
"Celin! Celena! Ayo turun! Waktunya makan malam!"
Kami diam sebentar dan saling menatap sebelum menjawab panggilan ibu.
"Ya, Bu!"
Akhirnya Celena berbalik mundur. Dia sempat melirik ke arah tempat tidurku sebelum beranjak dari kamar seolah dia masih penasaran dengan apa yang ku sembunyikan.
Aku menghela nafas lega saat dia keluar dari kamar. Dia seperti badai yang tiba-tiba muncul dan pergi. Aku pun segera turun mengikuti Celena ke bawah.
Saat pergi ke sekolah aku mengunci Rabbit di lemari. Sebenarnya aku sedikit tidak tega mengurungnya di dalam sana, tapi apa boleh buat. Aku harus menyembunyikannya dari ibu dan Celena.
"Pagi, Celin!" sapa Feby temanku begitu aku masuk kelas.
__ADS_1
"Pagi," sahutku. Feby salah satu teman dekatku. Dia anak perempuan yang manis dan lembut. Dan dia juga memiliki suara yang merdu.
Karena itulah dia terpilih jadi salah satu peserta dari tim sekolah kami. Dia begitu senang dan antusias saat menceritakan itu padaku tanpa mengetahui kekecewaanku yang tidak terpilih. Kalau saja kami berdua terpilih, kami bisa latihan dan pergi bersama. Sayang sekali!
Tapi aku tidak iri dengannya. Sebagai temannya aku tetap mendukungnya. Sepulang sekolah dia akan mulai latihan bersama dengan anak-anak yang akan pergi, karena itu kami tidak bisa pulang bersama.
Kami berpisah di depan tangga sekolah. Feby melambaikan tangannya padaku sebelum naik ke lantai 2. Aku balas tersenyum. Namun, baru beberapa langkah aku mendengar suara berdebum keras. Dan saat aku berbalik aku melihat Feby tersungkur di depan anak tangga yang baru saja di naikinnya. Kakinya tertekuk ke atas seperti patah, dan wajahnya meringis kesakitan.
"Feby?" seruku sambil bergegas berlari menghampirinya. Aku tidak yakin apa yang sudah menimpanya. Tapi yang jelas dia sangat kesakitan. Beberapa orang datang dan membantu kami.
Feby tampak shock dan sedih dengan musibah yang tiba-tiba menimpanya. Dia terus menangis.
Dia akhirnya di bawa ke rumah sakit dengan ambulan. Aku menatap ambulan itu berlalu pergi dengan perasaan pahit. Kesadaranku terpukul dan itu membuatku marah.
__ADS_1
"Rabbit!" Teriakku marah sambil membuka pintu kamarku. "Apa yang sudah kau lakukan pada temanku?"
Ini bukan sekedar kecurigaan atau tuduhan tanpa bukti, tapi aku sepenuhnya sadar bahwa ini perbuatannya. Aku sempat melihat dia mengintip dari atas tangga. Bahkan jika aku tidak melihatnya dengan jelas bukankah aneh jika temanku terluka dan aku menggantikannya.
Dan semua itu terjadi tepat setelah permintaanku semalam, tentang keikutsertaanku pada lomba paduan suara itu.
Rabit keluar dari lemari, dia memiringkan kepalanya seolah tidak paham dengan apa yang kukatakan.
"Aku tidak melakukan apa-apa-"
"Jangan bohong! Aku melihatmu tadi mengintip di tangga saat temanku jatuh." Teriakku memotong.
"Aku memintamu membuatku ikut serta dalam lomba itu! Bukan mematahkan kaki temanku!"
__ADS_1
Aku mencengkeram lalu mengangkat Rabit di tanganku. Aku bersyukur, ibu sedang tidak di rumah dan Celena masih belum pulang. Aku bebas berteriak tanpa khawatir ada yang mendengarnya. Setelah ku desak akhirnya dia mengaku bahwa itu memang perbuatannya, tanpa menjelaskan secara rinci bagaimana dia mendorong temanku.
Sebuah pesan masuk ke ponselku. Dari guru pembimbing, memintaku untuk menggantikan Feby ke perlombaan itu, karena dia tidak mungkin ikut. Sudah ku duga, tapi aku tidak senang.