Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Maaf!


__ADS_3

POV Reina


Saat kuceritakan mimpiku ke dokter pribadiku, dia bertanya bagaimana perasaanku pada Maiya. Aku yakin aku membencinya. Namun aku tidak menangis ataupun tertawa mendengar kematiannya. Perasaanku sama seperti saat dia masih hidup.


Mimpi yang terus berulang, bukan bentuk dari kebencianku. Seseorang tidak akan memimpikan orang yang dibencinya berkali-kali. Mimpi itu adalah bentuk dosaku, masalalu ku yang ingin ku buang. Wujud rasa bersalahku padanya.


"Maaf! Maafkan aku karena mencoba menyakitimu, Maiya!" ucapku dalam tangisanku.


Padahal dia hanya ingin aku memaafkannya. Berulangkali dia datang padaku mengakui kesalahannya. Berulangkali dia datang padaku memohon maaf. Tapi aku sekalipun tak pernah memaafkannya.


Aku menyalahkannya atas apa yang terjadi padaku. Dan tak mau mengakui kesalahanku sendiri. Meski dia tahu aku memanfaatkannya dia tidak pernah sekalipun membenciku. Tapi aku malah membenci orang yang telah tulus menganggapku sebagai sahabatnya.


Akulah yang sudah melukai Maiya sampai seperti ini. Aku yang telah membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Aku tak berani menatapnya.


"Maafkan aku! Maaf!" Hanya kata itu yang keluar di tengah Isak tangisku.


"Kak Reina!" Sebuah suara anak perempuan memanggilku dengan lembut. Aku tak jua mengangkat kepalaku.


"Kak Reina kumohon angkat kepala kakak! Dan lihat kak Maiya sekali saja!" Pintanya padaku. Disaat yang sama, sayup sayup aku mendengar suara Maiya bicara padaku begitu lemah nyaris tak terdengar namun kata itu terus terulang.


"Ja-ngan me-nangis! Ma-af!"


Aku mengangkat kepalaku, melihat Maiya yang berdiri di depanku. Wajahnya telah bersih dari luka, persis seperti saat ia masih hidup. Apa yang terjadi? Ini berbeda dengan yang tadi. Aku melihat ke anak perempuan itu yang sepertinya lebih paham dengan situasi ini.


"Arwah kak Maiya menunggu kak Reina memaafkannya. Dia menunggu di sini karena dia pikir kakak akan kembali lagi ke sini. Tolong maafkan dia apapun kesalahannya."

__ADS_1


Aku kembali menatap Maiya. Jadi, akulah yang telah membuatnya tetap di sini? Aku yang menahannya di dunia ini?


Sekarang aku mengerti arti kekosongan diriku. Lubang yang ada di hatiku, Maiya lah penyebabnya.


Maiya hanya seorang anak yang kesepian meski dia bisa memiliki segalanya dengan kekayaan Keluarganya dan reputasi ayahnya. Dia tertekan untuk menjadi anak baik dan patuh yang selalu diharapkan ayahnya. Sementara dia seorang yang bebas dan tidak suka dikekang.


Sifat kami yang saling bertolak belakang malah membuat kami saling mengisi dan melengkapi kekosongan masing-masing. Aku memang dibayar untuk menjadi temannya, tapi meski aku tidak mau mengakuinya aku senang bersamanya.


Hari-hari yang kami lalui bersama itu nyata bukan rekayasa. Kami tumbuh bersama, bermain, tertawa bersama, saling bercerita tentang mimpi dan apa yang akan kami lakukan di masa depan.


Saat aku mendengar kabar kematiannya. Hatiku menolak untuk percaya. Maiya yang aku tahu tidak akan melakukan tindakan bodoh itu.


"Maafkan aku!" Tangisan meluap seperti bendungan yang runtuh. Akulah orang telah membuatnya melakukan tindakan bodoh itu.


"Jika kak Reina terus menangis, arwah kak Maiya tidak akan bisa pergi. Bebaskan dia, kak! Maafkan dia dan relakan dia pergi."


"Maaf!" satu kata itu di ucapkannya kembali sambil tersenyum padaku seolah telah membaca isi hatiku.


Aku memaafkanmu, Maiya! Aku memaafkanmu! Jadi pergilah dengan tenang!


