
"Hei apa kau sudah dengar beritanya?" ujar salah seorang siswi yang melintas, kepada teman di sebelahnya.
"Iya, katanya ada korban lagi. Seram!" sahut temannya.
"Korbannya siswi sekolah kita, tapi aku belum tahu siapa," timpal teman lainnya.
"Pihak sekolah menutupinya. Tapi sebagian anak-anak sudah tahu karena melihatnya secara tidak langsung."
"Apa gunanya ditutupi kalau akhirnya ketahuan juga."
"Dengar-dengar katanya ini ada hubungannya dengan hantu gadis hujan yang sering muncul di depan sekolah kita."
"Benarkah?"
"Iya. Mungkin dia muncul untuk memilih di antara kita siapa lagi yang jadi korbannya."
"Menakutkan! Aku harap aku tidak bertemu hsntu gadis hujan itu!"
Apa itu? Sepertinya sedang terjadi sesuatu yang menakutkan. Aku baru mendengar beritanya.
Eli belum muncul juga, aku jadi gelisah.
Sekolah semakin sepi. Tadi ku intip sedikit Eli masih berbicara dengan guru di ruang guru. Aku memutuskan menunggunya. Menghitung titik hujan karena bosan.
Sayup-sayup aku mendengar suara yang begitu lembut menyusup di antara suara rintik hujan. Semakin lama suara itu semakin jelas. Suaranya menyatu seperti musik dan lagu. hujan bernyanyi. Atau seseorang sedang bernyanyi. Lagunya begitu sedih tapi suaranya sangat indah dan memikat.
Tanpa sadar aku melangkah ke luar dan mengikuti arah suara itu, seolah-olah diriku terpanggil. Lagu itu membawaku ke pemilik nyanyian itu.
Seorang perempuan menggunakan gaun putih panjang berdiri di depan gerbang sekolah. Tangannya yang pucat memegang payung. Rambut panjangnya jatuh bagai sutra yang lembut di punggungnya. Aku belum bisa melihat wajahnya karena tertutupi payung.
Anehnya hujan sama sekali tak menyentuhnya. Rintik hujan seakan menembus wujudnya.
Diakah...hantu gadis hujan yang tadi dibicarakan? Hatiku bertanya-tanya. Aku penasaran seperti apa wajahnya. Apakah seperti yang mereka ceritakan?
Menyadari kedatanganku, dia berhenti bernyanyi dan berpaling ke arahku. Saat itulah dia menunjukkan wajahnya padaku.
Aku terpana dan membisu. Tanpa wajah apanya?! Dia memiliki paras yang sangat cantik sampai aku tak bisa berkata-kata.
"Kenapa belum pulang?" tanyanya menyapaku.
"Aku sedang menunggu temanku," jawabku.
__ADS_1
"Cepatlah pulang! Berbahaya untuk anak sepertimu berada di luar rumah terlalu lama," katanya lagi.
"Kenapa kakak berdiri di sini. Apa ada yang kakak tunggu?" tanyaku penasaran.
"Tidak ada! Aku tidak menunggu siapapun. Apa itu mengganggumu?"
"Teman-temanku membicarakan kakak."
"Teman-temanmu?"
"Iya, kakak menakut-nakuti mereka 'kan?"
"Aku?"
"Mereka membicarakan hantu tanpa wajah yang membawa payung, yang sering muncul di depan gerbang sekolah saat hujan. Itu kakak 'kan?"
Dia tampak sedang berpikir, lalu merindukan payungnya menutupi wajahnya.
"Apa seperti ini?" tanyanya lagi sambil menunjukkan wajah tanpa hidung mata dan mulut. Aku tetap bisa mendengar suaranya masuk ke dalam pikiranku. Melihat aku yang tidak bereaksi dengan pertunjukkannya, dia tampak kecewa. Dan merubah kembali wujudnya seperti sebelumnya.
"Ah, tidak seru! Kau sama sekali tidak takut."
"Jadi, kenapa kakak menakut-nakuti teman-temanku?" tanyaku.
"Aku tidak menakuti siapapun. Bagi makhluk seperti kami penampilan bukan hal yang penting. Tidak peduli seperti apa kami terlihat itu bukanlah diri kami. Apa yang orang pikirkan maka seperti itulah kamu muncul," jawabnya.
"Jadi kami hanya mewujudkan ketakutan yang ada di dalam pikiran mereka. Dan menikmati reaksi mereka yang ketakutan. Tapi kau berbeda kau tidak memikirkan apapun. Karena itu seperti inilah wujudku terlihat di matamu," lanjutnya.
