Diikuti Makhluk Ghaib

Diikuti Makhluk Ghaib
Siluman Serigala


__ADS_3

Makhluk buas itu langsung melompat ke arahku dan langsung menimpaku. Aku jatuh terbaring di tanah dengan serigala tepat berada di atas ku.


Serigala itu menggunakan kedua lengan nya yang berbulu untuk menopang tubuhnya agar tidak membebani tubuhku. Meski begitu keadaanku tidak lebih baik, karena aku tepat berada dibawahnya.


Moncongnya yang panjang terbuka dan menunjukkan deretan taring tajam yang siap mengoyak tubuhku. Mulutnya yang terbuka itu tepat di depan wajahku seolah siap melahap kepalaku. Mata membelak ngeri.


"Aaaakh!" Aku teriak ketakutan menyadari keadaanku saat itu. Aku memejamkan mataku namun kedua tanganku melawan memukuli makhluk itu. Aku memberontak dan berusaha mendorongnya dari atas tubuhku.


Serigala itu lompat menjauh dariku. Aku nyaris kehabisan nafas karena panik.


"Melya!" Suara Dina dan Lisa memanggil namaku. Mereka berdua menyusulku. Serigala di depanku kabur.


Kedua anak itu muncul dan melihat ku keheranan.


"Melya? Kamu gak apa-apa?" Dina membantuku berdiri.


"Apa itu tadi?" tanya Dina menanyakan makhluk yang kukejar tadi.


"Serigala! Aku melihat serigala!"


"Apa? Dimana?" tanya Lisa ketakutan sambil bersembunyi di berbagai Dina.


"Dia sudah pergi sekarang," jawabku mendatang kosong ke arah serigala itu kabur.


"Aaah!" teriak Lisa tiba-tiba mengejutkan aku dan Dina.


"Ada apa? Kenapa teriak?" tanyaku kebingungan.


"I-itu! Di tanganmu-" jawabnya terbata-bata sambil menunjuk tangan kiriku. Aku mengikuti pandangan matanya.


"Aah!" sekarang giliran aku yang panik. "Celaka! Bagaimana ini?" Aku melihat boneka yang tadi ku bawa nyaris berantakan tak karuan. Tadi, saking paniknya aku sampai menggunakan boneka di tanganku sebagai senjata untuk memukul serigala itu.


"Apa bisa diperbaiki?" tanyaku sambil menunjuk boneka itu pada Lisa.


"Coba kulihat!" pinta Lisa hendak mengambil boneka itu. Saat aku menyerahkannya, kepala bonekanya malah putus.


"Yaaa, kepalanya putus!"


"Kamu apakan bonekanya Samoa jadi kayak gini Mel?" tanya Dina heran.


Aku cuma bisa nyengir sambil garuk-garuk kepala. Tak lama kemudian orang-orang dewasa menemukan kami dan membawa kami kembali ke tenda kami.


Aku menceritakan kejadian yang kami alami.

__ADS_1


Pak guru berkata bahwa aku mungkin hanya sedang bermimpi sambil berjalan. Aku tak ingin bersikeras tentang hal ini jadi aku biarkan saja.


Lisa sudah berhasil memperbaiki boneka itu. Kami bertiga memutuskan untuk pergi ke air terjun dan mengembalikan boneka itu kembali. Hari ini anak-anak bebas melakukan kegiatan apa saja. Kami memanfaatkan hari bebas ini untuk pergi.


Saat kami tiba di air terjun, suasananya sepi tanpa ada satupun orang selain kami. Aku meletakkan kembali boneka itu ke dalam air.


"Apapun yang telah kamu bawa tanpa sengaja telah kami kembalikan ke tempat asalnya. Siapapun pemilik benda tak bertuan ini ambillah dan jangan mencari kami kembali. Tidak ada lagi hutang di antara kita."


Aku diam sejenak memperhatikan boneka itu mengapung. Lalu perlahan menghilang di telan air. Sepertinya aku berhasil mengembalikannya. Kami bertiga beranjak pergi dari tempat itu.


Namun, baru beberapa langkah, sesuatu mengenai kepala belakangku.


"Au!" pekikku kaget sambil mengusap kepalaku. Aku berbalik dan melihat boneka itu di dekat kakiku.


"Ba-bagaimana ini? Sepertinya mereka menolak untuk menerimanya," ujar Lisa.


Aku memungut benda itu kembali.


"Aneh, padahal tadi kukira sudah berhasil," gumamku.


Aku memperhatikan sekitar air terjun. Aku terjun ke dalam sungai.


