
Bab 95
POV Dina
Pi-pi-pi!
Suara alarm menyusup masuk dalam mimpiku. Sontak aku langsung terbangun, dan saat aku membuka mata sosok itu telah menghilang dari kamarku.
Nafasku memburu seperti habis berlari sangat lama, sementara keringat menetes dari sisi wajahku.
Aku bergegas menyingkap tirai yang menutupi jendela kamarku, masih terkunci seperti saat aku tinggalkan. Aku lega semalam hanya mimpi.
"Dina! Cepat bangun! Hari ini kau ada kelas tambahan 'kan?" Suara ibuku memanggil dari ruang makan di bawah.
"Ya, Bu!" sahutku.
"Cepat bersiap, lalu turun ke ruang makan!"
Aku mulai dihantui mimpi buruk sejak aku menyaksikan rumah itu terbakar. Saat itu umurku baru 8 tahun, dan hari itu sedang panasnya. Bangunan dua lantai itu terbungkus api sepenuhnya hingga aku pesimis ada orang yang berhasil selamat dari kebakaran itu. nyonya pemilik rumah beruntung karena sedang menunggui suaminya di rumah sakit, tapi tidak untuk anak mereka.
Beberapa bulan kemudian pemiliknya merenovasi rumah itu persis seperti semula, seolah kebakaran itu hanya ilusi dan tak pernah terjadi.
Aku turun menemui orangtuaku di meja makan.
"Ada apa dengan wajahmu? Apa kau sakit?" tanya ibuku cemas. "Kalau kau tidak enak badan ibu akan bilang ke gurumu kalau kau tidak bisa mengikuti kelas tambahan hari ini."
"Dina harus ikut kelas tambahan ini, atau dia tidak akan naik kelas," ujar ayah sambil meletakkan koran yang sejak tadi di bacanya. Lalu beralih menatapku. "Ada apa? Kemarin kau baik-baik saja. Apa mengikuti kelas saat liburan membuatmu tertekan?"
"Tidak ayah. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit mimpi buruk semalam," jawabku.
"Mimpi buruk?" ujar ibu bertanya sambil meletakkan sarapanku di meja.
Aku menarik nafas panjang sebelum menjawab. "Aku bermimpi buruk tentang rumah sebelah kita itu lagi, Bu."
"Dina, berapa kali ibu bilang padamu, rumah itu baik-baik saja. Setelah renovasi, rumah itu tampak normal bahkan lebih bagus dari rumah kita. Rumah itu juga tidak kosong, masih ada penghuninya. Jadi berhenti berpikir itu rumah hantu atau kau akan terus mimpi buruk." Ibu memarahiku, sama sekali tidak terlihat cemas.
Ibu tidak mengerti betapa takutnya aku dengan rumah itu, dan penghuninya yang jarang menampakkan diri. aku diam mengabaikan omelan ibuku.
Setelah menghabiskan sarapan, aku langsung berangkat. Sekolahku hanya berjarak sekitar dua puluh menit berjalan kaki. Aku menjemput Lisa di rumahnya yang berbeda dua blok dari rumahku.
__ADS_1
Ini hari pertama kami ikut kelas tambahan. Aku berjanji menemui Riri dan juga Eli di kantin sebelum kelas di mulai. Aku menyapa mereka yang sudah datang lebih dulu di kantin.
Sekarang adalah masa libur panjang sekolah, tapi kami berempat dan beberapa anak lain tidak beruntung karena terpaksa ikut kelas tambahan selama dua minggu.
Aku dan Lisa memang tidak pintar dalam hal pelajaran jadi tidak aneh jika kami ikut kelas tambahan, sedangkan Riri dan Eli mereka tertinggal pelajaran selama mereka di rawat di rumah sakit.
Sekolah kami cukup ketat soal akademik. Siswa yang nilainya di bawah standar kenaikan kelas wajib ikut kelas tambahan dan ikut ujian ulang di akhir pekan.
Melya beruntung karena memiliki Angga untuk membantunya belajar. Angga salah satu siswa dengan nilai terbaik di sekolah.
Selama seminggu sebelum ujian Melya belajar di rumah tanpa boleh keluar. Di telpon dia mengeluh pada kami karena harus mengerjakan banyak soal yang membuat kepalanya terasa pecah.
Meski begitu dia berhasil lolos dengan nilai pas-pasan. Sekarang dia sedang menikmati liburannya di luar kota. Sama seperti anak-anak lainnya. Karena itu di saat liburan sekolah seperti ini kota terasa sepi ditinggalkan penghuninya.
"Ahh! Kalau saja aku punya sesuatu yang bisa mengabulkan permohonan. Akan ku minta di tiadakan kelas tambahan saat liburan dan tambah hari libur," keluh Lisa lesu.
Benda seperti itu mungkin saja memang ada. Kalau dipikir-pikir, sesuatu yang tidak mungkin ada selalu muncul di kota ini.
Tiba-tiba Riri mencondongkan tubuhnya, lalu bicara pelan setengah berbisik. "Kalian tahu apa yang sedang ramai dibicarakan anak-anak di sekolah belakangan ini? Di ruang kerajinan tangan katanya ada boneka yang hidup dan busa bicara saat malam hari."
