
Entah bagaimana jariku sampai terluka dan107 mengeluarkan darah. Jadi bukan hanya perasaanku saja.
Untuk sesaat aku memperhatikan boneka itu dengan seksama lalu menyimpannya di lemari setelah diperbaiki. Aku memang merasa ada yang aneh dengan boneka itu, tapi kemudian perasaan itu hilang karena semakin kuperhatikan boneka tampak biasa saja seperti boneka umumnya. Tak banyak yang terjadi, aku melalui hari-hari ku seperti biasa.
Sampai suatu hari tiba waktunya untuk lomba paduan suara antar sekolah. Aku sangat antusias menyambutnya, namun harus kecewa karena aku tidak terpilih. Aku merasa kesal, dan menggerutu di kamar.
"Ini tidak adil! Aku sudah berlatih keras sama seperti yang lainnya. Tapi kenapa ibu guru tidak memilihku? Aku sangat ingin ikut. Apa tidak ada cara agar aku bisa ikut lomba itu?" Gerutuku di dalam kamar.
"Tentu saja bisa." Sebuah suara anak perempuan terdengar menimpali ku. Mataku mengerjap beberapa kali, seakan aku bermimpi mendengar suara, dan berusaha untuk bangun.
lalu melompat bangkit, sadar itu bukan mimpi. Aku memperhatikan sekeliling kamar, mencari-cari asal suara, tap tidak menemukan siapapun di kamar.
Lalu pintu lemari terbuka perlahan, seolah benar ada dunia lain di dalam lemari itu, sesosok makhluk kecil melangkah keluar.
__ADS_1
"Kau...?" Aku mendapati seekor kelinci, lebih tepatnya boneka kelinci menatapku tak bergeming. "Siapa..?"
"Aku Rabit, teman semua anak-anak. Jadi kau tidak perlu takut. Karena aku hanya ingin membantumu." Jawab boneka itu. Rasanya bulu di tengkukku berdiri. Merinding melihat sesuatu yang janggal di depanku.
Aku pernah mendengar tentang boneka yang bisa bicara dari anak-anak dikelas. Bukannya tidak percaya, aku tahu bahwa kota yang kami tinggali ini menang aneh, jadi tidak mengejutkan jika boneka yang bisa bicara itu benar-benar ada. Tapi mendengar dan melihatnya langsung itu berbeda. Rasanya aku seperti terseret ke dalam film horor tiba-tiba.
"Apa yang kau inginkan? Apa kau akan menculikku? Membunuhku? Atau mengeluarkan isi otakku seperti di film?" tanyaku gemetar ketakutan. Sambil terus merapat ke tembok.
Apa dia pikir dirinya sendiri masuk akal? Dari mana datangnya suara itu? Dia cuma boneka kapas tanpa pita suara. Aku ingin memprotes seperti, tapi kemudian ku telan lagi karena kupikir tidak ada gunanya jika aku berdebat dengan makhluk yang isi kepalanya hanya kapas.
"Sudah ku bilang. Aku tidak akan menyakitimu. Jadi kau tidak perlu takut?" Katanya lagi melihatku masih membeku seperti stiker yang menempel di dinding.
Dia kemudian mengubah gaya bicaranya
__ADS_1
"Rabit anak baik yang suka berteman. Rabbit cuma ingin berterima kasih pada Celin, yang sudah merawat Rabit."
Aku tidak pernah merawat? Aku cuma memungut, tunggu!
"Kau tahu namaku?" tanyaku heran.
"Rabit tahu nama semua anak-anak di kota ini."
"Wow! Kau menakutkan! Padahal kita tidak pernah bertemu, bagaimana bisa tahu tentangku? Apa kau mengawasiku?"
"Rabit tidak mengawasi siapapun, Rabit cuma disuruh mama berteman dengan anak-anak di kota ini. Karena itu Rabit harus tahu nama teman Rabit."
"Meskipun begitu kau tidak bisa asal sebut nama seseorang, sebelum orang itu memperkenalkan dirinya. Karena itu sama saja seperti penguntit." kataku.
__ADS_1