
POV Melya
"sebenarnya apa hubunganmu dengan kak Angga?" tanyaku.
"Teman. Yah pokoknya aku sudah kenal dia sejak kecil. Aku juga mengenalmu sejak dulu. Mungkin kau lupa?" ujar Laila menjawab pertanyaanku.
"Maaf! Aku tidak ingat. Ingatanku sedikit terganggu sejak kecelakaan," ucapku.
"Tidak apa-apa kalau kau tidak ingat. Kan kita bisa berteman lagi seperti dulu," timpalnya sambil tersenyum.
"Yah aku cuma mau bilang kalau sifatnya memang kadang menyebalkan," lanjutnya. "Tapi dia juga peduli dan perhatian pada orang-orang di dekatnya. Dia juga selalu ada saat kita membutuhkannya. Jadi, jangan terlalu lama bertengkar dengannya," ujarnya lagi
"Angga selalu belajar lebih giat dibandingkan orang lain dan berusaha lebih keras dari siapapun, semua dia lakukan untuk memenuhi tanggung jawabnya. Sikapnya padamu tadi malam semata-mata dilakukannya untuk melindungimu," lanjutnya.
"Aku tahu," ujarku.
"Belakangan ini banyak masalah yang terjadi di sekolah dan juga kota ini. Dan itu cukup membuatnya tertekan. Jadi tidak aneh kalau dia lepas kendali karena emosi," kata Laila.
Kami sudah tiba di ruang guru. Setelah meletakkan buku-buku itu kami melanjutkan percakapan kami.
"Tak kusangka kau mengenal Angga lebih baik dari pada aku," ujarku.
"Tentu saja!" ucapnya bangga. "Karena itu cepatlah berbaikan dengannya lagi. Karena aku tidak suka melihatnya murung," ucapnya lagi sambil menepuk punggungku.
Sepulang sekolah aku berniat menemuinya, tapi ternyata Angga sudah pulang duluan.
Hujan turun lagi dengan derasnya, aku berdiri menatap hujan sambil berpikir sesuatu.
"Melya!" panggil Eli menegurku. "Kau sedang apa?"
"Menunggu hujan." jawabku sambil melihat hujan.
"Bukannya kau bawa payung?" tanya Eli lagi. aku diam sejenak sebelum menjawab.
__ADS_1
"Aku kasihan pada kak Jun dan aku menyesal tidak bisa membantunya. tadi, aku sedang berpikir, tentang gadis bernama Evania yang diceritakan kak Jun. Gadis yang menunjukkannya jalan ke rumah sakit, jika aku benar dia adalah gadis yang sama yang aku temui di gerbang sekolah beberapa hari yang lalu," jawabku. "Mungkin saja jika kita mengikuti gadis itu kita akan menemukan lokasi rumah sakit hantu itu."
"Lalu bagaimana cara untuk menemukan hantu gadis hujan itu?" tanya Eli.
"Dia gadis hujan. Sering menampakkan wujudnya di gerbang sekolah saat hujan. Jadi aku akan menunggu hingga dia muncul."
"Gadis hujan? Hantu yang ramai dibicarakan anak-anak? Kau ingin membututinya?"
"Iya, itu satu-satunya cara untuk menemukan lokasi rumah sakit itu. Hantu itu pasti tahu."
Satu demi satu siswa lain melewati kami, sekolah semakin sepi.
"Kau tidak pulang duluan? Mana Riri?" tanyaku pada Eli.
"Riri ijin pulang cepat hari ini karena kurang sehat. Aku tidak punya teman pulang bareng. kata kepala sekolah kan kita tidak boleh pulang sendirian."
"kau tidak takut?"
"Sepertinya hantu itu tidak muncul hari ini. Ayo kita pulang saja!"
Hujan sudah agak reda meninggalkan rintik kecil. Namun air menggenang di sepanjang jalan. Menimbulkan suara berisik saat kau melangkah. Hal ini membantuku tahu bahwa ada yang mengikuti kami dari belakang.
Selama perjalanan aku pura-pura mengobrol dengan Eli, namun diam-diam aku menelpon Angga. Si penguntit semakin mendekat saat kami melewati jembatan. aku bisa merasakan langkah kakinya yang semakin cepat mendekat. Bahaya!
Aku mendorong Eli ke depan lalu berbalik ke belakang untuk bersiap menghadapi orang itu. Aku menjadikan payungku sebagai perisai dan menghalau serangannya, namun tubuhku sempat terdorong oleh tenaganya.
