
Malamnya aku bangun lagi, dan melihat wajah ibuku. Dia terlihat kesal dan marah. Dan juga khawatir. Dia senang melihatku bangun.
"Maaf, mama!"
"Tidurlah lagi! Mama akan disini menjagamu," ucap ibuku sambil mengecup keningku.
"Papa?" tanyaku.
"Papa akan menjengukmu besok."
Keesokan harinya papa menungguiku sampai siang, setelah itu digantikan oleh Angga. Kondisiku membaik. Aku menceritakan semua kejadian yang ku alami pada Angga. Dia mendengarkan ceritaku dengan serius sambil mengupaskan apel untukku.
"Aku beruntung bertemu para siluman baik yang tidak ingin memakanku," ucapku setengah bergurau.
"Kau ditangkap dan dikurung selama 3 hari masih dibilang baik." Aku hanya bisa tertawa sambil menggaruk pipiku, mendengar tanggapannya.
"Kau mungkin sedikit beruntung saja. Karena diluar sana ada banyak makhluk ghaib lain yang bisa saja mencelakaimu. Kau harus hati-hati lain kali!" Angga memperingatkan. Aku mengangguk meresponnya.
"Tapi aku tidak mengerti, bagaimana aku bisa merusak pelindung yang mereka pasang tanpa aku sadari?" tanyaku.
"Perisai itu mungkin merasakan kekuatan dalam dirimu, dan menganggapnya sebagai ancaman, begitupun sebaliknya. Karena mengira perisai itu akan melukaimu maka tanpa sadar kau menghancurkannya. Mungkin seperti itu. Ini perkiraanku saja."
"Kalau begitu bisa gawat kalau sampai kejadian lagi. Aku jadi tidak bisa kemana-mana. Apa tidak ada cara untuk mengatasinya?"
"Aku akan coba bicarakan hal ini dengan kakek."
"Aku jadi kangen kakek. Setelah sembuh nanti apa bisa aku bertemu dengannya?"
"Aku akan tanya kakek dulu apa dia punya waktu untuk kunjungan kita. Belakangan ini kakek sibuk sekali sampai sulit ditemui."
Kakekku juga seorang paranormal yang hebat. Begitulah anggapanku. Dia membantu orang-orang yang terlibat dengan hal-hal ghaib. Kakek bilang itu adalah kemampuan yang diwariskan dari leluhurnya dulu. Angga juga banyak belajar dari kakek. Dia sudah menganggap Angga sebagai penerusnya.
Sayangnya ibuku dan ibu Angga tidak menyukai hal-hal seperti itu. Mungkin hal itu juga yang membuat kakek jadi sering berselisih paham dengan kedua putrinya.
"Apa menurutmu kekuatanku juga warisan sepertimu? Aku tidak begitu paham. Ku pikir kekuatanku itu hanya kemampuan melihat mereka saja. Tapi aku bahkan bisa berkomunikasi dengan mereka. Dan kekuatanku bukan hanya sebatas itu saja."
__ADS_1
Angga berhenti menggerakkan tangannya dan menatapku. "Dari apa yang kulihat kekuatan itu bukan berasal dari dirimu sendiri jadi itu berbeda denganku dan kakek. Kekuatan itu menyelubungimu semacam aura atau selimut tipis yang melindungi seluruh tubuhmu."
"Aku tidak tahu secara rinci apa dampaknya pada tubuhmu. Tapi kakek bilang sementara ini masih aman. Hanya saja kau memang harus belajar mengendalikannya. Jika kekuatan itu bahkan menghancurkan perisai dunia siluman, berarti kekuatan itu cukup besar dan berbahaya."
Kata-kata Angga membuatku berpikir banyak hal. Tentang kenapa aku bisa memiliki kekuatan ini? Siapa yang memberikannya? Apa dia bermaksud baik atau bermaksud buruk ?
Setelah tiga hari menginap di rumah sakit, akhirnya aku kembali ke sekolah. Bangunan sekolah ini terdiri dari tiga lantai dan dua pintu gerbang. Kelas satu terdiri dari enam kelas dan diletakkan di lantai pertama.
Berdasarkan informasi dari guru yang mengunjungiku di rumah sakit, kelasku di ruang 6, ruang kelas paling ujung.
