Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
lemari ruang kelas 3-5


__ADS_3

Siapa aku? Kenapa aku ada di sini? Tak ada satupun yang mencariku. Kenapa aku tidak bisa keluar dari tempat terkutuk ini?! Aku tahu aku sudah mati. Tapi bagaimana aku mati aku lupa. yang aku ingat hanya satu nama, Reina. Orang itu pasti tahu segalanya tentang diriku. Mungkin dia orang yang sudah membunuhku. Aku harus mencarinya untuk membalas dendam mungkin dengan begitu aku bisa bebas.


"Reina! Reina! dimana kau?"


Aku memanggilnya, mencarinya disepanjang koridor sekolah, disetiap sudut ruang kelas. Di kolong meja atau kursi, atau di dalam lemari. Aku bahkan memeriksa lokernya setiap hari karena mungkin dia bersembunyi di sana. Dan mencari tahu siapa saja yang pakai loker itu karena bisa saja itu DIA.


Tapi apa yang kulakukan jika aku sudah menemukannya? Aku bisa menakut-nakutinya dulu, lalu mencekiknya sampai tak bisa bicara, lalu mencabik-cabik tubuhnya atau menyeretnya membawanya berkeliling sekolah, pasti menyenangkan.


Tapi apa benar itu yang ingin kulakukan? Apa aku akan bebas jika melakukan itu? Akan kupikirkan lagi setelah aku menemukannya. Aku harus mencarinya dulu! Beraninya dia membuatku menunggu selama ini. Aku akan membuatmu membayar penderitaanku selama ini, Reina!


POV Melya


"Aku di sini, Maiya!"


Begitu mendengar suara Reina dia langsung pergi mencari asal suara itu. Aku juga harus pergi. Aku berusaha bangkit dengan kaki yang masih lemas.


Aku bisa mendengar hantu itu memanggil-manggil nama Reina. Dia terus bergerak mencari sepanjang ruang. Aku meletakkan ponselku di depan microfon di ruang audio. Jadi saat Reina bicara suarannya langsung terdengar di speaker yang terpasang di banyak tempat di bangunan ini.


Hantu itu akan kebingungan mencarinya. Ini memberikan kesempatan untuk pergi ke ruang itu lagi sementara Reina bicara.


Ruang kelas 3-5. Kelas Maiya. Di lemari itu tempat di mana Maiya ditemukan meninggal. Aku membuka lemari itu lagi yang di penuhi sarang laba-laba. Sepertinya lemari ini tidak digunakan dalam waktu lama.


Jika memang tidak digunakan lagi kenapa tidak di buang atau diganti saja? Kenapa dibiarkan terlantar begitu saja di dalam kelas?


Aku mengambil senter kecil dan menyoroti lantai lemari. Dengan menggunakan telapak tangan aku membersihkan debu yang menempel di lantai. Ada sepetak noda berwarna coklat gelap.


Sepertinya dugaanku benar. Aku sudah curiga saat menemukan Riri di sini. Aku mengambil botol air yang tadi ku simpan. Kuharap sisa air di botol air ini cukup untuk membersihkannya. Jika air ini berefek pada Riri, maka seharusnya ini juga mempan untuk membersihkan noda ini.

__ADS_1


"Itu tidak akan cukup untuk membersihkannya." Aku menengok ke belakang. Dan terkejut melihat Angga sudah berdiri di belakang ku.


"Kak Angga?"


"Ini noda darah. Apa ini darah milik makhluk itu?" tanya Angga memastikannya. Aku mengangguk. Angga menyentuh bekas noda darah itu.


"Nodanya sudah berkarak karena sudah terlalu lama. Noda ini tercampur oleh sesuatu. Warnanya tidak wajar," ujar Angga lagi.


"Benar, aku juga merasa begitu. Aura yang terpancar dari noda sama gelapnya dengan aura yang mengelilingi arwah itu. Jadi aku yakin energi yang dimiliki arwah itu berasal dari sini," ujarku menguraikan pendapatku.


"Ada orang yang bermain-main dengan darah mendiang, siapapun itu, ini perbuatan yang sangat buruk."


"Kenapa mereka tidak langsung membersihkannya? Hal ini harusnya bisa dicegah," tanyaku.


