelukan ibu. Saat itu aku pura-pura tidak mendengarkan Isak tangisnya.
Setelah itupun Celena menangis untuk beberapa saat. Aku pikir saat itu Celena menangis karena memarahiny. Tapi tidak. Ibu tidak pernah memarahinya. Jadi apa yang membuatnya menangis sampai sesunggukkan? Apa yang membuatnya begitu terluka dan hancur? Aku kah??
Apakah dia berharap aku akan ada dipihaknya?
__ADS_1