Aku sempat terhenti di depan kelas. Pengalaman burukku di SD dulu membuatku ragu. Bagaimana nanti reaksi anak-anak kelas melihatku? Apa tanggapan mereka tentang apa yang ku alami di perkemahan?
Padahal dulu aku tidak peduli tentang apa yang dibicarakan orang-orang tentangku. Aku menarik nafas panjang, memantapkan langkahku masuk ke kelas.
Ternyata kelas sedang ramai. Para murid sedang asyik mengobrol satu sama lain. Tapi ada juga yang asyik sendiri dengan aktivitasnya. Tak ada yang memperhatikan aku masuk.
Aku melanjutkan langkahku menuju barisan ke dua bagian belakang. Tetapi siapa itu yang duduk di kursiku?
Ada seorang murid perempuan sudah duduk lebih dulu di kursiku. Dia menunduk ke meja seperti sedang menulis sesuatu. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena rambutnya terurai jatuh menutupi sisi wajahnya.
Teman sebangku ku sepertinya sedang sibuk mengobrol dengan teman di kursi depan jadi dia tidak memperdulikan teman di sebelahnya.
"Ini tempat dudukku. Apa kau bisa pindah?"
Gadis itu berhenti menulis. Lalu, dia menerjang ke arahku, hingga aku terkejut melompat ke belakang dan membentur meja.
Dia mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Begitu dekat hingga aku bisa melihat urat-urat menonjol di wajahnya, membuat kulit wajahnya yang pucat seperti mayat jadi lebih menakutkan.
Gadis itu lalu tertawa seperti orang gila. Dengan mulut besarnya yang menganga. Urat-urat wajahnya menonjol perlahan merobek kulitnya. Darah mulai merembas dari goresan-goresan lukanya.
Tiba-tiba seseorang memegang bahuku. Aku menoleh dan melihat seorang siswi berdiri di sampingku.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya. Aku menggaguk pelan.
Aku balik menoleh ke depan. Gadis itu sudah lenyap. Kursiku kosong.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak duduk? Kau masih sakit? Aku dengar kau sempat di rawat. Apa kau mau ku antar ke UKS?"
"Tidak usah. Aku baik-baik saja. Terima kasih," ucapku seraya duduk di kursi yang tadi diduduki gadis gila itu. Aku baru sadar bahwa teman-teman sekelasku menatap ke arahku."
"Oh ya perkenalkan, namaku Laila," ucap siswi itu lagi sambil mengulurkan tangannya padaku mengajak berkenalan.
"Namaku Melya," ucapku menyambut tangannya.
"Teman-teman sudah memilihku sebagai ketua kelas ini. Jadi jika kau butuh sesuatu kau bisa datang padaku," ucapnya lagi dengan hangat.
"Baiklah," sahutku.
Sepertinya dia orang yang ramah dan perhatian. Pantas saja jika dia terpilih sebagai ketua kelas. Dia kembali ke tempat duduknya di depan.
Guru sudah masuk ke kelas memulai pelajaran. Sayangnya aku masih memikirkan gadis gila itu. Harusnya tidak usah kutegur saja! Aku menggerutu kesal dalam hati.
Padahal aku sudah sering melihat mereka, tapi tetap saja aku bisa terkejut dengan tindakan mereka yang tiba-tiba seperti itu.
Baru hari pertama saja aku sudah dapat sambutan hangat dari penghuni di sini. Ah, sial! Kesal sekali rasanya.
Bel pulang berbunyi, satu persatu anak-anak meninggalkan kelas.
"Melya, tunggu!" Laila memanggil saat aku hendak keluar kelas. Aku berhenti di ambang pintu dan menoleh padanya.
"Ambillah! Ini kunci lokermu."
"Kunci loker. Untuk apa?"
"Oh ya. Aku lupa memberitahumu. Setiap murid disini diberikan loker masing-masing untuk menyimpan barang pribadinya. Dan ini milikmu."
"Terima kasih!" ucapku menerimanya.
Kotak loker itu diletakkan di depan kelas sesuai dengan jumlah murid di kelas. Aku memperhatikan nomor yang tergantung di kuncinya.
"Nomor 12. Nomor 12.." gumamku sambil mencari nomor lokerku. Akhirnya aku menemukannya. Saat aku akan membukanya terdengar suara gaduh.
__ADS_1
"Dug! Dug! Dug!" suaranya berasal dari dalam loker. Ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk dinding loker di dalam.
"Suara apa itu?"