"Orang-orang biasanya takut dikutuk atau terkena sial jika mengotak-atik benda yang berkaitan dengan orang yang meninggal. Apalagi kasusnya sempat di usut polisi, mereka tidak berani sembarangan menyentuh lemari ini," duga Angga.


"Sementara aku membersihkan tempat ini, kau berjaga di luar. Awasi makhluk itu agar tidak mendekat ke sini."


Aku mengangguk dan hendak melangkah keluar. Tiba-tiba suara teriakan melengking tinggi menggema, menyakitkan telinga yang mendengarnya.


"Mel, tutup telingamu!"


Aku menutup telingaku rapat-rapat tapi suarannya masih terdengar sampai beberapa detik kemudian meredup.


"Apa arwah itu menyadari kita di sini?" tanyaku.


"Kurasa tidak. Dia hanya kesal tidak bisa menemukan yang dicari. Kita harus cepat membersihkannya sebelum dia melakukan tindakan yang lebih berbahaya lagi," ujar Angga.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan awasi arwah itu."


"Awasi saja! Jangan mendekatinya atau memancingnya!" ujar Angga lagi mengingatkanku.


Dari teras depan kelas, mataku berkeliling mencari keberadaan arwah itu. Aku menemukannya berada di lantai dua. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaan ku disini, atau memang tidak peduli. Saat ini dia hanya tertuju untuk mencari Reina.


Aku tidak mendengar suara Reina lagi di speaker. Sepertinya ponselku mati karena suara teriakan tadi.


Di persimpangan tak jauh dari lokasi hantu itu, seorang wanita muncul. Aku menajamkan penglihatan ku. Itu Reina? Kenapa dia ada di sini? Gawat! Mereka akan bertemu! Reina bisa dalam bahaya! Apa yang harus ku lakukan?


POV Reina


Aku menapaki tangga dan naik ke lantai dua. Bermodalkan senter aku berkeliling memeriksa lorong dan ruang kelas.


Melihat tempat ini yang tak berubah memaksaku ingatanku kembali ke masa itu. Di mana aku menghabiskan waktu bersama Maiya di sekolah.


Maiya adalah anak dari atasan ayahku. Aku harus bersikap baik padanya demi menjaga posisi ayahku. Hidup keluargaku bergantung pada ayahnya dan juga padanya.


Hari itu pertama kali aku bertemu ayahmu. Dia datang menemuiku dan memintaku untuk berteman dengan putrinya. Karena putrinya sangat menyukaiku. Kupikir ini hanyalah tindakan seorang ayah yang mencintai putrinya.


Nyatanya tidak demikian. Alasan kenapa putrinya, Maiya tidak memiliki banyak teman karena sang ayah yang menghalanginya berteman dengan siapa saja. Ayahnya memilah dan menyeleksi siapa saja yang pantas untuk berteman dengan putrinya.


Teman putrinya haruslah membawa pengaruh positif, selalu mengarahkannya berbuat hal yang baik yang tidak akan mencemari nama keluarganya. Dan juga harus bersedia menemaninya hampir sepanjang waktu dalam artian sesungguhnya 'mengawasinya'.


Aku salah satu yang lolos dari seleksi itu. Kebetulan putrinya juga menyukaiku. Selama berteman dengan Maiya, biaya sekolahku ditanggung sepenuhnya bahkan diberikan uang saku setiap bulannya. Sebagai gantinya aku harus melaporkan kegiatannya kepada ayahnya.


Bisa dibilang aku mendapatkan banyak keuntungan sebagai teman bayaran Maiya sekaligus pengawasnya. Tapi aku tidak melakukan ini selamanya. Cepat atau lambat Maiya pasti akan menyadarinya. Meski aku melakukan pekerjaan dengan baik bukan berarti aku tidak bisa melakukan kesalahan. Setiap kali aku bersamanya aku selalu gelisah.

__ADS_1


Setelah belajar dengan giat akhirnya aku mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di SMA unggulan di ibukota. Itu artinya aku akan keluar dari kota ini, menjauh dari Maiya dan keluarganya. Aku tidak perlu lagi bergantung pada ayah Maiya. Meski Maiya tampak tidak senang dengan kabar baik ini, aku tidak perduli. Sebentar lagi aku akan terbebas darinya.


__ADS_2