
POV Melya
Saat pulang sekolah hujan turun dengan deras. Dalam perjalanan itu aku merasa di ikuti seseorang. Aku berbelok dia ikut berbelok. Aku tidak berani menengok ke belakang karena takut.
Aku mempercepat langkahku. Dia juga mempercepat langkahnya. Aku berlari dia ikut berlari mengejar. Suara langkahnya yang menapaki genangan air terdengar. Aku yakin dia berniat jahat.
"To-tolong!" Aku berusaha teriak minta tolong tapi suaraku tenggelam oleh suara deras hujan yang mengguyur. Saat hujan seperti sekarang ini, orang-orang memilih berdiam di dalam rumah dan mengunci pintu rumah. Aku harus meminta tolong pada siapa?
"Aaahh!" pekikku terjatuh. Karena licin kakiku terpeleset. Aku buru-buru bangun dan bersembunyi di gang. Meninggalkan payungku di jalan.
Deg deg deg! Aku sampai bisa mendengar detak jantungku yang ketakutan.
Aku menggigit bibirku dan memegang erat tali tasku, tubuhku menggigil karena dingin dan sudah basah kuyup. Pandanganku buram karena hujan hingga berapa kali harus ku usap dengan tangan.
Aku bisa merasakannya dan mendengar langkahnya samar-samar. Dia semakin mendekat. Oh Tuhan! Aku takut sekali sampai tak bisa bernafas. Aku takut dia mengetahui aku bersembunyi di sini.
Dan ketika petir menyambar membelah udara, dalam waktu yang singkat itu aku bisa melihat sosok itu tepat berdiri di hadapanku. Aku membekap mulutku dengan telapak tanganku berusaha untuk tidak berteriak. Sedangkan air mataku sudah bercampur dengan air hujan.
Tiba-tiba sebuah payung merunduk di depanku seolah menutupi keberadaanku.
"Ssst! Diamlah!" sebuah suara terdengar dari orang di belakangku. Suara seorang perempuan.
Aku tak bisa melihat orang itu kecuali bagian kakinya saja. Saat aku melihat kaki itu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.m, barulah dia angkat lagi payungnya. Di penguntit itu sudah pergi.
Syukurlah! Aku merasa lega. Aku berbalik hendak melihat orang yang sudah menolongku dan mengucapkan terimakasih.
"Terima kasih karena sudah - Aaakhhh!" ucapan ku berubah menjadi teriakan histeris yang merobek suara hujan. Aku terperanjat menjauh hingga terjatuh ke jalan saat kulihat wajah dari penyelamatku, perempuan tanpa wajah.."
* * *
"Aaah!" Lisa mencoba mempraktekkan teriakan orang yang sedang dia ceritakan itu. "Aww!" teriakannya berubah jadi pekikan saat Dina memukul lengannya.
"Sakit, Dina!" gerutu Lisa.
"Duduk! Semua orang melihatmu."
__ADS_1
Akhirnya Lisa duduk kembali di kursinya. Sementara Eli tertawa kecil memperhatikan tingkah Lisa. Saat ini kami berempat duduk makan siang di kantin saat jam istirahat.
"Bisa tidak jangan cerita hantu saat makan? Selera makanku jadi hilang!" protes Dina.
"Tapi ini sungguhan! Semua orang sedang ramai membicarakannya. Aku mendengarnya langsung dari kakak kelas."
Eli hanya tertawa menanggapinya.
"Apa kau tertawakan, El? Aku sedang cerita hantu."
"Caramu bercerita itu yang membuatku tertawa."
Dina ikut tertawa mendengar jawaban Eli. "Cerita horor pun berubah jadi lucu kalau Lisa yang cerita."
Kami bertiga jadi menertawakan Lisa.
"Berhenti mentertawakanku! Padahal aku sudah cerita sungguh-sungguh," ucap Lisa pura-pura kesal.
"Bagaimana menurutmu, Mel? Apa kau pernah melihat hantu itu?" tanya Eli.
"Tidak. Aku belum pernah melihatnya," jawabku.
"Nyanyian hujan?" Kami semua jadi bertanya-tanya.
"Ya, saat kau sedang sendiri, coba kau dengarkan baik-baik. Ada suara orang bernyanyi di dalam hujan. Saat kau mendengar suara nyanyian itu, maka hantu perempuan itu akan muncul di dekatmu. Begitulah cerita yang beredar."
