Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Si kembar Celin-Celena


__ADS_3

POV Dina


"Celin! Tunggu!" seruku. Aku mengejarnya sampai keluar rumah. Tapi dia mengabaikanku. Terlihat jelas dia sedang marah padaku.


"Aku minta maaf! Aku tidak bermaksud .." aku mencoba menjelaskannya, meraih tangannya untuk menahannya.


"Cukup!" Dia menepis tanganku.


"Aku benar-benar tidak mengerti denganmu, Dina. Kemarin kau mengira dia hantu Selena. Tapi saat aku katakan dia bukan hantu tapi Selena yang asli, kau malah bilang kalau dia bukan Selena yang asli. Sebenarnya apa maumu!"


"Kenapa kau terus menyangkal kalau kakakku masih hidup? Apa yang membuatmu yakin kalau Selena sudah mati?"


Pertanyaan celin membuatku tertegun. Aku tidak bisa menjawabnya meski aku yakin Selena memang sudah mati.


Sejak hari itu aku tak bisa lagi berbicara dengan Celin. Ini seperti aku kembali ke titik awal saat aku mencoba untuk dekat dengannya. Dia juga tidak datang saat belajar kelompok. Parahnya dia juga tidak menghadiri kelas tambahan.


"Besok ada presentasi kelompok. Celin harus masuk. Jika tidak kita akan dalam masalah," ujar Eli memberitahu saat kami berkumpul di kantin.


Nilai presentasi kelompok akan membantu nilai individu juga saat tes akhir Minggu ini. Untuk Riri dan Eli mungkin tidak begitu berpengaruh tapi bagiku dan Lisa nilai presentasi ini bisa sebagai jaminan.

__ADS_1


"Kau sudah bicara lagi dengan Celin?" tanya Lisa.


"Sudah. Tapi sia-sia."


"Jadi kau mau menyerah?"


"Mau bagaimana lagi."


"Kau juga sih cari gara-gara. Bicara sembarangan."


"Aku bicara kenyataan."


"Aku tidak berlebihan. Mereka yang punya setengah pikiran pasti berpikir begitu."


"Kenapa jadi kalian yang bertengkar sih?" Riri mencoba menengahi.


"Biar aku yang bicara dengan Celin. Mungkin dia akan mengerti," ujar Eli.


Sejak kejadian itu, Celin tak lagi muncul di hadapan kami. Dia juga tidak datang ke sekolah. Eli mencoba menghubunginya tapi Celin tidak menjawab. Ujian ulang kenaikan kelas sebentar lagi. Akan ada ujian berkelompok juga dengan kelompok belajar yang sudah dibuat sebelumnya, untuk nilai tambah. Jika kami berempat tidak bisa membujuk Celin untuk kembali, tamat sudah. Sudah bisa dipastikan kami akan tinggal kelas. Mau tidak mau kami mendatangi rumah Celin untuk membujuknya dan meminta maaf.

__ADS_1


Tadinya kami berempat sepakat untuk berkunjung ke rumah Celin. Tapi Lisa kabur dengan berbagai macam alasan, akhirnya dia tidak datang. Riri beralasan menjemput Lisa, tapi sampai sore aku dan Eli menunggu, mereka berdua tidak datang juga. Di telepon dia tidak menjawab. Akhirnya hanya aku dan Eli yang datang ke rumah Celin.


Kami menekan bel rumah, tapi tidak ada yang keluar. Pintunya tidak terkunci saat kami dorong. Kami melongok ke dalam sedikit, tak ada siapapun di dalam. Setelah ragu-ragu sebentar akhirnya kami memberanikan diri untuk masuk.


"Celin!" Kamu berseru memanggil Celin, karena harusnya dia ada di rumah. Anehnya tak ada sahutan sama sekali. Pandangan kami mengedar memeriksa sekeliling, dan saat itulah aku merasakan sebuah tangan menyentuh bahuku.


"Aaaakhh!" pekikku terkejut, langsung berbalik mundur menjauh.


Rupanya ibunya Celin, aku menarik napas lega. "Tante bikin kaget aja. hahaha!" celetuk ku sambil tertawa canggung menahan malu.


Dia tak bergeming menatap kami seolah sedang menyelidiki kami.


"Anu, Tante! Celin ada di rumah? Kami ke sini ingin bertemu Celin untuk belajar kelompok."


Ooohh! Mulutnya terbuka membentuk huruf O. Ekspresi nya mengatakan seolah dia paham. Lalu wanita itu menyuruh kami menunggu di ruang tamu, sementara dia memanggilkan Celin.


Eli ijin meminjam toilet. Sementara aku menunggu. Wanita paruh baya itu turun dari kamar anaknya. Dia bilang Celin ada di kamar, jadi aku bisa langsung menemuinya. Wanita itu mengantarkanku sampai ke kamar Celin. Saat aku masuk kamar, Celin tidak ada di sana. Dia menyuruhku menunggu di dalam, lalu menutup pintu kamar. Aku menurut karena tak punya pilihan.


Eli sudah terlalu lama pergi ke toilet, aku bermaksud menyusulnya keluar dari kamar. Tapi aku tidak bisa keluar.

__ADS_1


"Pintunya dikunci??"


__ADS_2