
Purnama malam ini terlihat indah dengan banyak pelangi mengelilinginya. Namun, perasaanku gelisah sejak kembali dari air terjun. Ini bukan hal baik, karena biasanya firasatku tak pernah salah.
Dalam perjalanan kami kembali dari air terjun, salah seorang siswi tiba-tiba pingsan. Semua sempat panik dan kaget. Namun para guru menenangkan dan menjelaskan kalau dia pingsan karena terlalu lama berendam di air dingin.
Sayangnya itu tak menyurutkan isu yang timbul karena kejadian tadi. Beberapa anak berpendapat bahwa anak yang pingsan tadi sudah diganggu oleh makhluk halus.
"Apa benar dia kerasukan hantu?" ujar Lisa bertanya.
"Aku tidak tahu. Aku belum pernah melihat orang kerasukan." jawabku acuh tak acuh, sambil merapihkan tempat tidur di dalam tenda.
"Aku ingin lihat ke sana."
"Di sana sudah banyak orang lebih baik tidak ke sana kalau hanya ingin menonton," cegahku. "Orang yang sakit butuh ruang untuk istirahat, terlalu banyak orang hanya akan membuatnya sesak."
"Menurutku dia hanya sedikit hipotermia, karena terlalu lama berendam di air dingin sehingga suhu tubuh menurun secara drastis. Makanya dia pingsan karena tubuhnya tak sanggup lagi menahan. Yang seperti ini sering terjadi tapi orang yang tidak tahu sering melebih-lebihkan dengan cerita yang tidak jelas," ucapku memberi pengertian pada mereka.
"Jadi, dia akan baik-baik saja begitu suhunya kembali normal. Para guru pasti sudah menanganinya."
"Yang tidak ku mengerti, kenapa hanya dia saja yang kena hipotermia? Kan kita sama masuk ke air terjun?" tanya Dina menyelidik.
"Kondisi tubuh setiap orang itu berbeda-beda. Bisa jadi dia yang paling lemah diantara kita. Atau memang kondisinya sedang sakit saat itu," jawabku.
"Sudahlah! Jangan dibicarakan lagi! Lebih baik cepat tidur!"
Yang membuatku resah bukan anak yang pingsan itu, tapi kondisi kami yang saat ini tidak di untungkan.
Siswi yang pingsan tadi adalah teman setenda kami. Dan temannya yang satu lagi memutuskan untuk menemaninya malam ini. Jadi di tenda ini hanya tinggal kami bertiga saja.
Di tambah lagi posisi tenda kami paling belakang diantara barisan tenda perempuan, kurang dapat penerangan. Para guru dan panitia berada di pos kesehatan yang letaknya cukup jauh dari sini.
Aku masih kepikiran makhluk yang kulihat kemarin malam. Semoga dia tidak muncul lagi. Aku menarik selimut dan berusaha memejamkan mata.
__ADS_1
Gggrrrr!
"Suara apa itu?" Aku bangun sambil mengucek mata yang masih mengantuk. Aku terkejut melihat siluet yang persis seperti kemarin malam. Makhluk itu datang lagi. Diikuti suara erangan hewan buas.
Untuk beberapa saat dia hanya mondar-mandir disekitar tenda.
"Apa itu?" Aku menengok kebelakang untuk melihat siapa yang bertanya. Dina dan Lisa, mereka berdua ternyata juga terbangun dan melihat bayangan itu. Mereka saling berpelukan karena takut.
"Kalian bisa melihatnya?" tanyaku memastikan. Mereka mengangguk.
"Jadi, apa itu?" tanya Lisa lagi. "Apa itu hewan buas?"
"Hewan buas apa yang berdiri dengan dua kaki?" Mendengar kata-kata dariku malah membuat Lisa semakin ketakutan. Dia hampir teriak. Aku cepat-cepat membungkam mulutnya.
"Jangan teriak! Alasan dia belum menyerang kita mungkin karena dia tidak tahu kita ada di dalam sini. Lebih baik kita pura-pura tidak tahu dan tidur lagi. Usahakan tidak berisik supaya makhluk itu pergi!"
Mereka berdua mengangguk tanda mengerti. Pelan-pelan aku berbaring kembali.
Makhluk itu menghentakkan tanah dan membuat sekelilingnya bergetar. Dia terlihat sangat marah. Dia meraung lebih keras.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari benda yang bisa kugunakan untuk senjata jika makhluk ini menyerang kami.