"Lari! cepat cari bantuan!" teriakku. Eli mengerti dan langsung berlari. karena jika kami berdua sini, kami akan mati tanpa ada yang tahu.
Aku berhasil tepat waktu. Pisau itu menancap dipayung. Aku memantapkan pijakanku agar tidak jatuh terdorong, lalu mendorong balik dirinya.
Siapa orang ini? Dia menutupi dirinya dengan jas hujan hitam. Aku bahkan bisa merasakan niat membunuh yang kuat menekan. Tapi apa salah kami?"
Laila sudah lama memberitahu tentang pembunuhan berantai yang terjadi baru-baru ini. Aku yakin dialah pelakunya!
__ADS_1
Penyerang itu merobek payungku untuk meloloskan pisaunya. Aku segera menutup payung hingga membentuk tongkat panjang berujung runcing. Aku memanfaat ujung payung untuk menyerang wajah si pelaku tepat di mata dan leher.
Refleks dia akan melindungi wajah dengan lengannya sehingga dia tidak bisa menyerangku karena sibuk menangkis seranganku. Saat dia menyerang, aku membuka payung ini kembali dengan cepat untuk menghalaunya. Aku berhasil menjaga jarak antara aku dan si penyerang.
Namun ini tidak bisa berlangsung lama. Dalam waktu singkat saja payungku sudah dipenuhi lubang dan robek disana-sini. Ini adalah pertarungan antara anak-anak dan dewasa yang sangat tidak menguntungkanku secara fisik dan tenaga.
Meski aku berhasil bertahan sejauh ini, aku mulai merasa kelelahan. Belum lagi guyuran hujan membuat tubuhku menggigil kedinginan. Aku juga jadi sulit melihat karena mataku basah tersiram hujan.
Jika aku berbalik pergi sekarang, orang ini bisa dengan mudah mengejarku dan menusukku dari belakang. Terbukti dengan banyaknya luka pada punggung korban itu membuktikan dia memiliki kecepatan yang cukup untuk mengejar kami.
Paling tidak aku harus menumbangkannya lebih dulu sebelum melarikan diri, jadi aku bisa menjauh darinya sebelum dia mengejarku kembali. Tapi bagaimana caraku menjatuhkan tubuh besar ini.
Saat ini kami berdua di atas jembatan. Sepertinya lokasi ini menjadi titik penyerangan si pelaku untuk membunuh korbannya. Selain karena lokasinya yang sepi, ini juga memudahkannya membuangbtubuh korban ke dalam sungai. Apalagi hampir semua murid disekolahku melewati jembatan ini.
Sambil terus mengacungkan payung ke arahnya layaknya pedang, aku tetap menjaga jarak dengannya. Hal ini juga memudahkanku untuk menangkis serangan pisaunya. Tanpa mengalihkan pandanganku darinya aku merogoh isi tasku, mencari sesuatu yang bisa ku gunakan untuk melawannya.
Alat kejut listrik tidak mungkin kugunakan saat ini. Salah-salah aku juga kena. Pulpen? Tidak! Tidak! Terlalu pendek. semptotan merica tidak berguna saat hujan! Haah! Aku harus tenang agar bisa berpikir. Aku harus keluar dari situasi bahaya ini.
Si penyerang masih belum menyerah dan terus mengawasiku.
Aku menatap ke belakang orang itu dan menunjukkan wajah senang, sebuah senyum lega tergurat jelas.
"Akhirnya kakak datang!" ucapku lega. Si penyerang langsung menengok ke belakangnya dan ternyata tak menemukan siapapun.
Di saat yang bersamaan aku mengayunkan tasku yang berisi banyak buku besar ke arah si pelaku, dan menghantam kepalanya dari sisi kanan sehingga tubuhnya oleng ke kiri. Dengan cepat aku memutar payungku dan menggunakan gagang payung yang melengkung itu untuk menarik pergelangan kaki kiri si pelaku, hingga dia hilang keseimbangan.
Sebagai sentuhan akhir aku menendang tubuhnya jatuh belakang. Melihatnya terkapar aku langsung kabur. Tak kusangka aku memiliki bakat akting juga. Rencanaku berhasil meski awalnya aku ragu.
Aku berlari secepat mungkin untuk menjauh darinya. Di luar dugaan dia bangun dengan cepat dan mengejarku. Aku mempercepat lariku. Namun jalanan yang basah membuat kaki terpeleset dan jatuh tersungkur.
Gawat! jika aku terjatuh disini aku akan mati!
Celakanya dia sudah berdiri di dekatku dengan ujung pisaunya siap menghujam ke tubuhku.
__ADS_1