
Ibu Dina datang menjemput kami di sekolah dan membawa kami semua ke mobil. Dia juga memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Dina. Untungnya tidak ada serius. Dia hanya pingsan karena shock.
Sementara ibunya pergi, aku dan Celena menungguinya. Teman-teman yang lain sudah pulang. Karena rumahku juga dekat, jadi aku tidak keberatan. Celena pun terlihat senang.
Semakin kuperhatikan semakin aneh. Celena bertingkah layaknya anak-anak. Caranya bicara juga seperti seperti anak-anak. Seolah hanya fisiknya saja yang terlihat seusiaku, tapi pikirannya dan caranya bersikap masih sama seperti saat dia sebelum menghilang.
Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Aku semakin frustasi karena aku tidak bisa menanyakan hal ini padanya ataupun orang lain. Hanya rabbit yang tahu jawabannya.
"Tidak! Lepaskan aku! Pergi!" teriakan Dina menyadarkan ku dari lamunan. Dina sudah bangun rupanya. Dia pasti terkejut terbangun dalam keadaan semua gelap. Sedang ada pemadaman listrik sebentar.
Aku bergegas turun, karena suaranya dari arah dapur. Aku juga cemas karena tidak melihat Celena di sekitarku. Ku harap dia tidak menakuti Dina, atau sesuatu yang buruk akan terjadi.
__ADS_1
Dan benar saja dugaanku, tepat saat aku sampai bawah lampu menyala. Dengan begitu aku bisa melihat dengan wajah ketakutan Dina yang diseret paksa oleh kakakku. Aku meminta Celena melepaskan tangan Dina dan menjauh darinya. Baru setelah itu aku menjelaskan padanya.
Selama aku menjelaskan tentang kepulangan Celena, Dina sangat terkejut dan tak percaya. Aku tahu semua orang pasti akan bereaksi yang sama sepertinya, walaupun menurutku agak berlebih sikap Dina.
"Tidak mungkin!" serunya tertahan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya, sementara sorot matanya jatuh tenggelam.
"Apa kau yakin, Celin? Bahwa orang itu memang benar kakakmu, Celena, dan aku bukan orang lain yang meniru dirinya?"
"Tapi, kakakmu sudah..."
"Kakakku masih hidup Dina. Lihat, dia sekarang!"
__ADS_1
Aku tidak ingin berdebat dengan orang yang baru saja sadar dari pingsan. Jadi aku menyuruhnya berbaring kembali dan beristirahat. Saat ibunya Dina kembali, aku dan Celena pun pamit pulang.
Sejak hari itu, Celena semakin tidak mau lepas dariku. Dia terus menempel dan mengikuti kemana pun aku pergi termasuk ke sekolah. Meski aku dan ibuku sudah menjelaskan pada semua orang, tapi cara mereka menatap kakakku aneh seolah tidak percaya.
Begitu juga dengan anak-anak di sekolah, mereka menghindari Celena saat aku meninggalkannya di kantin selama aku masuk kelas.
Tapi Celena sangat patuh kata-kataku. Karena itu aku juga turut membawanya saat aku pergi belajar kelompok dengan Dina dan lainnya. Karena kupikir mereka tidak keberatan dengan kehadiran kakakku selama tidak mengganggu. Celena duduk dengan tenang menonton tv dan makam camilannya. Meski dia masih sulit untuk diajak bicara, tapi dia tidak menjahati orang lain. Karena itu aku tidak khawatir.
Rabbit bilang, tingkahnya seperti itu karena dia baru tersadar setelah tidur panjang. Jadi dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri lagi. Mau tidak mau aku harus percaya kata-kata rabbit karena cuma dia yang paham kondisi kakakku.
Ah, aku lupa meninggalkan buku catatan ku saat belajar kelompok tadi. Aku menyuruh Celena untuk menunggu sementara aku kembali ke tempat tadi untuk mengambil barang ku yang tertinggal. Saat itulah aku mendengar percakapan mereka di belakangku.
__ADS_1