
Maaf ya! harusnya episode ini terbit kemarin jam 10 malam. tapi saya salah setting tanggal dan jamnya ternyata 😭😭 langsung buru-buru diperbaiki agar bisa up hari ini juga. saya sempet kesel sama MT/NT karena error sistem yang terjadi, saya menahan episode lanjutannya, sampai dipastikan bahwa semuanya sudah kembali normal. Dan syukurnya sekarang semua sudah normal lagi.
🍁 🍁 🍁
POV Riri
"Dingin sekali!"
Saat terbangun aku sudah terbaring di lantai. Dengan bertopang pada kedua tangan yang gemetar, aku berusaha bangun.
Aku dikelilingi kegelapan yang tidak asing. Samar-samar aku mengenali bayangan benda yang ada di sekitarku. Bangku-bangku dan meja-meja yang saling berjejer, lemari dan papan tulis.
Aku berada di dalam kelas? Bagaimana bisa? Terakhir, aku ingat aku berada di kamar rumah sakit di atas ranjang. Kenapa aku bisa ada di sini? Apa aku sedang bermimpi? Bagaimana caranya aku keluar dari mimpi buruk ini?
Aku membuka pintu kelas yang tertutup. Di sudah gelap dan sepi. Untuk pertama kalinya aku berada di kelas malam hari. Rasanya aneh dan menakutkan.
Aku melangkah ke koridor depan kelas. Ini bukan lantai 1?
Terdengar suara seseorang melangkah dari jauh. Aku masih mematung di depan kelas, tidak tahu harus apa? Aku aku harus menghampirinya? Mungkin saja itu penjaga sekolah yang sedang memeriksa. Tapi, bagaimana kalau bukan? Apa yang harus aku lakukan.
Aku menelan ludah membasahi tenggorokanku yang tiba-tiba saja terasa kering. Aku diam dengan perasaan was-was. Suara langkah itu semakin mendekat ke arahku. Langkahnya semakin cepat seolah berlomba dengan detak jantungku.
Dia berlari ke arahku?!
"Bruk!" Aku langsung masuk kembali ke dalam dan menutup sebelum dia menerjang ke arahku. Aku takut sekali. Aku bahkan belum seperti apa wujudnya tapi aku sudah sangat ketakutan. Aku meneteskan keringat diudara yang sedingin ini.
Apa dia sudah pergi? Aku menempelkan daun telingaku ke pintu. Tidak terdengar apa-apa. Apa dia sudah pergi?
Aku memegang gagang pintu, hendak membukanya. Aku harus keluar dari sini secepatnya, pikirku.
"Duk! Duk! Duk!" Pintu di gedor dengan keras sampai menimbulkan suara gaduh. Daun pintunya bergetar. Aku menahannya dengan tubuhku. Selama beberapa menit dia terus menggedor pintu itu seperti orang marah. Lalu kemudian diam.
Aku melangkah mundur menjauh dari pintu itu. Melihat sekelilingku panik. Aku harus mencari tempat bersembunyi. Begitulah pikirku. Aku meringkuk di bawah kolong meja. Memegang lututku yang tidak berhenti gemetar.
Pintu itu masih tertutup. Tidak ada suara. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya. Tapi jika itu hantu yang mengikutiku dia masuk ke dalam tanpa harus repot membukanya. Cepat atau lambat dia pasti akan menemukanku. Apa yang harus kulakukan di saat seperti ini?
__ADS_1
Aku ingat sempat menaruh ponselku di saku celanaku. Aku merogohnya dan senang melihat benda itu ada di genggamanku.
Aku menghubungi keluargaku satu persatu.
"Kenapa tidak di angkat?!" gerutu ku kesal. Ayah, ibu, kakak, tak ada satupun dari mereka yang menjawab panggilanku. "Apa yang mereka lakukan?!"
Ada satu no telpon lagi yang bisa dihubungi. Melya. Apa dia akan menerima teleponku? Aku mencoba menghubungi beberapa kali. Tetapi nomornya sibuk.
"Melya! Ku mohon angkat teleponnya!"
* * *
POV Melya
"Ku mohon angkatlah telponnya, kak! Aku harus bicarakan hal ini denganmu!" Sejak tadi aku mencoba menghubungi Angga, tak belum ada jawaban juga.
Angga pasti sedang pergi bersama kakek dan mematikan nada dering ponselnya. Dia selalu seperti itu jika pergi ke tempat kakek. Aku tidak pernah tahu apa yang mereka lakukan.
