
Kami menemukan tempat untuk duduk disekitar itu dan mengajak pemuda itu untuk duduk.
Dia mulai bercerita tentang apa yang menimpanya baru-baru ini. Sampai saat ia terbangun di tempat lain tak jauh dari sini. Saat dia mencari rumah sakit itu dia hanya menemukan bangunan tua ini.
Dia memberikan kami kartu namanya. Dia meminta kami mengabarinya jika mengetahui tentang rumah sakit itu. Setelah itu dia pulang.
"Ayo kita bantu dia Mel!" serunya padaku ketika pemuda bernama Jun itu pulang.
"Bagaimana caranya?"
"Kita periksa bangunan itu! Siapa tahu kalau kau yang periksa hasilnya berbeda."
"Kenapa kau begitu bersemangat membantunya? Kita bahkan tidak mengenalnya."
"Aku tidak punya kakak, jadi aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang kakak pada adik perempuannya. Melihatnya bersusah payah mencari adiknya aku merasa kasihan dan ingin membantunya. Dia pasti sangat sayang pada adiknya."
"Aku juga anak tunggal. Tapi aku masih punya kak Angga. Jadi aku tidak begitu paham perasaanmu. Tapi, Baiklah. Ayo kita bantu kakak itu menemukan adiknya. Meski aku harus dimarahi oleh ibu dan kak Angga lagi, aku putuskan untuk membantunya!"
"Jadi kita mulai mencari dari gedung itu, ayo!"
Gedung yang kami masuki seperti bangunan konstruksi yang gagal di lanjutkan dan dibiarkan begitu saja. Suasananya membuatku tidak nyaman saat memasukinya. Meski samar-samar aku mendengar suara orang bicara dengan berbisik. Semakin ke dalam semakin gelap, membuat perasaanku semakin gelisah.
Makhluk-makhluk itu bersembunyi dibalik pilar bangunan atau dibalik sisa tembok yang masih berdiri kokoh. Terkadang mereka mengintip kami.
"Eli, kita pulang sekarang!"
"Apa kau sudah menemukan sesuatu?"
__ADS_1
"Belum. Kita lanjutkan besok saja. Ini sudah terlalu sore. Aku akan tanya kak Angga barangkali dia tahu tentang rumah sakit itu."
Kami pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Penjelajahan ini tak menghasilkan apapun.
Keesokan harinya aku mendatangi kelas Angga tapi tak menemukannya. Teman-temannya bilang dia menghadiri rapat OSIS.
Sepulang sekolah aku mengunjungi rumahnya, tapi ibunya bilang dia belum pulang. Kenapa aku jadi sulit menemuinya? Aku jadi merasa kesal. Sesibuk apa dia sampai tak bisa kutemui?
"Tante, aku mau pinjam buku kak Angga. Aku boleh ke kamarnya?"
"Masuk saja. Kamarnya tidak terkunci."
Aku segera naik ke atas menuju kamarnya. Untuk ukuran cowok kamarnya sangat rapi. Lebih rapi dari kamarku. Pantas, dia rewel kalau masuk ke kamarku.
Ada banyak buku yang dipajang di lemarinya. Mulai dari buku pelajaran Samoa pengetahuan umum. Bahkan buku tentang spiritual dan lintas dimensi. Sulit kupercaya dia membaca buku aneh ini. Aku mencari buku catatannya. Angga mempelajari banyak hal yang terjadi di kota ini. Aku yakin dia punya catatan mengenai rumah sakit hantu itu yang sedang ramai dibicarakan orang.
Dari catatan Angga, aku tahu bahwa rumah sakit itu memang benar-benar ada di kota ini. Rumah sakit hantu itu berada di dimensi ghaib sehingga tidak terlihat oleh mata biasa.
Dengan berpegang pada petunjuk yang ada di catatan Angga, aku dan Eli menemui pemuda itu lagi di rumahnya.
Rumah kak Jun ternyata sangat besar. Dia mahasiswa tingkat pertama dari fakultas kedokteran yang ada di kota ini. Orangtuanya sering pergi keluar kota dalam waktu lama.
