Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Persidangan di mulai


__ADS_3

Suatu hari Angga pernah bilang seperti ini.


"Siluman merupakan makhluk ghaib yang memilih hidup terpisah dari dunia manusia dan tinggal di kawasan yang mereka klaim sebagai wilayah mereka, seperti di gunung, hutan, sungai, danau, ataupun laut."


"Mereka hidup secara berkelompok dan bermasyarakat seperti manusia. Biasanya mereka tidak menggangu manusia tanpa alasan. Meski begitu mereka cenderung menjadi agresif dan marah saat manusia memasuki wilayah mereka tanpa izin. Dalam kondisi itu siluman menjadi makhluk berbahaya yang bisa mencelakakan manusia."


"Kalau mereka tahu itu berbahaya, apakah masih ada manusia bodoh yang mau memasuki wilayah siluman begitu saja?"


Angga malah tertawa mendengar pertanyaanku. "Bukan mau, tapi manusia sering melakukannya tanpa sadar."


"Kenapa bisa?" tanyaku lagi.


"Karena dunia kita berdampingan dengan dunia mereka. Diantara dua alam yang saling tumpang tindih, batas antara dunia manusia dan dunia para siluman tidak pernah jelas dan tidak pernah ada kesepakatan bersama. Baik manusia dan siluman saling mengklaim satu sama lain wilayah mereka seenaknya."


"Pada akhirnya itu hanya menjadi alasan mereka untuk menyakiti makhluk lain."


"Kalau begitu manusia yang rugi, karena mereka tidak bisa melihat para siluman mereka jadi tidak tahu apakah itu wilayah mereka atau bukan," ujarku berpendapat.


"Disitulah pentingnya etika dan tata krama ditempat asing. Seperti memberi salam, gunanya untuk memberitahu pemilik tempat bahwa kita datang bertamu secara sopan. Menjaga lisan agar tidak bicara sembarangan yang bisa menyinggung 'pemiliknya'. Juga menjaga tempat yang kita kunjungi. Tidak merusak atau mengotori dan tidak mengambil barang yang bukan miliknya."


"Walaupun tidak menjamin keselamatan kita sepenuhnya paling tidak kita sudah menunjukkan etikat baik pada pemilik tempat. Karena tuan rumah yang baik akan senang dengan tamu yang baik juga."


Kembali ke masa sekarang, dimana aku tersesat di tempat asing. Tanpa sempat aku bertata-krama atau berkenalan, aku sudah dihadapkan pada tuan rumah yang marah. Yang menuduh kami memasuki wilayah mereka tanpa izin.


Parahnya lagi temanku pingsan disaat yang paling buruk.


"Manusia licik! Kalian memasuki wilayah kami tanpa izin!" ucap salah seorang dari ketiganya.


"Tunggu dulu! Kami ini tersesat! Bukannya masuk tanpa izin. Tolong mengerti!"

__ADS_1


"Tangkap mereka!" perintah salah satu dari mereka yang sepertinya adalah ketuanya.


Melihat mereka bersiap mendekatiku, Perlahan aku melangkah mundur. Namun pijakanku goyah, aku terpeleset dan jatuh ke tanah dengan posisi terduduk.


Dari posisi ku saat ini aku melihat mereka jadi lebih besar dari yang tadi, dan lebih menakutkan. Apa yang akan mereka lakukan jika mereka menangkapku?


Sekelebat bayangan melintas di atas kepalaku. Sosok makhluk serigala yang pernah kutemui berdiri di depanku. Aku mengenalinya dari cara dia menatapku dengan mata emasnya.


Tanpa aba-aba makhluk berbulu itu mencengkeram pinggangku dan membawa tubuhku ke udara, meninggalkan ketiga makhluk bertanduk itu. Manusia serigala itu melompati pohon demi pohon dengan kecepatan tinggi. Rasanya seperti naik roller coaster. Kepalaku jadi pusing karena pemandangan di sekitarku bergerak sangat cepat.


Kurasa kami sudah pergi cukup jauh dari tempat tadi. Meninggalkan pengejar-pengejar kami di belakang. Siluman serigala ini juga membawa Dina. Tapi apa tujuan makhluk ini membawaku? Apakah dia ingin menyelamatkanku atau dia punya rencana lain?


