Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
bab 124


__ADS_3

Dulu waktu aku duduk di bangku kelas 3 SD, aku sering dijahili teman-teman sekolahku karena tubuhku yang terbilang gendut dan bulat. Aku tidak bisa melawan dan hanya bisa menangis. Seperti hari itu, sepulang sekolah, mereka melempari aku dengan bola.


"Wah, lihat! Si bebek itu, dia menangis!" Ejek salah seorang dari mereka. Bukannya berhenti mereka malah tertawa dan terus melempariku dengan bola. Mereka semua menendang bola ke arahku.


"Hentikan! Ku mohon! Ini sakit!" pintaku. Aku tidak mengerti kenapa mereka semua melakukan ini padaku. Apa hanya karena aku jelek dan gendut. Tapi meski begitu aku tak pernah nakal pada anak lain. Jadi kenapa mereka begitu membenciku, hingga melakukan semua ini padaku. Menggangguku hampir setiap hari.


Lalu, tiba-tiba, sebuah batu kecil menggelinding ke arahku setelah mengenai salah seorang dari mereka.


"Aduh!" Pekik anak yang terkena lemparan itu marah. Aku mengikuti pandangannya dan melihat Celena berdiri di sana.


"Apa-apaan ini Celena? Kenapa tiba-tiba kau melempariku?"


"Ingin saja. Bukannya kalian yang mulai duluan? Aku kan cuma ikut-ikutan saja. Habis kelihatannya seru." Dia membalasnya dengan santai dan tanpa rasa takut. Mungkin karena Celena sama saja dengan mereka. Anak bermasalah yang suka membuat keributan dan menindas anak-anak yang lain.

__ADS_1


"Pergi sana! Kami tidak ingin bermain denganmu. Kami sedang sibuk bermain dengan si bebek." Usir anak itu. Tapi Celena tidak menghiraukan.


"Tidak mau. Kalau kalian main ajak aku juga dong. Aku juga jago melempar, lihat! Aku bahkan lebih jago dari kalian." Celena mengambil beberapa kerikil di tanah, lalu melempari anak-anak itu lagi. Aku benar-benar apa yang sedang dilakukannya. Bukankah mereka akan lebih marah jadinya sama Celena?


"Hei! Kenapa kau melempari kami lagi? Kalau kau mau ikutan lempari si bebek gendut ini, bukan kami!" Teriak salah satu dari mereka.


"Soalnya tidak seru kan kalau semuanya melempari satu orang yang sama. Jadi aku melempari kalian biar permainannya imbang, bagaimana?" Celena tersenyum menantang tanpa rasa takut. Membuat kerumunan anak laki-laki itu semakin geram padanya.


Celena terkenal di sekolahku sebagai anak yang nakal dan suka berkelahi dengan temannya. Mungkin karena itulah celena tidak takut pada mereka.


"Membela apanya? Aku tidak membela siapa-siapa? Aku bahkan tidak kenal namanya. Jadi kenapa aku membelanya?" Apa yang dikatakan Celena benar. Tidak ada alasan baginya membela atau menolongku. Kami tidak saling kenal.


"Terus kau mau apa?"

__ADS_1


"Melawan kalian. Jadi coba hindari lemparanku kalau kalian bisa."


Anak-anak itu mengubah lemparan bolanya ke arah Celena, dan dengan gesit Celena menghindarinya. Celena membalas dengan melempar kerikil itu tepat mengenai kepala si anak hingga terluka."


"Aduh! Ibu! Sakit!" Anak itu menangis sambil berlari pulang sambil memanggil-manggil ibunya. Anak yang lain tercengang.


"Kenapa kalian diam? Ayo bilang, sekarang giliran siapa?" Tantang Celena lagi. Tapi anak-anak itu tidak ada yang berani. Mereka pun bubar.


Celena berbalik pergi tanpa menghiraukanku.


"Tunggu! Kau harus minta maaf sama anak itu. Dia terluka karena kau melemparinya dengan batu."


"Hah??" Seru Celena tercengang mendengar kata-kataku. Aku bisa melihat kilatan kemarahan dimatanya yang tidak senang mendengar aku menasehatinya.

__ADS_1


Dasar bodoh! Apa yang kukatakan padanya. Dia ini lebih menakutkan dari pada anak-anak itu. Meski tadi dia membelaku pada dasarnya dia sama saja dengan anak-anak nakal itu.


__ADS_2