Aku memandangnya yang memudar perlahan hingga benar-benar lenyap dihadapanku. Seiring tertutupnya kembali lubang di hatiku. Rasa sakit yang kurasakan karena kepergiannya adalah bukti bahwa hubunganku bukan sekedar teman bayaran. Waktu yang kami lalui bersama membuat kami dekat seperti saudara.


POV Melya


Ruh Maiya telah pergi. Aura gelap yang sebelumnya membungkusnya telah lenyap. Wujudnya pun telah kembali bersih tanpa luka. Apa Angga yang melakukan pembersihan tepat pada waktunya, atau arwah Maiya yang tergerak oleh tangisan Reina?

__ADS_1


Jika arwah terbentuk dari kenangan masa hidupnya, maka wujudnya yang penuh luka adalah gambaran ingatan dari rasa sakit menjelang kematiannya. Dan wujudnya yang kembali bersih di depan Reina, mungkin karena dia mengingat kenangan mereka berdua dan itu membuatnya tenang.


Walaupun Reina tak mengatakan langsung, aku yakin dia telah memaafkan Maiya. Melihat arwah Maiya yang pergi dengan tersenyum, Reina telah melepaskan semua beban di hatinya. Dengan begitu Reina bisa melanjutkan hidup tanpa beban lagi. Ini yang terbaik untuk mereka berdua.


Angga menatap ke arahku dari depan kelas lantai 3. Dari sini aku bisa merasakan kemarahannya padaku. Padahal dia sudah mengingatkanku untuk mengawasi saja. Tapi aku tidak menuruti nasehat nya.


Untuk menyelamatkan Reina tepat waktu aku melompati tangga dari lantai 3 ke lantai 2. Karena jika tidak begitu tidak akan terkejar. Akibatnya, kaki kananku terlilit saat mendarat, dan aku terus menahan rasa sakitnya saat berlari tadi.


"Melya! Melya!" Terdengar suara pak Arya memanggilku dengan panik. Dia sudah kembali. Senternya mengarah padaku.


"Syukurlah kau baik-baik, saja!" ucapnya lega melihatku.


"Arya!" panggil Reina. Mendengar suara teman lamanya itu pak Arya terkejut. Apalagi melihat sosoknya yang berdiri di sana. Dia tak menyangka akan melihat Reina yang selama ini dikabarkan meninggal.


Aku mengakhiri petualangan malamku dengan kembali ke rumah dan dimarahi ibuku. Angga sama sekali tak membantuku membuat alasan. lebih parahnya lagi aku pulang dengan kaki terpincang-pincang dan pakaian yang kotor.


Tapi aku lega Riri sudah dalam perawatan dan kondisinya membaik. Kami berniat menjenguknya saat sudah dapat izin.


Dari pak Arya, aku tahu pak mong ditemukan pingsan digudang. Kondisinya baik-baik saja hanya sedikit linglung dengan apa yang terjadi padanya sebelum dia pingsan.


Aku, Eli dan juga pak Arya memutuskan untuk membobol loker nomor 13 dan mengakhiri misteri dan cerita-cerita hantu yang mengikutinya.


Atas ijin Reina, kami mengungkapkan kebenaran bahwa pemilik loker nomor 13 itu belum meninggal. Dan cerita hantu serta kutukan itu tidak benar. Jadi siapapun bisa menggunakan loker itu tanpa khawatir. Sementara kunci loker itu dipegang oleh Eli.


Alasan kuncinya tidak bisa dibuka bukan karena dikutuk tapi karena berkarat karena lama tidak pernah digunakan. Dan loker yang selalu kembali ke sekolah sebenarnya ulah kepala sekolah. Dia menyuruh orang untuk membawanya kembali ke sekolah karena merasa sayang barang yang masih digunakan malah dibuang. Jadi semua misteri terpecahkan. Masalah arwah Maiya tetap kami rahasiakan agar tidak menimbulkan isu baru.

__ADS_1


Dengan mengakhiri gosip mengenai loker ini, aku harap Riri kembali ke sekolah dengan tenang.


Sebelum meninggalkan kota ini Reina dan juga pak Arya berziarah ke makam Maiya dan mendoakan nya agar arwahnya selalu tenang. Reina berjanji dia akan rutin mengunjungi makam Maiya. Jika Maiya mendengarnya dia pasti senang.


__ADS_2