Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
bab 108


__ADS_3

Baiklah, Rabit telah melakukan kesalahan. Bisakah kita memulai lagi dari awal?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya yang pendek dan bulat. Melihatku tidak bereaksi dia memiringkan kepalanya bingung.


"Anak-anak biasanya berkenalan dengan saling berjabat tangan dan menyebutkan nama satu sama lain, apa rabbit salah?" tanyanya.


Aku menghela nafas sebelum menjawab, "tidak. Kau benar."


Aku mendekatinya dan menjabat tangan boneka itu. Apa yang kira-kira sejak tadi? Dia cuma makhluk kecil yang kebetulan bisa bicara. Dia tidak memiliki taring, cakar, atau senjata tajam seperti pisau yang bisa melukaiku. Seluruh tubuhnya bcuma berisi kapas yang bisa hancur bila ku injak. Aku bisa saja melemparnya jauh-jauh. Dia sama sekali tidak berbahaya, pikirku saat itu.


Aku tidak tahu bahwa benda yang tampak tidak berbahaya ini, menyimpan ancaman yang mampu menghancurkan keluarga kelak. Sayangnya saat itu aku masih terlalu naif untuk memahaminya.


Aku yang saat itu membuang kewaspadaanku padanya, duduk di sampingnya di sisi ranjang. Dia ikut duduk seperti orang sungguhan. Ini menggelikan melihatnya meniru cara dudukku.

__ADS_1


"Kau bilang tadi kau punya mama, siapa dia? Atau seperti apa dia?" tanyaku penasaran. Aku yakin dia bukanlah wanita yang melahirkan Rabbit, tapi bisa jadi wanita itulah yang membuat rabbit jadi seperti ini.


Dia demam sejenak sambil mendengak melihat keluar jendela. Tunggu apa dia melihat? Itu terlihat hanya dua manik hitam yang menempel. Tapi bisa jadi itu berfungsi seperti mata sungguhan untuknya. Entahlah aku tidak tahu. Meski penasaran, aku tidak menanyakannya dan membiarkannya memulai cerita.


"Mama sangat baik. Dia cantik dan baik. Rabbit sangat sayang mama." Suaranya terdengar dalam dan dipenuhi perasaan. Seperti seorang anak yangmencoba mengingat kembali wajah ibunya yang sudah lama tidak ditemuinya.


"Apa mamamu sepertimu juga?" Akhirnya aku menanyakan pertanyaan konyol yang membuatku penasaran sejak tadi.


Oh, aku tahu itu.


"Mama yang membuat Rabbit lahir ke dunia. Mama suka anak-anak. Dan suka memberi mereka hadiah. Tapi mama kasihan."

__ADS_1


"Kasihan kenapa?"


"Kakak Rabbit, manusia seperti Celin, dia pergi meninggalkan mama dan tak pernah pulang. Mama menangis tiap malam dan jatuh sakit. Rabbit sayang mama dan ingin mama tersenyum lagi. Tapi mama..." Rabbit tidak tidak melanjutkan ceritanya, dia justru menunduk sedih. Lalu tiba-tiba tangan bulatnya memeluk tanganku, dan membenamkan kepalanya lalu terisak-isak seolah sedang menangis. Aku tidak bisa tidak menghiburnya. Jadi ku tepuk dia pelan untuk menenangkannya.


Sebenarnya aku juga pernah mendengar cerita itu. Cerita seorang anak perempuan yang merengek minta dibelikan boneka pada ibunya, tapi si ibu yang tidak punya uang tidak bisa membelikannya. Lalu si anak marah dan pergi meninggalkan ibunya. Lalu si ibu membuat boneka kain, dan mengisinya dengan kapas yang dia ambil dari bantal yang sering dia gunakan untuk tidur. Dia berpikir jika boneka untuk putrinya itu jadi, anaknya akan kembali lagi. Tapi sampai boneka itu selesai, si anak tidak pernah muncul lagi.


Si ibu jatuh kedalam kesedihan yang dalam. Tiap malam wanita itu menangis hingga boneka yang dia buat jadi basah oleh air matanya. Lalu sosok yang bukan manusia, merasa terharu mendengar tangisan sang ibu malang itu. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam boneka yang wanita itu buat, dan berpura-pura sebagai anaknya.


Meski orang-orang disekitarnya menganggap wanita itu gila karena kehilangan anaknya, tapi wanita itu terlihat bahagia, hingga akhirnya dia pergi dengan damai.


Tapi si makhluk yang menyebut dirinya peri hutan, terjebak dalam tubuh boneka itu tidak bisa keluar.

__ADS_1


__ADS_2