Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Awal Mula Pertemuan Mereka


__ADS_3

ini cerita terjadi 17 tahun yang lalu.


"Sedikit lagi!" Seru seorang gadis menyemangati dirinya sendiri. Dia sedang mengulurkan tangannya sejauh mungkin untuk mengambil seekor kucing yang terjebak di dalam puing pipa besi dan kayu.


Tadinya dia berniat pergi ke lapangan bermain. Saat dia melewati sebuah gedung yang sedang di bangun, dia mendengar suara anak kucing mengeong.


Anak kucing itu terjebak. Dirinya merasa terpanggil untuk menyelamatkannya. Dia merasa kasihan. Diam-diam dia menyusup ke dalam dan menyelamatkan anak kucing itu. Namun tangannya terlalu pendek tidak bisa menjangkaunya. Kayu dan pipa besi juga menghalanginya.


"Kau sedang apa?" Tanya seorang anak laki-laki yang tiba-tiba muncul.


"Aku akan masuk ke dalam dan menyelamatkan kucing itu." Ucap gadis kecil itu menunjuk ke dalam.


"Aku akan membantumu." Anak laki-laki itu mengangkat pipa-pipa besi kecil yang menghalangi. Sementara anak perempuan itu menyusup ke dalam mengambil anak kucing itu.


"Cepatlah!" Seru anak laki-laki itu.


"Tunggu sebentar!" Sahut anak perempuan itu merangkak ke luar sambil menggendong kucingnya.


"Guk! Guk! Guk!" Seekor anjing tiba-tiba menggonggong. Karena kaget anak itu melepaskan pegangannya dan menjatuhkan pipa besi itu. Sedangkan anak perempuan itu belum berhasil keluar.


"Aah!" Seru si anak perempuan kaget. Sebuah tangan yang besar berhasil menahan pipa-pipa itu sebelum jatuh menimpaku gadis kecil yang malang itu.


"Apa yang dilakukan anak-anak nakal ini di sini." Teriak laki-laki dewasa itu marah-marah. Dia seorang pengawas proyek. Kedua anak itupun dimarahi habis-habisan. Nasib yang sama juga di alami para pekerja proyek yang tidak mengawasi tempat itu dengan benar.


Setelah habis di marahi mereka disuruh pulang ke rumah.


"Ga boleh. Pokoknya mama gak izinin kamu merawat kucing, Melya." Larang ibunya, saat dia membawa pulang kucing ke rumahnya.


"Tapi mah, kucingnya kasihan." Melya berusaha membujuk ibunya lagi.


"Kamu punya penyakit asma. Gimana kalau penyakitmu kambuh. Lagian nanti juga kamu pasti sibuk main daripada mengurus kucing itu. Biar saja orang lain yang memungutnya." Keputusan ibunya sudah final. Melya menyerah. Dia keluar rumah dengan lesu.


"Tetep gak boleh ya?" Tanya anak laki-laki yang sejak tadi menunggunya di luar rumah bersama anak kucing itu. Melya menggeleng sedih.


"Oh!" Melya baru ingat dia ingin ambil kotak obat dirumah untuk mengobati kucing itu. Tanpa sepengetahuan ibunya dia mengambil obat cair dan perban.


Melya membalut luka pada kaki depan kucing itu. Meski terlihat berantakan tapi dia puas dengan usahanya. Mereka berdua membuat rumah kucing semetara dari potongan kardus. Dan diletakkan tidak jauh dari rumah Melya.


Melya menyusup lagi ke dalam rumah dan mengambil secangkir susu untuk si kucing. Melya tersenyum memperhatikan anak kucing itu meminum susunya.


"Mulai sekarang kita teman." Ucap Melya sambil mengusap kepala kucing itu lembut.

__ADS_1


"Kamu suka sekali kucing?" Tanya anak laki-laki itu memperlihatkan keduanya.


"Heem!" Melya mengangguk, "Mereka lucu 'kan."


"Oh ya aku belum tahu namamu. Kamu baru pindah?" Tanya Melya pada anak itu. Ini pertama kalinya dia melihat anak itu di lingkungan sini. Bisa jadi dia baru pindah.


"Namaku Ello, aku datang bersama mama dan adikku. Kami sedang bermain ke rumah pamanku di sini." Jawab anak laki-laki itu memperkenalkan dirinya.


"Ah, aku Melya." Melya memperkenalkan dirinya.


"Mel!" Nana temannya menghampiri mereka. "Lama banget di tungguin! Katanya mau ikut main."


"Ah, iya! Aku lupa!" Melya akhirnya ingat rencana awalnya keluar rumah.


"Ayo cepetan!" Ajak Nana.


Melya berlari mengejar Nana. Baru beberapa langkah Melya berhenti dan menengok ke belakang.


Dia balik lagi dan menarik tangan Ello, "Ayo ikut main sama kami." Ajak Melya riang, tanpa menunggu persetujuan Ello. Ello yang terkejut tak bisa berkata apa-apa lagi.


