
Ratusan tahun telah berlalu. Aku pun terbiasa tinggal di hutan ini melaksanakan tugas yang diberikan padaku sekaligus menemani penguasa hutan ini, Absham.
Nama Absham sebetulnya sebutan untuk pohon yang dia tinggali selama ini. Selain tinggi dan besar, pohon ini memiliki aroma harum yang unik yang tidak dimiliki pohon lainnya.
Pohon ini cukup tua, aku yakin usiannya sudah ribuan tahun. Pohon yang tumbuh dari dua tanah dan tumbuh di dua alam yang berbeda, menyimpan energi kehidupan yang besar. Penguasa kami memutuskan untuk menyembunyikan pohon ini ke dunia kami. Dan menjadi pembatas antara dunia kami dan dunia manusia.
Setelah ratusan tahun pemukiman manusia semakin maju dan luas sedangkan lahan hutan semakin sempit.
Dari atas pohon tua itu aku memerhatikan pemukiman manusia yang berdekatan dengan hutan.
"Hei, Pak tua! Apa yang akan terjadi pada kita jika hutan ini digusur oleh manusia?" tanyaku.
"Itu tak mungkin terjadi, manusia membutuhkan hutan untuk melindungi pemukiman mereka. Dan berhenti memanggilku pak tua! Usiaku hanya selisih 200 tahun denganmu!" ujarnya.
"Selisih 100-200 tahun cukup banyak di dunia manusia. Apa kau tidak tahu?" sahutku.
"Tapi tidak di dunia kita. Itu sama seperti selisih beberapa tahun saja. Aku belum tua." protesnya. Aku tersenyum melihat sikapnya.
Sham selalu terlihat pemarah dan kaku. Dia sangat patuh pada aturan yang sudah dibuat oleh penguasa wilayah tertinggi, pamanku. Dia juga tidak begitu menyukai manusia.
Meskipun begitu dia tetap mengizinkan manusia memasuki hutan selama batas tertentu dan dengan syarat mereka tidak merusak hutan.
"Hua!" Aku menguap. Mulai bosan hanya melihat semuanya dari atas puncak pohon. Aku melompat turun.
"Mau kemana?" tanya Absham dari atas pohon.
"Aku akan patroli seperti biasa. Aku akan segera kembali." jawabku.
Satu hal lagi yang ku suka dari Absham adalah diaa tidak melarangku memasuki dunia manusia. Dengan alasan patroli untuk menjaga keamanan hutan dan juga desa aku diperbolehkan selama tidak terlibat urusan manusia terlalu dalam.
__ADS_1
Dari kejauhan seorang pemuda yang sedang dikepung dua ekor hewan buas yang lapar. Aku memberikan tekanan pada tanah yang kuinjak. Para hewan buas yang menyadari kemunculanku langsung kabur.
Aku mendekati sang pemuda yang sedang bersandar di batang pohon. Dia memberiku tatapan bingung dan keheranan.
"Siapa kau? Apakah kau hantu, peri, malaikat, atau bidadari?" tanya pemuda itu.
"Bukan semuanya. Aku hanya seorang wanita yang tinggal di hutan ini. Kau tampak sedang sakit. Biarkan aku memeriksamu." Jawabku. Wajah laki-laki itu tampak pucat. Dia sedang sakit parah.
"Di mana keluargamu? Kenapa kau bisa di sini? Mau aku antarkan pulang?" tanyaku lagi. Dia menggelengkan kepalanya yang lunglai.
"Keluargaku yang sudah membawaku ke sini. Mereka ingin menjadijanku persembahan untuk penunggu hutan ini. Mereka bilang penyakitku membawa kerugian untuk keluargaku, karena itu mereka membuang ku kesini." Meski dia berusaha tersenyum, aku tahu sesedih apa hatinya saat ini.
Para manusia itu lagi-lagi melakukan hal tak berguna begini. Pantas jika Absham tidak menyukai manusia. Absham tidak memerlukan persembahan manusia, tetapi para manusia itu memperlakukan seolah Absham memakan daging manusia.
Alih-alih mereka memberikan persembahan yang suci pada penunggu hutan, Mereka sebenarnya membuang keluarga mereka yang sakit dan merepotkan ke dalam hutan ini untuk mengurangi biaya hidup.
Kejam. Hanya satu kata itu bisa ku lontarkan pada makhluk yang tega membuang keluarganya begitu saja. Membuatku geram dan marah.
Pemuda itu meraih tanganku dan menggelengkan kepalanya seakan dia tahu apa yang akan kulakukan pada keluarganya.
"Jangan! Kumohon jangan! Aku tidak marah pada mereka juga tidak ingin membenci mereka. Jadi tolong biarkan mereka. Lagipula sebentar lagi aku akan mati. Aku tahu kau bukan gadis biasa. Terima kasih sudah menolongku dari hewan buas itu. Kau boleh abaikan aku."
Meski dia bicara begitu aku tahu dimatanya masih tersirat keinginan untuk hidup. aku salut pada ketulusannya.
"Tunggulah disini! Jangan kemana-mana! Aku akan segera kembali." pintaku padanya.
Aku pergi untuk mengambil beberapa tanaman obat mujarab yang berhasil kutumbuhkan di hutan ini. Dengan kekuatanku dan pengetahuanku terhadap tanaman aku berhasil menumbuhkan tanaman-tanaman langka yang berguna untuk pengobatan.