"Melya! Kamu ngapain?" seru Dina bertanya.


Aku ingat dibalik air terjun ini ada dinding batu. Dan diantara dinding batu ini ada gua kecil. Aku sedikit berjongkok memeriksanya, namun tidak terlihat apapun di dalamnya.


"Gelap sekali. Apa harus kuletakkan bonekanya di sini?" ucapku pada diri sendiri. Aku menjulurkan tanganku dan meletakkan boneka itu ke dalam gua.


Namun saat aku hendak menarik tanganku kembali, seseorang menahannya dan memegang pergelangan tanganku. Saat itulah sebuah ingatan mengalir kedalam pikiranku seperti air.


Dalam ingatan itu aku melihat seorang gadis kecil yang berada di tepi sungai sedang mencoba mengambil boneka itu yang terjatuh ke dalam sungai. Namun naas tubuh kecil yang malang itu terjatuh ke dalam sungai dan terbawa arus.


Apa gadis kecil itu pemilik aslinya? Ingatan itu terputus sampai di situ. Aku berjongkok melihat kedalam gua. Sepasang mata emas bercahaya itu sedang menatapku. Apa dia sedang mencoba menyampaikan sesuatu lewat pikiran?


Aku masih belum paham maksud dari ingatan yang diperlihatkannya padaku. Namun satu hal yang pasti dia tidak bermaksud menyakitiku.


"Apa aku sudah boleh pergi?" tanyaku.


Aku menarik kembali tanganku setelah dia melepaskannya. Sesosok tangan yang dipenuhi bulu berwarna abu-abu mengambil boneka yang ku letakkan tadi.


Kami bertiga pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke perkemahan. Beberapa siswa masih sibuk berfoto-foto.


Kami berpapasan dengan seorang guru yang sedang berbicara dengan pria tua. Pak guru mengenalkan kalau pria itu penduduk asli sini. Mereka sedang membicarakan kejadian yang dialami tadi malam.

__ADS_1


"Kami minta maaf kau mengalami kejadian buruk semalam, tapi syukurlah tidak terluka," ucak pak tua itu.


"Tidak apa-apa, Pak. Apa dulu memang ada kelompok serigala sekitar sini?" tanyaku.


"Dulu sekali memang ada, tapi sekarang sudah punah karena perburuan. Kami tidak pernah melihat makhluk itu lagi di sekitar sini. Kami sudah menyuruh beberapa orang untuk berjaga di sekitar perkemahan. Dan beberapa orang lainnya sedang memeriksa sekeliling untuk mencari serigala itu," jawab pak tua itu.


"Pak, apa di sini pernah ada anak perempuan yang tenggelam di sekitar sungai?" Ekspresi pak tua itu sedikit berubah saat kutanyakan itu.


"Kejadian seperti itu pastinya banyak terjadi. Tapi pak tua ini tidak tahu kejadian mana yang adik maksud, kenapa menanyakannya? ujar pak tua balik bertanya.


"Bukan apa-apa, pak. Kami cuma asal mendengarnya saja," jawabku. "Kami pergi dulu." Kami pamit pergi.


 


\*


 


Kami bertiga menelusuri jalan setapak yang lenggang dan panjang. Malam berawan karena itu bukan tak nampak. Pepohonan di kiri-kanan jalan tampak seperti orang yang sedang berbaris mengawasi kami.


Burung hantu yang bertengger di atas pohon bersenandung menemani perjalanan kami. Aku memimpin jalan di depan sementara Lisa dan Dina mengikutiku di belakang.


Terdengar suara di semak-semak. Aku menyoroti senterku untuk memeriksanya. Sesuatu terlempar dan tanpa sengaja tertangkap oleh Lisa. Saat kami melihat kembali benda apa itu, Lisa menjerit ketakutan.


"Aaaakh!"


Belum hilang kagetnya, kami dikejutkan sesosok tengkorak terjatuh dari atas pohon mengantung di udara.


"Aaaakh!" Lisa kabur ketakutan dan meninggalkan kami berdua.


Aku memukul tengkorak itu. Tengkorak itu bergoyang-goyang terikat di dahan pohon.


"Hebat! Tengkorak plastik ini berhasil menakuti Lisa sampa kabur begitu."


"Mel!" Dina memanggilku.


"Hem" sahutku tanpa menoleh padanya.


"Lisa lari sambil membawa tangan buntung tadi." Dina memberitahu.


"Haaah??!" Pekikku kaget.


"Apa dia akan baik-baik saja?"

__ADS_1


__ADS_2