Tiba-tiba sesuatu menghantam kami dengan keras, membuat kami bertiga terpental jatuh ke tanah. Aku melihat siluman serigala itu menggeram bersiap untuk menyerang dengan marah.


Aku tidak sempat melihat sosok yang membuat kami terjatuh. Yang pasti makhluk itu lebih besar dan kuat. Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi karena begitu aku membuka mataku kembali, kami bertiga terkurung dalam suatu ruangan yang dingin dan tertutup rapat tanpa jendela.


Tapi ruangan ini sedikit terang meski aku tidak tahu dari mana sumber cahaya itu. Aku melihat Dina masih terbaring.


Siluman serigala itu dikurung bersama kami dalam keadaan terikat. kini aku melihatnya dengan jelas. Aku menghampirinya.


"Terima kasih!" ucapku tulus.


"Kau sudah berusaha menolong kami, benar kan?" Itu pasti benar. Cara dia melihatku tidak seperti hewan buas yang lapar.


"Walaupun kita bertiga akhirnya tertangkap lagi," ucapku lagi sambil tertawa untuk mencairkan suasana.


"Kenapa kau ingin menolong kami? Apa karena aku mengembalikan bonekamu? Ah tunggu! Itu bukan bonekamu kan? Siapa pemilik aslinya? Anak perempuan itukah? Yang kau perlihatkan padaku? Siapa anak perempuan itu?"


Dia merespon dan hampir berbicara denganku saat salah seorang penjaga masuk dan membawa kami keluar.

__ADS_1


Mereka mengikat tanganku. Dan menutup mataku. Menggiringku ke suatu tempat yang tidak kuketahui. Mereka meninggalkan Dina sendirian terkurung di ruangan itu. Ku harap mereka tidak melakukan sesuatu yang buruk padanya.


Saat tutup mataku dibuka, aku melihat sebuah cahaya menyilaukan. Butuh beberapa saat sampai aku terbiasa dan menyadari dimana aku berada.


Mereka membawaku ke tanah yang lapang, dikelilingi oleh para penari malam tadi. Mereka melihatku dengan pandangan aneh dan merendah. Sosok yang lebih besar berdiri di depan kami. Aku tahu dia pasti pimpinannya dari cara dia mengintimidasi kami.


Seorang yang terlihat seperti kakek tua berdiri di dekat kami. Dia bertubuh kecil dan bongkok dengan tongkat di tangannya. Sebuah tanduk kecil diatas rambutnya yang putih membuatnya terlihat seperti domba tua yang menyedihkan. Tatapannya yang dipenuhi kebencian ditunjukkannya padaku.


"Ck-ck! Bukan cuma manusia bahkan anak serigala pun berani menerobos ke sini. Apa kita sudah terlalu baik terhadap penyusup?" Dia berdecak sambil menyindir kami.


Aku mengabaikannya, dan justru berpaling pada manusia serigala di sampingku.


"Jadi kau masih anak-anak?" tanyaku memastikan.


"Aku bukan anak-anak! Aku sudah remaja!" sangkalnya. Akhirnya aku mendengar suaranya.


"Sama saja."


"Tenang kalian! Pengadilan akan dimulai!" Instruksi penjaga yang membawa kami. Dia yang kami temui tadi malam.


Semua langsung diam termasuk para penonton. Akhirnya aku tahu tempat apa ini. Ini adalah pengadilan mereka.


"Jadi, mereka penyusup yang kalian tangkap tadi malam?" tanya sosok pimpinan mereka yang sedang duduk di singgasananya. Jujur saja dia tampak menakutkan bagiku. Selain sosoknya yang besar suara juga membuatku merinding. Dia memiliki tanduk besar yang menghadap ke depan. Namun dia berwajah normal seperti manusia. Matanya tajam menatapku seolah sedang mempelajari diriku.


"Benar, Raja!' sahut penjaga yang membawa kami. Dia telat berdiri di belakang kami.


"Cepat berlutut! Saat ini kau sedang berdiri di depan raja yang agung, manusia!" Kakek tua disampingku memberi perintah.


Aku mengabaikannya lagi meskipun jengkel.

__ADS_1


"Saya memberi salam pada raja," ucapku sedikit membungkuk. "Tapi maaf aku tidak akan berlutut. Karena jika aku berlutut berarti aku sudah mengakui kesalahanku. Sementara aku belum melakukan pembelaan."


__ADS_2