Dulu aku hanya bisa diam dan menatap iri kepada Angga jika kakek mengajaknya pergi, karena aku tak paham apapun tentang dunia ghaib atau hal-hal yang berkaitan dengan itu.
Haah! Aku menghempaskan tubuhku di kasur. Berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Aku memikirkan kembali apa yang terjadi hari ini.
Atas petunjuk pak Arya aku mendatangi alamat rumah kakak dari Reina. Di depan gerbang itulah aku bertemu dengannya. Terduduk di kursi roda dengan beberapa perban melilit di kepalanya. Dia juga menggunakan penyangga leher.
Ada beberapa bekas luka di wajahnya. Namun aku langsung mengenali wajah itu. Mirip seperti yang kulihat di foto para alumni itu. Foto Reina. Usianya sebaya denganku.
"Hallo, ada yang bisa ku bantu?" sapanya membuyarkan lamunanku. Sepertinya dia sudah mencoba memanggilku berkali-kali, tapi aku tak mendengarnya saking kagetnya.
"Oh, maaf!"
"Ada apa? Kau berdiri di depan rumahku?" tanya gadis itu lagi.
"Kau pasti Eli. Aku Melya, teman sekelasmu," jawabku.
Aku ingat bahwa rumahnya berhadapan dengan rumah Eli. Dan melihat kondisi gadis yang ada di depanku saat ini, dia pasti baru saja pulih dari kecelakaan. Aku dengar dari Riri dia mengalami kecelakaan di hari pertama masuk sekolah.
__ADS_1
"Pak Arya, wali kelas kita memintaku untuk menjengukmu," ujar ku lagi.
"Jadi kau melya. Riri banyak bercerita tentangmu di telpon. Kemarin juga Laila datang berkunjung."
"Sebenarnya, aku ingin menyampaikan pesan dari pak Arya. Ini berkaitan dengan siswi bernama Reina," kataku lagi. Mendengar itu raut wajah Eli nampak kaget.
"Tentang bibiku? Ada apa?" tanya Eli bingung.
"Itu.." ucapanku terpotong. Saat itu pintu gerbang terbuka. Wanita paruhbaya berusia sekitar empat puluhan muncul di balik gerbang. Aku memberi salam padanya.
"Arya sudah memberitahuku sebelumnya mengenai kedatanganmu. Masuklah dulu. Kita bicarakan di dalam," ujar wanita itu.
"Ibu, sebenarnya ada apa?" tanya Eli.
"Tidak apa-apa. Kau juga masuk ya. Sudah selesai jalan-jalannya 'kan?"
Seorang perawat mendorong kursi roda Eli masuk ke dalam rumahnya. Aku mengikuti di belakang. Namun tertahan sesaat di gerbang dan menoleh ke rumah Riri yang saat itu tampak sepi.
"Ada apa?" tanya Eli melihatku diam.
"Tidak ada. Bukan apa-apa," jawabku lalu melangkah masuk.
Di ruang tamu, kami bertiga mulai berbicara. Aku benar-benar tidak menyangka Eli adalah keponakan dari Reina. Sekarang aku paham bagaimana semua potongan-potongan ini mulai terhubung. Namun ada satu hal masih tak kumengerti.
Kenapa dia ingin bertemu orang itu lagi? Apa alasannya? Hingga dia bertahan di sekolah itu selama bertahun-tahun? Kebencian? Kemarahan? Atau dendam?
Angga pernah bilang, ada beberapa alasan roh orang-orang mati itu terperangkap di dunia ini dan tak bisa pergi. Salah satunya adalah perasaan yang sangat kuat yang tertinggal di suatu tempat, yang membuat roh merembas tidak bisa pergi dari tempat itu. Apa benar karena dendam? Sampai-sampai dia ingin mencelakai orang yang tak dikenalnya?
Bukan! Kurasa bukan itu! Apa gunanya dia melakukan itu? Tapi kalau dipikir lagi mereka memang bukan makhluk yang mudah dipahami tindakannya.
Kalau bukan, berarti apa ada sesuatu yang ingin disampaikan? Atau ada hal yang belum dia tuntaskan hingga dia belum bisa pergi dengan tenang?
Tapi dari caranya berinteraksi dengan makhluk hidup, sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Jadi apa yang menahannya untuk pergi dari dunia ini? Dan kenapa dia ingin bertemu dengan orang itu?
Suara dering ponselku memecah fokusku. Aku bangkit dan memeriksanya.
__ADS_1
"Riri?" Panggilan itu dari Riri. Apa yang terjadi?