Melya memperkenalkan Ello ke teman-temannya. Mereka menghabiskan waktu bermain bersama sampai sore. Melya memang suka lupa waktu kalau sudah bermain ditambah lagi dapat teman baru.


Setelah kelelahan mereka merebahkan diri di lapangan sambil menikmati minuman dingin yang dibagikan Ello.


"Hahaha, iya Lo. Kalau bukan Melya yang nyari gak bakal ketemu tuh." Timpal temannya yang lain.


Merasa namanya disebut Melya berdiri dan membusungkan dada dengan bangga. Hampir semua permainan hari ini dimenangkan olehnya. Teman-temannya memberi tepuk tangan. Ello tertawa senang. Selama ini dia belum pernah menemukan lawan bermain yang sepadan selain ibunya.


Permainan hari itu berakhir. Anak-anak kembali ke rumah. Ello juga pamit pulang. Dia janji akan main lagi kalau libur.


"Jangan lupa makanan yang banyak kalau ke sini lagi!" Seru Melya mengantar Ello dan mamanya pergi.


"Jangan berkata seperti itu! Tidak sopan." Sang ibu yang mendengar anaknya berbicara seperti itu menarik telinganya.


"Aduh! Sakit mah!" Keluh Melya.


Ello yang mendengar dari dalam mobil tertawa. Dia muncul dari jendela mobil dan berseru ke Melya, "Aku akan bawa makanan yang banyak. Jadi tunggu aja. Aku pasti datang lagi."


.


"Ello, jangan keluar tiba-tiba begitu! Bahaya!" Ello juga tidak lolos dari kemarahan ibunya. Hari itu Ello sangat senang, bertemu dengan Melya dan teman baru. Dia tidak sabar menunggu hari libur berikutnya.

__ADS_1


Sejak hari itu Ello sering datang berkunjung. Tapi hari ini mungkin tidak bisa bermain karena Melya dan anak-anak TK SIMPONI akan berwisata ke kebun binatang.


"Kenapa mama gak ikut? 'kan mama udah janji." Melya menangis kecewa karena ibunya ingkar janji.


"Melya sayang, mama harus antar papa dulu ke bandara. Mendadak papa harus keluar kota. Jadi pergi duluan naik bus nanti mama nyusul pakai mobil habis nganter ya." Ibunya coba membujuk, tapi Melya tetap kesal dan pergi dengan marah.


"Ma, kamu susul aja Melya. Nanti papa naik taksi aja. Gak biasanya Melya begitu. Papa jadi cemas." Ucap ayah Melya, cemas melihat anaknya yang biasa menurut bersikap seperti itu.


"Duh, papa ini kayak gak tau Melya aja. Paling juga ketemu temen-temennya nanti dia langsung seneng lagi. Papa gak perlu cemas. Mending sekarang cepetan berangkat biar mama cepet nyusul Melya." Ucap ibunya sambil mendorong pelan suaminya ke pintu.


Ternyata di depan pintu mereka bertemu Ello dan ibunya juga adiknya.


"Oh, Ello mau ketemu Melya ya?" Karena Ello sudah sering main. Kedua keluarga itu pun jadi akrab.


"Iya mbak win, maaf ya ganggu pagi-pagi Ello udah ribut aja nih minta diantar ke sini." Jawab ibunya Ello.


"Wah, Melya nya baru aja pergi. Hari ini TK nya ada wisata bersama ke kebun binatang." Jawab ibunya Melya.


"Mah, kita pergi juga yuk ke kebun binatang. Nanti pasti ketemu mereka." Pinta Ello pada ibunya.


"Tapi.." ibunya Ello ragu-ragu takutnya mengganggu acara mereka.


"Gak apa-apa kok kalau mau ikut juga. Melya juga pasti senang." Ucap ibunya Melya.


"Mbak win gak ikut?" Tanya ibunya Ello.


"Saya mau antar suami dulu. Nanti buru nyusul." Jawab ibunya Melya.


"Kalau gitu kami duluan menyusul mereka." Ucap ibu Ello pamit.


Kebetulan bus nya baru berangkat. Jadi mereka menyusul, mengikuti dari belakang.


"Ah itu busnya, mah!" Ello menunjuk ke bus itu senang.


Namun tak lama kemudian bus itu oleng dan keluar dari jalur. Bus itu kehilangan kendali, masuk ke dalam hutan menabrak pohon besar.


Suara hantaman keras mengejutkan semua orang. Bus itu ringsek dan terbalik.


Ello yang menyaksikan kejadian itu dari dalam mobil berteriak dengan panik.


"Melya!"

__ADS_1


Sesosok wanita cantik terlihat asik menonton kejadian itu.


"Hem, aku tau kalau kedua anak itu akan segera mati. tapi siapa sangka yang perempuan malah pergi lebih dulu." Ucapnya dari atas pohon. Sementara angin mengibarkan perban putih yang terikat di tangannya.


__ADS_2