
POV Angga
"Hantu gadis hujan sering menampakkan diri di sungai dan di depan sekolah kalian saat hujan, benar 'kan? Korbannya adalah siswi sekolah kalian dan mayatnya selalu ditemukan hanyut di sungai sehabis hujan. Apakah itu belum cukup membuktikan bahwa dia terlibat dalam kasus ini?"
"Aku pernah bertemu dengannya. Dia terlihat tenang dan baik. Aku juga tidak merasakan energi gelap darinya. Jadi rasanya dia tidak akan melukai siswa sekolah kami," ujar Laila.
"Kau pernah gagal dalam kasus arwah sebelumnya. Kau bilang arwah itu tidak akan melukai para siswa sekolahmu. Tapi apa yang terjadi baru-baru ini? Dua orang murid nyaris menjadi korban. Apa kau masih yakin dengan penilaianmu?" ujar Hans.
"I-itu.." Laila tampak kesulitan membela diri. Bagaimanapun sekolah itu adalah tanggungjawabnya. Karena selama bertahun-tahun keluarganya yang telah menjaga sekolah itu.
"Kejadian itu bukan kesalahan Laila sepenuhnya. Amukan arwah itu dipicu oleh sosok yang berhubungan dengan ingatan semasa hidupnya, sehingga membuatnya jadi agresifi. Masalah itu juga sudah terselesaikan, jadi tidak perlu dibahas lagi," ujarku.
"Itulah yang ingin kusampaikan, Angga. Kita tidak boleh terpaku terhadap penilaian awal kita terhadap 'mereka' karena sikap dan tindakan mereka cenderung berubah-ubah tergantung siapa yang mereka lihat atau siapa yang mereka temui."
"Laila, kau pernah bertemu dengan gadis hujan itu? Kau pasti tahu apa kemampuannya?" tanya Sika
"Dia sering bernyanyi tiap kali menampakkan diri. Mungkin suara. Ini hanya dugaan. Aku belum yakin," jawab Laila.
"Arwah yang bisa menggunakan kemampuan suara lebih berbahaya ketimbang yang normal, karena suara yang dihasilkan bisa mempengaruhi pikiran dan emosi orang untuk melukai orang lain."
"Jadi maksudmu, arwah ini mempengaruhi pelaku untuk melukai korbannya?" tanya Sandy pada Hans.
"Benar, ini pendapatku mengenai kasus ini," sahut Hans membenarkan.
__ADS_1
"Tapi ini baru dugaanmu saja. Kita harus membuktikan benar atau tidaknya sebelum melakukan perburuan dan penangkapan," ujarku.
"Bagaimana cara membuktikannya? Apa kau tahu caranya?" ujar Hans menantang. Kami semua terdiam. Meski begitu kami semua tahu jawabannya.
Penyerangan makhluk ghaib terhadap manusia sudah terjadi berulang kali dari tahun ke tahun, mengikis jumlah manusia yang hidup di kota ini, namun pelaku penyerangan itu tak pernah terungkap.
Seberapa keras kami berusaha, kami tidak menemukan titik terang tentang siapa atau apa yang begitu menginginkan kematian, dari orang-orang yang memiliki mata batin seperti kami.
"Korban akan terus berjatuhan sementara kita dipusingkan mencari bukti yang tidak pernah kita temukan. Mau sampai kapan kita seperti ini? Diam dan hanya melihat tanpa bertindak apa-apa?" Kata Hans.
"Aku sependapat denganmu Hans," kata-kata Sandy mengejutkanku dan Laila. Kupikir dia ada di pihak kami. "Tapi masalahnya hantu yang kau bicarakan itu salah seorang yang di 'rumah sakit hantu'. "
"Rumah sakit hantu?"
"Rumah sakit yang sering muncul dan menghilang tiba-tiba. Penduduk kota ini menyebutnya seperti itu. Jadi kita menyebutnya seperti itu juga. Mereka menangani hal-hal ghaib sama seperti kita." Sika menjelaskan pada Hans.
"Ibuku pernah dirawat dirumah sakit itu, saat itulah aku bertemu dengannya. Dia berdiri mendampingi dokter yang memeriksa ibuku."
"Apa rumah sakit mereka juga menangani manusia?" tanya Sika.