"Kunyah ini beberapa kali lalu telan." Ucapku padanya sambil menyodorkan tanaman yang kupetik. Dia menurut. Aku memberikan minum dengan wadah bambu.
__ADS_1
"Istirahatlah. Hewan buas tidak akan ada yang mendekat karena aku sudah menandai tempatmu. Besok aku akan kembali membawa tanaman itu lagi. Setelah memakannya beberapa kali kau akan sehat kembali dan cukup kuat untuk bekerja sendiri tanpa bergantung pada keluargamu." Aku menepati janjiku untuk datang beberapa kali membantunya. Kadang aku juga membawakan makanan dan minuman untuknya.
Absham mungkin tidak akan suka aku melakukan ini. Tetapi aku juga tidak mau jika kami disalahkan atas kematian pemuda ini. Mereka mungkin akan mengatakan kalau penunggu hutan ini telah memakan korban manusia lagi. Padahal kami tidak pernah melakukan hal itu.
Setelah beberapa waktu dia sudah cukup sehat untuk pergi dari hutan ini dan mencari pekerjaan di desa terdekat. Pemuda itu mengucapkan terima kasih padaku lalu pamit pergi.
"Pastikan kau tidak tersesat lagi di hutan ini dan membuatku susah." Ucapku mengingatkannya sebelum pergi. Dia tersenyum membalas kata-kataku. Setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi.
Beberapa hari kemudian banyak orang-orang yang berdatangan ke hutan ini dengan alasan yang bermacam-macam. Isu mengenai seorang pemuda penyakitan yang sembuh setelah memasuki hutan menjadi beberapa versi cerita.
Ada yang bilang pemuda itu telah bertemu dengan makhluk ghaib sejenis peri hutan atau Dewi atau bisa jadi siluman wanita. Mereka datang untuk mencari tahu kepastiannya, berharap menemukan sosok misterius penjaga hutan. Namun, setelah beberapa waktu melakukan pencarian mereka menyerah. Pencarian mereka berakhir sia-sia tanpa menemukan satu pun petunjuk. Mereka pun menyimpulkan bahwa cerita itu tidak benar dan hanya gosip belaka.
Ada juga yang datang ke hutan ini untuk menemukan tumbuhan mujarab yang telah menyembuhkan pemuda itu. Ada yang mencari untuk menyembuhkan keluarganya yang sakit, namun ada juga manusia licik yang serakah. Mereka mengeksploitasi tanaman langka dan menjualnya dengan harga tinggi.
Untuk orang-orang seperti mereka aku mempermainkan mereka. Aku membiarkan mereka mengambil tanaman itu sebanyak-banyaknya tetapi aku akan membuat mereka tersesat. Aku mengurung mereka sampai mereka mau membuang tanaman yang mereka panen.
Kadang juga aku membiarkan mereka membawanya keluar, namun aku mengubah semuan tanaman langka itu menjadi tanaman lain atau sekarung batu. Melihat ekspresi terkejut dan ketakutan mereka sangat menghiburku menghilangkan kebosananku.
Setelah memberi mereka pelajaran pada orang-orang serakah itu akhirnya para warga paham, bahwa tanaman yang mereka petik ada pemiliknya dan tidak boleh sembarangan memetiknya.
Mereka membiasakan meminta izin sebelum memanen tanaman itu. Niat mereka mengambil tanaman itu harus baik dan bersih, jika tidak mereka akan mendapatkan hukuman dari pemiliknya. Kebiasaan ini diyakini dan diwariskan secara turun-temurun kepada anak cucu mereka.
Ada juga orang-orang sesat yang menyembah kami seperti dewa atau tuhan. Beberapa kali mereka datang dan memberikan sesajen dan persembahan untuk penunggu hutan untuk mendapatkan kesuburan dan kemakmuran.
Absham merasa muak dan gerak dengan tindakan itu. Hal ini sangat serius karena hal ini akan melahirkan golongan sesat yang menyimpang dari keyakinan yang seharusnya. Karena itu aku dan Absham harus muncul di depan mereka dan memberikan peringatan.
"Kami bukanlah dewa jadi hentikanlah tindakan kalian yang tidak berguna karena itu hanya membuat kami marah. Kami juga sama seperti kalian memiliki tuhan yang kami yakini dan penguasa yang kami patuhi. Jika kalian meneruskan kegiatan kalian ini maka aku sendiri akan turun tangan menghukum kalian dengan hukuman yang berat dan tidak bisa kalian bayangkan."
Absham merubah dirinya kembali menjadi sosok pohon raksasa yang tinggi dan besar, dengan suaranya yang keras dan menakutkan dia berbicara sekali lagi dengan nada mengancam, "Apa kalian semua msu mencoba hukuman dariku? Aku akan senang hati menunjukkannya."
__ADS_1
Para manusia itu lari tunggang langgang saking takutnya. Mereka tidak muncul lagi. Tidak juga melakukan persembahan apapun lagi. Namun semua orang meyakini di dalam hati bahwa di dalam hutan yang berdampingan dengan mereka ada dua makhluk ghaib berkekuatan tinggi yang menjaga hutan itu.
Jika mereka bersikap baik maka penjaga itu juga akan bersikap baik kepada mereka. Tapi jika mereka berbuat jahat maka hukumanlah yang akan mereka dapat. Dan hal ini yang mereka wariskan dan mereka ceritakan kepada anak cucu mereka kelak.