Kami semua jadi terdiam.
"Haah! Maaf ya! Tadi ramai sekali!" ucap Riri yang baru ikut bergabung sehabis mengantri membeli makanan. "Oh ya! Tadi kalian sedang cerita apa?"
"Tadi kami cerita ha-- aw!" Aku menendang kaki Lisa agar tidak melanjutkan kata-katanya. Kami masih tetap berhati-hati membicarakan masalah itu dengan Riri. Jadi sebisa mungkin menghindari pembicaraan itu.
"Ha-aw? Apa itu?" Riri yang mendengarnya jadi bingung.
"Eli akan check up ke rumah sakit hari ini. Dan aku berniat menemaninya. Apa kau mau ikut?" tanyaku pada Riri mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Sayang sekali hari ini aku ada les pulang sekolah. Jadi tidak bisa ikut," jawab Riri.
"Kalau begitu aku ikut!" seru Lisa bersemangat.
"Hari ini kita berdua ada jam pelajaran tambahan. Kau lupa?" ujar Dina mengingatkan.
"Oh iya!" Lisa baru ingat.
"Tidak apa kalau tidak bisa."
Kami melanjutkan makan siang kami. Mungkin kalian bingung kenapa kami bisa bertemu. Ya, kami bertemu begitu saja di kantin sekolah beberapa hari yang lalu. Dina dan Lisa masih mengingatku karena kamu pernah satu tim saat ikut perkemahan.
Mereka menyapaku yang saat itu sedang bersama Eli dan Riri. Mereka pun berkenalan. Mengingat sifat Eli yang ramah dan sifat Lisa dan Dina yang terbuka mereka jadi akrab dalam waktu singkat. Akhirnya kami jadi sering makan siang bersama di kantin sekolah meski tidak janjian.
Sudah seminggu ini hujan turun bagai badai tanpa henti. Hari ini pun sama. Air hujan membentuk tirai tipis yang menyelimuti bangunan sekolah. Seolah-olah menghalangi kami semua keluar dari sekolah ini. Tapi tentu saja itu hanya imajinasiku saja.
Anak-anak yang lain pulang seperti biasa dengan memakai payung. Aku berencana menunggu Eli karena kami akan pergi ke rumah sakit. Dia sedang di panggil ke ruang guru. Jadi aku menunggunya di teras depan gedung sekolah.
"Ah iya aku lupa belum bilang ke kak Angga akan pergi hari ini." Aku naik ke lantai dua untuk menemuinya, namun di depan tangga aku melihat Angga berbicara dengan seorang murid perempuan. Apa dia dapat pernyataan cinta lagi?
Sebenarnya bukan hal yang baru melihatnya ditembak murid perempuan di sini. Yang mengejutkan adalah murid perempuan yang bersamanya itu. Laila, dia ada ketua pengurus kelas di kelas ku.
Aku tidak kalau mereka saling kenal. Apa mereka punya hubungan khusus? Atau ini hanya diskusi biasa antar pengurus kelas?
"Aku mengerti kau mencemaskan adikmu. Tapi kau tidak bisa selamanya menggunakan alasan itu untuk tidak pergi denganku! Aku juga membutuhkanmu!" protes Laila dia terlihat jengkel dengan Angga.
"Aku tidak mau dengar alasan apapun lagi! Pokoknya kau harus pergi denganku hari ini!" Laila kemudian pergi. Untungnya dia tidak melihatku.
"Sejak kapan kau jadi suka menguping begitu?" Teguran Angga sontak mengejutkanku. Aku segera menghampirinya.
"Aku tidak menguping! Aku memang ingin bicara denganmu dan tak sengaja mendengar percakapan kalian," ujarku menjelaskan. "Aku tidak tahu kau mengenal Laila.
"Lupakan saja itu! Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Angga mengalihkan topik.
"Aku akan menemani Eli ke rumah sakit. Mama sudah mengijinkan, jadi jika kau ingin pergi dengan Laila tidak apa."
__ADS_1
"Baiklah! Tapi berhati-hatilah saat pulang! Pulanglah sebelum gelap!"
"Oke!" Aku berlari pergi dengan semangat. Saat aku kembali ke depan, Eli belum muncul. Apa masih lama ya?