
Hallo Yuppy kembali dengan cerita baru. kali ini cerita tentang si kembar Celin dan Celena dengan Rabbit si boneka kelinci penukar keberuntungan. selamat membaca 🤗
POV Celin
Duk! Duk! Duk!
Aku terus menggedor pintu kamar keras-keras sampai tanganku lecet.
"Celena, buka pintunya!" Aku berteriak sejak tadi, memanggil nama kakak kembarku, namun tak ada sahutan darinya. Aku menelan ludah untuk membasahi tenggorokanku yang mulai kering karena terus berteriak.
Asap telah menyusup ke dalam kamar melalui celah bawah pintu. Aku melangkah mundur menjauh dari pintu, lalu menutup mulut dan hidung dengan kedua tanganku rapat- rapat, agar tidak menghirup asap itu, atau aku akan mati dengan cepat karena terlalu banyak menghirup karbondioksida. Meski begitu, suhu ruangan yang naik dengan cepat membuat oksigen di dalam kamar semakin menipis.
Aku mulai merasa pusing dan sulit bernapas. Sementara air mataku merembas keluar, dengan cepat bergulir seperti lilin yang meleleh, terasa panas di pipi.
__ADS_1
Bukan hanya karena asap yang mengenai mataku hingga terasa perih dan berair, tapi karena memang ingin menangis saking takutnya. Cepat atau lambat aku akan mati terpanggang dalam kamar ini jika tidak ada seorangpun yang mengeluarkanku.
Kamar ini tak ubahnya seperti oven raksasa yang sedang memanggangku. Jarum jam dinding yang berputar seperti timer yang menghitung mundur waktunya matang. Berapa lama lagi aku bisa bertahan?
Sepulang sekolah tadi aku bertengkar dengan celena. Ini bukan pertengkaran pertama kami, karena kami bertengkar hampir setiap hari. Namun, Pertengkaran itu berakhir dengan aku terkunci di dalam kamarnya.
Aku tidak tahu apa Celena masih berada di dalam rumah atau dia sudah pergi bermain di luar. Aku tidak mendengar suara siapapun di dalam rumah.
Tidak ada bunyi alarm kebakaran juga. Apa alarm di rumah rusak? Bagaimana rumah sebesar ini bisa terbakar tiba-tiba? Apa Celena ceroboh lagi membiarkan kompor menyala? Atau karena hal lain rumah kami kebakaran? Apapun itu, aku harus segera keluar sebelum mati terpanggang.
"Celena! Buka pintunya! Siapa saja! Tolong keluarkan aku dari sini!" Aku berteriak lagi. Suaraku serak bercampur Isak tangis.
Lututku gemetar dan akhirnya jatuh lemas di depan pintu. Saat pemadam kebakaran tiba mungkin itu sudah terlambat. Apa yang ibu pikirkan saat pulang nanti dan melihat semua ini?
__ADS_1
Apa dia akan menangis saat melihat apa yang menimpaku? Apa dia akan memarahi celena untukku? Ibu tak pernah memarahi Celena sekalipun dia membuat banyak masalah. Ibu memanjakan dan menyayangi Celena sepanjang waktu melebihi sayangnya padaku. Tidak mungkin ibu akan memarahi Celena.
Ibu akan memaafkannya, pikirku pahit. Dan mengatakan padanya kalau ini bukan kesalahannya. Dia tidak tahu semua ini akan terjadi. Lalu bagaimana dengan Celena? Apa dia akan sedih jika aku tidak ada? Apa dia akan merasa kehilangan dan menyesali perbuatannya padaku? Atau justru dia akan senang karena tidak perlu berbagi kasih sayang dan perhatian orangtua kami. Dia akan menjadi satu-satunya anak perempuan di keluarga ini yang dicintai. Dan aku akan dilupakan.
Kesedihan dan rasa bersalah akan menyelimuti keluarga ini untuk beberapa saat, lalu kemudian kembali normal.
Ya Tuhan! Aku belum mati. Tapi memikirkan bahwa aku akan dilupakan oleh keluarga sendiri terasa menyakitkan.
Suara tawa tiba-tiba menggema seolah menertawakanku. Suara tawa anak perempuan yang tak asing bagiku. Dia berdiri di balik pintu kamar, dan mengintipku dari celah bawah pintu kamar dengan matanya yang bundar seperti kelereng.
Dadaku terasa terbakar oleh kemarahan saat menyadari semua ini adalah ulahnya.
"Selamat tinggal, celin!"
__ADS_1
"Dasar iblis!"