"Kem-ba-li-kan!" Suara raungan itu semakin jelas terdengar membentuk kata. Aku diam mendengarkannya baik-baik.
"Kem-ba-li-kan!"
Kembalikan? Apanya yang 'kembalikan'? Aku tidak membawa apapun. Apa yang dia cari. Aku berbalik ke arah Lisa dan Dina.
"Apa kalian memungut sesuatu hari ini yang kalian bawa ke sini?" tanyaku berbisik pada mereka berdua. Mereka saling menatap dalam diam. "Makhluk itu minta kalian mengembalikannya. Jika tidak dia tidak akan pergi," lanjutku.
"Aku tidak sengaja menemukan ini di air terjun tadi." Lisa mengulurkan sebuah boneka kain milik berbentuk seperti anjing kecil berwarna coklat muda.
__ADS_1
"Kenapa memungutnya? Jangan sembarangan memungut benda apapun di tempat seperti ini! Apa orang tua kalian tidak mengajari kalian itu?"
"Maaf, aku kira benda ini dibuang. Karena kelihatan masih bagus, jadi aku membawanya untuk diperbaiki," ucapnya sambil terisak. Kurasa aku berlebihan memarahinya.
"Jangan menangis Lisa, aku minta maaf membentakmu," ucapku. "Lain kali jangan memungut benda sembarangan seperti ini. Karena bisa jadi benda itu ada 'pemiliknya'."
"Tapi Melya, itu boneka anak-anak. Kamu yakin, yang diluar itu mencari benda ini?" tanya Dina ragu.
Benar juga. Aku memperhatikan boneka itu. Ini adalah benda mlilik manusia, bukan benda yang bisa dimiliki oleh makhluk seperti mereka. Jadi kenapa dia menginginkan benda ini sampai mengejar kami ke sini?
"Prang!" Terdengar suara benda pecah di luar tenda.
Sepertinya lampu yang ku letakkan di luar tenda jatuh tersenggol olehnya. Diluar jadi semakin gelap. Masih ada satu lampu lagi di dalam tenda.
Kami tidak melihat bayangan makhluk itu lagi. Apakah makhluk itu sudah pergi? Atau tetap di sana? Kami bertiga saling berpandangan untuk sesaat.
Aku memberanikan diri membuka celah tenda sedikit dan meletakkan boneka itu di luar lalu menutupnya kembali. Kami menunggu sebentar. Tidak ada terdengar suara apa-apa.
Aku membuka tenda kembali, dan melihat boneka itu tergeletak disana. Makhluk itu tidak ada di sana. Aku mengenakan jaket ku dan mengambil senter. Aku keluar dari tenda memeriksa sekitar. Aku masih bisa merasakan keberadaannya di suatu tempat dekat sini. Apa dia sedang mengawasi kami?
Dina dan Lisa mengikuti kami keluar sambil membawa lampu.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Lisa. Aku tidak menjawabnya. Saat itu mataku menatap sosok aneh yang bertengger di atas pohon. Makhluk itu melompati pohon dan pergi menjauh.
"Tunggu!" seruku. Tanpa sadar aku berlari mengikuti makhluk itu. "Aku hanya ingin mengembalikan boneka ini! Kau menginginkannya kan?"
Aku berhenti di suatu tempat. Aku kehilangan jejaknya. Di mana dia? Kenapa dia lari? Aku menyoroti senterku ke atas pohon memeriksa sekelilingku.
Saat itulah aku cahaya lampu senterku menyoroti sesosok makhluk berbulu yang berdiri di atas dahan pohon. Matanya yang berwarna kuning keemasan menyala menatapku dengan marah. Dia memiliki kuping seperti kucing dan moncong yang panjang seperti anjing.
Otakku berpikir dengan keras mempelajari sosok di depanku.
__ADS_1
"Ada satu golongan yang sering muncul dalam cerita. Sebagian mempercayainya seperti legenda. Salah satu makhluk ghaib jenis siluman yang membenci manusia. Siluman serigala. Mereka makhluk yang sulit diajak komunikasi. Mereka cenderung menyerang lebih dulu ketimbang mendengarkan. Mereka tidak akan muncul tanpa alasan, tapi kalau kau melihatnya..larilah!"
Kata-kata Angga saat mengajariku terngiang di kepalaku. Aku ingin lari tapi makhluk itu sudah melompat ke arahku dan menerkamku tanpa memberiku waktu untuk menghindar.