"Mungkin karena kau sudah terbiasa melihat makhluk-makhluk seperti kami. Sehingga ini tidak menakutkan lagi untukmu. Beberapa manusia ada yang seperti itu. Benar 'kan?"
Aku mengangguk mengiyakan pendapatnya. Mataku masih memperhatikan dirinya. Sesaat kami diam dan hanya saling menatap.
"Kakak suka bernyanyi? Aku mendengarnya tadi."
"Aku sekali bernyanyi. Apa kau memahami lagi yang ku nyanyikan?"
"Aku tidak begitu jelas mendengarnya, tapi lagu itu terdengar sangat sedih."
"Sedih? Hemm, kurasa tidak apa ya yang tepat?" sangkalnya. Sambil bertingkah seolah sedang berpikir keras.
"Rindu. Kurasa itu lebih tepat menggambarkan perasaan di laguku."
__ADS_1
"Apa ada yang kakak rindukan?"
"Aku merindukan banyak hal. Adik, orang tua, teman-teman, dan banyak hal dari kota ini yang ku rindukan. Bagaimana pun aku pernah hidup di kota ini. Apa aku tidak boleh merindukan semua itu?"
"Tapi sekarang kakak sudah tidak hidup lagi di kota ini, tempat kakak yang seharusnya bukan di sini. Jika ada yang bisa ku bantu untuk kakak, aku akan melakukannya agar kakak bisa pergi dengan tenang."
"Sombong sekali!" Ekspresi wajah berubah marah. "Memangnya apa yang kau bisa kau bantu? Menolong dirimu saja belum tentu bisa, mau berlagak menolong!"
Tiba-tiba aku merasa tertekan sampai tertindih sesuatu yang berat sampai nyaris jatuh. Aku merasakan udara di sekitarku menipis hingga tak sulit bernafas.
"Apa yang kau tahu tentang kami? Apa yang kau tentang kota ini? Kau bahkan tak tahu apa-apa!"
Dia mendekat padaku. Aku melangkah mundur. Firasatku menyuruhku untuk menjauhinya.
"Jika kau punya kebiasaan 'menolong' tanpa tahu apa-apa. Maka kusarankan berhentilah dari sekarang! Banyak orang mati tanpa tahu apa-apa karena mereka terlalu banyak ikut campur."
Aku cuma bisa diam tanpa bisa membalas kata-katanya. Aku menyesal. Kenapa aku berkata seperti itu padanya tadi. Aku tidak menyangka dia akan menjadi marah dan tersinggung seperti itu. Aku takut sekali. Aku merasa dia bisa melukaiku kapan saja.
Dia tidak sama dengan makhluk yang kutemui selama ini. Aku sudah salah berurusan dengannya.
"Padahal kau terlihat ketakutan, tapi sinar matamu menunjukkan tekad. Meski aku tekan kau tidak terjatuh dengan mudah. Menarik! Kau mengingatkanku pada seseorang,"
"Temanmu sudah datang. Kita akhiri pertemuan kita sampai disini. Jika kita bertemu lagi, tunjukkanlah padaku sejauh mana kau bisa menolong dirimu dan juga orang lain."
Setelah berkata seperti itu dia pergi menghilang di balik hujan. Eli berlari menghampiriku.
"Maaf, aku lama. Sepertinya kita tidak jadi ke rumah sakit hari ini. Bagaimana kalau besok saja?" ujar Eli.
Aku masih mematung, belum hilang dari benakku apa yang terjadi barusan.
"Mel?" seru Eli menyentakku. "Ada apa?"
"Bukan apa-apa. Kita pergi besok saja seperti katamu. Ayo pulang!"
Dalam perjalanan pulang hujan masih belum berhenti. Di persimpangan jalan kami berpisah. Aku terus merasa gelisah, samar-samar aku merasa diikuti. Namun tak jelas siapa atau apa itu. Hujan yang lebat dan angin yang kencang seakan menyamarkan keberadaannya.
Sampai aku berpisah dengan Eli dia masih mengikutiku. Aku sempat berhenti sejenak di depan rumah dan berbalik.
"Siapa itu? Keluarlah!" Dia tak merespon panggilanku. Bisa dipastikan siapapun yang mengikutiku, dia tidak berniat baik.
Setelah kupastikan pagar terkunci aku berlari masuk ke dalam rumah.
__ADS_1