Kak Jun bilang dia sudah memberi kabar kepada orangtuanya, dia juga sudah melapor ke pihak polisi. Tapi sampai sekarang belum ada kabar.
Aku mulai menjabarkan informasi dari buku catatan Angga. Syarat pertama adalah waktu. Rumah sakit itu hanya bisa dilihat saat malam hari saja, jadi sia-sia jika mencarinya di siang hari.
Lalu syarat ke dua adalah kalender bulan dan perbintangan. Biasanya faktor ini juga mempengaruhi pergesekan antara dua ruang dimensi yang berbeda.
__ADS_1
"Kita akan mencoba waktu-waktu yang sudah aku lingkari di kalender dan mencobanya satu persatu," ujarku sambil menunjukkan kalender yang kutandai.
"Lalu syarat yang terakhir, hujan. Kebanyakan yang melihat rumah sakit ini terjadi setelah hujan reda. Sama seperti yang kak Jun alami. Bisa jadi itu pemicunya atau salah satu syarat yang dipenuhi."
"Tapi hujan sulit di prediksi, dan ramalan cuaca tidak selalu tepat. Jadi kita cuma bisa berharap hari itu akan turun hujan."
"Dimulai dari malam ini sampai seminggu ke depan adalah waktu yang tepat untuk memeriksa lokasi rumah sakit hantu itu. Kita akan berjaga dari 10 malam sampai tengah malam."
Kami berencana pergi bersama tapi kak Jun menolak. Dia tidak ingin melibatkan anak-anak dalam hal ini. Karena itu dia memutuskan untuk pergi sendiri.
Tapi aku sendiri penasaran dengan keberadaan rumah sakit hantu ini dan berniat memastikannya sendiri. Jadi aku tetap keluar diam-diam malam harinya tanpa sepengetahuan ibuku. Ternyata dipersimpangan jalan aku bertemu Eli. Dia juga keluar diam-diam sama sepertiku. Kami berdua pergi ke lokasi bangunan tua itu.
Dari kejauhan aku melihat mobil kami Jun di parkir tapi tidak menemukan kak Jun.
"Sedang apa kalian?" Sebuah suara mengejutkan kami berdua disaat kami sedang bersembunyi. Ternyata kak Jun sudah berdiri dibelakang kami.
Kak Jun berniat mengantarkan kami pulang, tapi kami berdua tidak mau dan tetap disini. Kak Jun menyerah dan meminta kami mengawasi tempat itu dari dalam mobil.
Di dalam mobil ada selimut tebal. Kami menyelimuti diri kami dengan selimut hangat. Selama terjaga aku mengawasi bangunan itu. Tapi tidak ada yang berubah sampai lewat tengah malam. Kami kembali ke rumah tanpa hasil.
Kami mulai merencanakan petualangan malam kami dengan kak Jun untuk memburu rumah sakit hantu dimalam berikutnya. Kak Jun berhenti melarang kami ikut, karena dia tahu kami akan tetap datang diam-diam.
Aku bilang pada ibuku akan menginap di rumah Eli selama seminggu untuk menemaninya karena orangtuanya sedang keluar kota. Tepat jam 10 kami akan menyelinap keluar dan kak Jun akan menjemput kami dengan mobil di depan rumah Eli.
"Kami memarkirkan mobil tidak jauh dari lokasi bangunan tua itu. Kami terus mengawasi lokasi itu tapi tidak ada tanda-tanda rumah sakit itu muncul. Sudah hampir seminggu cuaca cerah. Namun kami beruntung di malam terakhir pencarian kami hujan turun.
Kami berharap kami akan menemukan rumah sakit itu malam ini. Sayangnya harapan kami pupus. Sampai malam terakhir pencarian kami pupus. Hujan mereda dan pencarian kami tak menghasilkan apa-apa kecuali rasa lelah dan putus asa.
__ADS_1
"Melya!" Sebuah suara menyentak kami bertiga membuat kami berpaling ke arah suara itu.
"Kak Angga?" Aku terkejut Angga sudah berdiri disana dengan ekspresi marah, bersama dengan dua orang yang tidak kukenali.