"Menakutkan! Apa dia sama jahatnya seperti yang ada di film-film horor?" tanya Lisa.
"Sungguh?" mata Lisa mulai berkilat antusias.
"Benar. Tapi harus anak-anak yang memohon. Tidak bisa orang dewasa. Mungkin karena itu wujudnya boneka," lanjut Riri.
"Beberapa anak sudah coba mencarinya. Tapi belum ada satupun yang berhasil menemukannya. Aneh 'kan?"
Justru aneh kalau benda seperti mudah ditemukan. Kalau pun ada yang menemukannya, mereka pasti akan menyembunyikannya untuk mereka miliki sendiri.
"Bagaimana kalau kita coba mencoba mencarinya juga?" ajak Lisa bersama.
Aku dan Eli saling menatap beberapa detik. Sepertinya apa yang dipikirkan Eli sama denganku.
"Jangan membuat masalah, Lisa. Kau tahu betapa sepinya kota ini sekarang. Jika sesuatu yang buruk terjadi siapa yang akan membantu kita," ujarku.
"Tapi katanya dia tidak jahat. Kupikir kita akan baik-baik saja," ujar Lisa.
"Hanya karena orang-orang bilang dia baik, bukan berarti dia benar-benar baik. Bayangkan jika ada hantu muncul di depanmu dan bilang padamu bahwa dia hantu baik dan ingin berteman denganmu. Apa kau akan langsung berteman dengannya begitu saja?" ujarku.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak ingin berteman dengan hantu. Kenapa kau mengumpamakan hal menakutkan itu?!"
"Karena kau baru akan paham kalau aku memberi contoh seperti itu. Lagipula aku yakin boneka itu pasti dirasuki hantu atau semacamnya. karena boneka normal tidak mungkin bisa bicara.
"Dina benar. Kota ini baru saja terasa tenang sebentar setelah melewati kejadian yang mengerikan. Sebaiknya kita tidak terlibat hal aneh lagi," ujar Eli.
Semua diam setuju dengan yang dikatakan Eli. Belum lama kami mengalami hal-hal menakutkan. meski kami cukup beruntung bisa selamat, kami tidak ingin mengalaminya lagi kalau bisa.
Kami melanjutkan sarapan kami di kantin. karena tadi aku sudah sarapan, aku hanya membeli beberapa cemilan ringan sambil menemani mereka.
"Ah sial! Aku mau ke toilet. Ada yang mau ikut?"
"Ini masih pagi, Lisa! Hantu mana yang mau muncul pagi-pagi begini. Pergilah sendiri!" sahutku.
"Dasar jahat! Kau menyuruhku pergi sendiri setelah menyumpahi ku bertemu hantu tadi!" gerutu Lisa padaku.
"Aku tidak menyumpahimu!" Dia tidak mendengarkanku karena langsung berlari pergi. Sepertinya dia sudah tidak tahan lagi.
"kita harus membuat kelompok belajar seperti anjuran guru. Minimal satu kelompok berjumlah lima orang. Dan bebas dari kelas mana saja," ujar Eli.
"Kita baru berempat, kurang satu anggota lagi, apa kalian punya saran?" ujar Riri. Kita semua terdiam. Karena kami tidak terlalu akrab dengan siswa lain selain kami berempat. Kalaupun ada, mereka pasti sudah membuat kelompoknya sendiri.
Sampai waktunya masuk kelas, Lisa masih belum kembali dari toilet.
"Sedang apa dia di toilet? Kenapa lama sekali?" ujarku menggerutu.
"Ayo kita susul dia! Sekalian masuk kelas." ajak Eli.
Saat kami hampir sampai di toilet, teriakan Lisa mengejutkan kami. Terlihat Lisa keluar toilet dengan ketakutan sampai terjatuh. Kami berlari menghampirinya.
"Lisa, ada apa?" tanyaku khawatir melihat dia ketakutan seperti itu. Lisa menunjuk ke dalam toilet.
Aku memberanikan diri untuk memeriksa ke dalam. Toilet tampak gelap. Aku meraba dinding untuk mencari saklar lampunya. Sialnya lampunya tidak menyala, sepertinya rusak.
Pintu toilet tengah berderit terbuka dan seseorang mengenakan seragam sekolah kami melangkah keluar dari kamar toilet itu. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena gelap. Saat dia melangkah maju ke arahku reflek aku mundur menjauh keluar toilet.
Riri dan Eli menatapku bertanya. Aku berpaling ke arah siswi yang baru saja keluar dari toilet. Matanya menatap dingin dan bibirnya tanpa ekspresi. Sebagian wajahnya rusak mulai dari pelipis hingga pipi dan hampir mengenai mata. Luka diwajahnya terlihat mengerikan. Dan cara dia melihat kami membuat kami diam ketakutan.
Aku adalah satu-satunya orang yang mengenalinya. Lututku gemetar namun ku tahan. Aku tidak menyangka akan melihatnya di sini.
__ADS_1
"Ce-lin...?"