"Kadang-kadang jika sangat darurat. Mereka juga banyak membantu warga kota kita juga. Tidak baik jika kita memancing perselisihan dengan mereka. Apalagi hal ini baru dugaan saja," ujar Sandy menjawab.
Hans kelihatan tidak senang. "Lalu, bagaimana sekarang?"
__ADS_1
"Jika memang benar yang dikatakan Sandy lebih baik kita laporkan hal ini kepada para orang dewasa. Mereka pasti tahu bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang di rumah sakit itu. sementara itu kita serahkan kasus ini ke polisi. Jika pelakunya berhasil tertangkap kita bisa memeriksanya langsung, apakah dia dalam pengaruh makhluk halus atau tidak," ujarku.
"Untuk menghindari jatuhnya korban lagi kami akan memberitahukan pihak sekolah untuk memperketat keamanan disekitar sekolah. Dan memperingati para murid agar tidak melakukan aktifitas sendirian di luar rumah. Kita juga bisa menyuruh beberapa anggota kita turun kelapangan untuk mengawasi secara langsung titik yang dianggap rawan." ujar Laila menambahkan.
Untuk beberapa saat semua terdiam. Dari awal sudah terlihat bahwa kami terpecah dalam dua kubu. Gery, meski tak bersuara hari ini, dia selalu sepaham dengan Hans dan mendukung keputusan Hans. Begitu juga dengan Sika. Tiga lawan tiga, pada akhirnya rapat ini hanya menghasilkan perdebatan.
"Baiklah. Kami akan setuju dengan cara kalian. Selama tidak jatuh korban baru. Jika korban baru muncul, maka saat itu kita akan ambil tindakan keras!" Sika memutuskan dan mengakhiri pertemuan.
"Sementara kalian disini, kalian bisa membantu menangani beberapa surat keluhan itu. Barangkali saja kalian bisa menemukan petunjuk mengenai kasus ini," ucap Sika sambil menunjuk tumpukan surat yang menggunung. "Kami akan pergi menangani kasus lain."
Setelah itu mereka pergi meninggalkan kami bertiga di dalam ruangan dengan setumpuk kertas. Pada akhirnya mereka hanya ingin menyuruh kami bekerja. Menjadi anggota paling muda itu memang tidak menyenangkan!
"Ayo mulai bekerja!" ucap Laila menyemangati diri sendiri. Aku tahu dia kesal. Sandy tidak ingin mengeluh apapun lagi. Dia terlihat kelelahan.
Entah kenapa aku punya firasat buruk mengenai kasus ini. Hans memang memiliki sifat kasar dan suka seenaknya. Tapi intuisinya tajam dan firasatnya hampir tak pernah salah. Aku mulai memilah-milah tumpukan surat itu. Sika mungkin benar, aku bisa dapatkan petunjuk dari surat-surat ini.
"Beberapa hari yang lalu aku kedatangan tamu asing yang tiba-tiba masuk ke rumahku tanpa izin." Laila mulai membaca surat-surat itu.
"Dia sering duduk bersama kami di meja makan dan menonton tv bareng keluargaku. Sayangnya tidak ada Keluargaku yang menyadari itu. Lalu hari-hari berikutnya Makhluk itu membawa teman-temannya masuk ke dalam rumahku. Dan sekarang rumahku penuh oleh mereka. Tolong bantu aku usir mereka dari rumahku. Aku bahkan kesulitan keluar dari kamarku."
Laila melempar surat itu seolah masalahnya sudah selesai. Aku dan Sandy menatapnya dengan tanda tanya.
"Dia dapat anggota keluarga baru, kenapa harus diusir? Bukankah seharusnya dia membuat pesta penyambutan untuk anggota baru. Dan lagi berapa lama anak itu tinggal di kota ini? Bukankah seharusnya dia sudah tahu keadaan kota kita seperti apa?" ujar Laila.
__ADS_1
Aku hanya bisa tersenyum mendengar kata-katanya. Sandy menggelengkan kepala.
Laila pasti juga lelah dan tertekan meski tidak sering mengeluh. Dia sudah disibukkan dengan tugas sekolah dan tugas sebagai dewan siswa di sekolah ditambah lagi tugas organisasi.